IHSG-Rupiah Genting! Efek MSCI Berlanjut, BI Siap Umumkan Suku Bunga
Sentimen Pekan Depan
Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
18 October 2026 19:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia akan menghadapi pekan genting. Efek MSCI masih akan berlanjut ditambah dengan pengumuman kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
Indes Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 11,57% ke level 5.199,96 pada perdagangan Jumat (16/10/2026) menjadi penurunan harian terdalam dalam 28 tahun terakhir atau sejak krisis moneter 1998.
Tekanan kali ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Kekhawatiran terhadap dampaknya pada aliran dana asing turut membayangi perdagangan saham domestik dan nilai tukar rupiah.
Efek MSCI ke Saham Diperkirakan Berlanjut
Equity Analyst Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus memperkirakan tekanan masih akan berlanjut pada pekan depan diiringi dengan aksi jual asing.
"Dalam jangka pendek, IHSG berpotensi melanjutkan koreksinya setelah breakdown support dan mengalami trading halt di awal sesi hari ini dengan target koreksi 4,938-4,987," ujarnya epada CNBC Indonesia dikutip Minggu (18/10/2026).
"Aksi jual asing berpotensi berlanjut dengan YTD: Rp84.85 triliun dengan net foreign sell intraday 16 Oktober 2026 sebesar Rp2.92 triliun," sambungnya.
Menurutnya, katalis pemulihan sentimen dapat dibuktikan dengan perbaikan tata kelola yang terukur dan konsisten, khususnya dalam keterbukaan kepemilikan, penegakan aturan perdagangan, dan akurasi free float.
"Ke depan, V-Shape recovery berpotensi terjadi akibat terbentuknya gap di area 5,804 setelah katalis pemulihan mulai direspon positif oleh pasar," ucapnya.
Nilai Tukar Rupiah Bisa Memburuk
Di sisi lain, nilai tukar rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih akan mendapatkan tekanan.
Revo pun memperkirakan untuk satu bulan ke depan, pergerakan rupiah berada di rentang Rp17.724-Rp18.499/US$ dengan keungkinan mencapa 74.9%. Sementara dengan rentang satu standar deviasi untuk satu minggu ke depan, sebesar Rp17.889-Rp18.280 dan tingkat kemungkinan 77%.
"Apabila ketidakpastian MSCI berlanjut dan memicu tambahan arus keluar modal, tekanan terhadap rupiah berpotensi bertahan di tengah DXY yang saat ini stabil di atas angka 100," ujarnya.
Di sisi lain, Chief Economist Bank Permata Josua Pardede pengumuman MSCI meningkatkan risiko pelemahan rupiah yang dimana tekanan ini terutama dipengaruhi potensi arus modal asing keluar dari pasar saham, tingginya suku bunga Amerika Serikat, serta kenaikan harga minyak dunia.
Namun, Namun, stabilisasi oleh Bank Indonesia dan percepatan reformasi pasar modal oleh OJK dan BEI dapat membantu memulihkan kepercayaan investor.
"(Hal ini) membuka peluang penguatan rupiah menuju Rp17.900-18.100 per dolar AS apabila kondisi pasar membaik," katanya kepada CNBC Indonesia dikutip Minggu (18/10/2026).
Pengumuman Kebijakan Suku Bunga BI
Bank Indonesia akan melakukan Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober 2026. Saat ini, suku bunga BI tercatat di 5,75%.
Investor sangat mencermati keputusan suku buga BI dalam merespon berbagai gejolak dari dalam maupun luar negeri.
Dari luar negeri, proyeksi kenaikan suku bunga The Fed semain kencang. Philip Blancato, Kepala Strategi Pasar Osaic, mengatakan kepada CNBC bahwa data tersebut membuat peluang perubahan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada Desember kembali terbuka lebar.
Ia juga memperkirakan inflasi inti berpotensi mencapai 3% pada tahun depan, seiring dampak kenaikan harga minyak.
Laporan inflasi tersebut dirilis ketika harga minyak masih tinggi dan konsumen harus membayar lebih mahal untuk bensin. Menurut AAA, harga bensin rata-rata mencapai US$4,33 per galon, dibandingkan sekitar US$3,08 per galon setahun sebelumnya.
Hal ini dipengaruhi oleh Indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS) naik 0,6% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September, dengan kenaikan tahunan mencapai 3,7%. Angka bulanan sesuai dengan ekspektasi, tetapi inflasi tahunan lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yakni 3,6%.
Sementara dari dalam negeri, pengumuman MSCI dapat memantik perpindahan arus modal portofolio dari dalam ke luar negeri.
Kepala Ekonom Bank Permata Joshua Pardede melihat risiko pelemahan rupiah masih cukup besar apabila investor asing terus mengurangi kepemilikan saham Indonesia sebelum keputusan akhir MSCI pada Juni 2027.
"Dalam jangka pendek, Bank Indonesia perlu memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi pasar valuta asing secara terukur, mengoptimalkan transaksi lindung nilai, serta menjaga kecukupan likuiditas perbankan agar tekanan pasar saham tidak meluas menjadi gangguan stabilitas keuangan," tuturnya dikutip Minggu (18/10/2026)
Joshua pun mengatakan bahwa ada baiknya Bank Indonesia mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap tekanan eskternal.
"Sementara itu, kenaikan BI-Rate dari posisi 5,75% sebaiknya dipertimbangkan apabila pelemahan rupiah berlangsung terus-menerus, disertai arus modal keluar yang besar, penurunan cadangan devisa, dan meningkatnya risiko inflasi," ujarnya.
Pertumbuhan Ekonomi China
Sementara itu, China akan mengumumkan pertumbuhan ekonominya sepanjang kuartal tiga pada awal pekan (19/10/2026), Pengumuman ini penting karena China merupakan mitra dagang terbesar bagi Indonesia.
TradingEconomics memperkirakan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal ketiga akan tumbuh 4,6% atau lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya 4,3%.
(ras/ras)