IHSG Menguat ke 5.940, Pasar Dibayangi Perang Timur Tengah hingga Ancaman Gelembung AI
Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:02 WIB
Jakarta, VIVA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada pembukaan perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Meski demikian, pergerakan pasar saham Indonesia masih dibayangi beragam sentimen global dan domestik, mulai dari valuasi saham teknologi, persaingan kecerdasan buatan (AI), hingga meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Baca Juga
IHSG dibuka menguat 14,70 poin atau 0,25 persen ke level 5.940,68. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turut naik 1,91 poin atau 0,32 persen ke posisi 591,10.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik untuk menentukan arah investasi. Sejumlah faktor yang menjadi perhatian meliputi prospek suku bunga Amerika Serikat (AS), risiko inflasi akibat kenaikan harga energi, serta perkembangan struktur kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca Juga
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan IHSG berpeluang menguji sejumlah level apabila penguatan berlanjut. Namun, indeks juga berpotensi kembali melemah apabila tekanan jual meningkat.
"Jika IHSG mampu menguat, idealnya akan kembali menguji level 5.979 atau 5.995 atau 6.120. Sebaliknya dengan skenario turun, IHSG bisa kembali melemah dan menguji support 5.839, jika breakdown lanjut ke support selanjutnya di 5.805-5.774," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Baca Juga
Ancaman Gelembung AI Bayangi Pasar Saham Global
Dari pasar internasional, sentimen cenderung negatif seiring meningkatnya perhatian investor terhadap valuasi saham teknologi dan keberlanjutan belanja infrastruktur AI.
Persaingan teknologi juga semakin ketat setelah perusahaan asal China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), mencatat kemajuan dalam pengembangan arsitektur memori baru. Perkembangan tersebut meningkatkan tekanan terhadap perusahaan semikonduktor Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Di sisi lain, CEO Broadcom, Hock Tan, memperingatkan bahwa belanja AI yang berlebihan berpotensi menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang rendah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kekhawatiran tersebut membuat investor mencermati apakah besarnya belanja infrastruktur AI dapat menghasilkan keuntungan yang sebanding. Selain itu, prospek penerbitan obligasi oleh perusahaan teknologi dan risiko inflasi akibat tingginya harga energi juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Kondisi tersebut menambah ketidakpastian bagi pasar saham global, terutama pada sektor teknologi yang sensitif terhadap perubahan ekspektasi pertumbuhan dan suku bunga.
Halaman Selanjutnya
Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Harga Energi