IHSG Diramal Naik Meski Ada Kabar Buruk dari MSCI, Ini Pilihan Sahamnya - Bursa Katadata.co.id
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksikan naik pada perdagangan saham hari ini, Kamis (13/8). Seiring ramalan itu, analis merekomendasikan beli pada saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Timah Tbk (TINS), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, indeks secara teknikal diperkirakan masih berada pada bagian wave v dari wave (c) pada wave [iv]. Dengan posisi tersebut, IHSG berpeluang melanjutkan kenaikan menuju kisaran 6.440–6.544.
“Worst case (merah), IHSG sudah menyelesaikan wave (a) pada pola diagonal dan IHSG rawan terkoreksi ke rentang 5.890–6.192 untuk membentuk wave (b),” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (13/8).
MNC Sekuritas menargetkan area support IHSG berada di kisaran 6.201–6.029, sedangkan arearesistance diperkirakan berada pada level 6.454–6.599.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness pada sejumlah saham, antara lain saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang dapat diakumulasi di rentang Rp 1.625–Rp 1.715 dengan target harga di Rp 1.810–Rp 1.915 dan level stoploss di bawah Rp 1.600.
Buy on weakness juga direkomendasikan pada PT Timah Tbk (TINS) di area Rp 3.650–Rp 3.730 dengan target harga di Rp 3.680–Rp 3.920, dan stoploss di bawah Rp 3.590.
Sentimen IHSG
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memperkirakan level support IHSG berada di 6.292 dan 6.242, sedangkan level resistance berada di 6.406 dan 6.454.
Pada perdagangan terakhir, IHSG mencatat net foreign buy Rp 482,79 miliar. Namun, secara tahun berjalan atau year to date (ytd), investor asing masih membukukan net foreign sell Rp 95,66 triliun dan IHSG anjlok 26,29% secara ytd.
“Akumulasi pada saham pilihan dengan fundamental solid, fokus pada saham bervaluasi murah, fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen resiko dengan disiplin,” tulis Nafan dalam analisisnya, Kamis (13/8).
Nafan mengatakan secara teknikal, IHSG berhasil mengalami solid rebound dari level MA20. Sejumlah indikator juga menunjukkan sinyal positif, dengan Stochastics K_D menguat dan RSI berpotensi membentuk pola golden cross. Sementara itu, MA20 dan MA60 telah membentuk pola golden cross.
Menurutnya, pergerakan IHSG akan dipengaruhi respons pasar terhadap pengumuman resmi MSCI August 2026 Index Review yang menjadi sentimen penahan utama. Namun, tekanan tersebut berpotensi diredam oleh sentimen positif dari melambatnya inflasi Amerika Serikat (AS). Di sisi lain, investor asing mencatatkan daily net foreign buy sebesar Rp 482,79 miliar pada perdagangan sebelumnya.
Dari pasar global, bursa Wall Street menguat setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode Juli 2026 yang tercatat 3,4% secara tahunan (year on year/YoY), sesuai dengan ekspektasi konsensus. Data tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve.
Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada September 2026 juga meningkat menjadi 62% dari sebelumnya 54% setelah data inflasi dirilis.
Sementara itu, hasil MSCI August 2026 Index Review menunjukkan tidak ada penambahan saham ke dalam Global Standard Index maupun Small Cap Index. Hanya saja MSCI men-downgrade CPIN dari Global Standard Index ke Small Cap Index.
MSCI juga menghapus sembilan emiten dari Small Cap Index, yakni ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI. Perubahan itu akan berlaku efektif pada 1 September 2026.
Menurut Nafan, deletion saham dari indeks MSCI dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti ukuran perusahaan (size), free float, likuiditas, investability, maupun parameter metodologi MSCI lainnya. Ia mengatakan keputusan itu tidak semata-mata mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
Khusus CPIN, Nafan menilai perpindahan dari Global Standard Index ke Small Cap Index membuat saham tersebut masih berada dalam cakupan indeks MSCI. Dengan demikian, CPIN tetap berpotensi memperoleh passive flow dari investor yang menggunakan MSCI Small Cap Index sebagai acuan, meskipun secara nominal umumnya lebih kecil dibandingkan aliran dana pada Global Standard Index.
Di sisi lain, Nafan mengatakan tidak terdapat perubahan pada daftar negara emerging markets dalam MSCI Frontier Emerging Markets Index berdasarkan hasil August 2026 Index Review.
“Dengan demikian, maka Indonesia tetap berada dalam kategori emerging markets,” tulis Nafan.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan saham PT Energi Mega Persada (ENRG) untuk diakumulasi beli di harga Rp 1.240-Rp 1.360 dengan level support di Rp 1.240 dan Rp 1.205.
Sedangkan saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) direkomendasikan untuk diakumulasi beli di harga Rp 1.885-Rp 2.020, dengan level support di Rp 1.885 dan Rp 1.600.