gop-crypto.vip

IHSG Berbalik Menguat ke Level 6.110, Investor Cermati Sinyal The Fed hingga Memanasnya Konflik Timur Tengah

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:37 WIB

Jakarta, VIVA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya bergerak di zona hijau pada awal perdagangan Kamis (30/7/2026). Setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya, indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 18,89 poin atau 0,31 persen ke posisi 6.110,28.

Baca Juga

Kenaikan tersebut juga diikuti oleh kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 tercatat naik 2,52 poin atau 0,42 persen sehingga berada di level 609,04.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pergerakan positif IHSG terjadi ketika pelaku pasar memilih bersikap wait and see menjelang sejumlah agenda ekonomi penting dunia yang diperkirakan akan memengaruhi arah pasar keuangan dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga

Transaksi Awal Perdagangan Masih Didominasi Saham Menguat

Berdasarkan data BEI hingga pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.110,28 atau meningkat 0,31 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level 6.091,38.

Baca Juga

Pada awal perdagangan, nilai transaksi mencapai sekitar Rp112,17 miliar. Sementara volume perdagangan tercatat sebanyak 231,41 juta saham yang diperdagangkan melalui 22.007 kali transaksi.

Pergerakan saham juga menunjukkan kondisi yang lebih kondusif dibandingkan hari sebelumnya. Sebanyak 234 saham mengalami kenaikan harga, sedangkan 88 saham melemah. Adapun 274 saham lainnya bergerak stagnan. Komposisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan jual mulai mereda pada awal sesi perdagangan.

Sentimen Global Masih Menjadi Penentu Arah Pasar

Meski IHSG berhasil dibuka menguat, pelaku pasar masih dihadapkan pada berbagai faktor eksternal yang membayangi pergerakan pasar keuangan global.

Salah satu perhatian utama datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi memanas setelah kapal tanker gas Amerika Serikat dilaporkan dihantam drone di Mesir. Ketegangan kemudian berlanjut dengan aksi saling serang rudal yang melibatkan Iran, militer Amerika Serikat, serta Arab Saudi.

Eskalasi konflik tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global. Dampaknya langsung tercermin pada lonjakan harga minyak mentah dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Minyak Brent melonjak 7,9 persen hingga mencapai US$90,74 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 6,56 persen ke level US$84,46 per barel. Kenaikan harga energi ini dinilai berpotensi memicu tekanan inflasi baru di berbagai negara.

Sikap Hawkish The Fed Masih Membayangi Investor

Halaman Selanjutnya

Selain faktor geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed).