IEA Ingatkan Keamanan Energi Global Terancam jika Aliran Minyak di Selat Hormuz Tak Pulih
Bagikan:
JAKARTA – Keamanan energi global terancam jika aliran minyak melalui Selat Hormuz tidak segera meningkat dalam beberapa pekan ke depan, kata Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional, Fatih Birol.
Arab News dikutip Jumat, 17 Juli, menyebut peringatan itu disampaikan Birol dalam acara Council on Foreign Relations, Kamis. Ia mengatakan dunia perlu khawatir jika situasi tidak segera membaik.
“Keamanan minyak masih menjadi persoalan penting. Kita harus khawatir, dan saya khawatir, jika situasi tidak membaik dalam beberapa pekan ke depan,” kata Birol.
Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit di antara Iran dan Oman. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pengiriman energi dunia melewati jalur tersebut.
Namun, sebagian besar lalu lintas melalui selat itu terhambat sejak konflik pecah pada 28 Februari, setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.
Harga energi telah meningkat tajam. Meski demikian, sejumlah faktor masih menahan kenaikan agar tidak lebih tinggi.
BACA JUGA:
China memiliki cadangan lebih dari 1 miliar barel minyak sebelum perang. Penggunaan kendaraan listrik dan transportasi umum juga membantu negara itu menekan kebutuhan minyak.
Tekanan harga turut diredam oleh pelepasan cadangan minyak hingga 400 juta barel yang dikoordinasikan IEA.
Namun, Birol mengatakan faktor-faktor yang menahan kenaikan harga tersebut tidak dapat bertahan selamanya. Ia sebelumnya menyebut perang Iran sebagai gangguan energi terburuk dalam sejarah.
Peningkatan produksi Amerika Serikat juga membantu mengurangi tekanan pasokan. Negara itu merupakan produsen minyak dan gas terbesar di dunia.
“Peningkatan produksi Amerika Serikat sangat baik. Amerika Serikat dapat meningkatkan produksi 1 juta atau 2 juta barel per hari, tetapi tidak bisa menambah 10 juta barel per hari,” kata Birol.
Krisis pasokan minyak dan gas telah menekan perekonomian dunia. Namun, dampaknya tidak merata.
Menurut Birol, Asia paling terdampak karena kawasan itu memperoleh 80 hingga 90 persen pasokan energinya melalui Selat Hormuz.
Jepang dan Korea Selatan ikut terdampak. Namun, negara berkembang seperti Pakistan, Bangladesh, dan India menghadapi tekanan paling berat.
Mahalnya produk minyak bumi juga memunculkan risiko kesehatan. Sebagian masyarakat di negara berkembang, terutama perempuan, beralih menggunakan kayu dan kotoran hewan sebagai bahan bakar memasak karena produk minyak bumi tidak lagi terjangkau.
Bahan bakar tersebut menghasilkan emisi berbahaya dan meningkatkan risiko kesehatan.
Harga minyak sempat turun sekitar 20 dolar AS per barel setelah IEA mengoordinasikan pelepasan cadangan pada Maret. Langkah itu menunjukkan organisasi yang mewakili lebih dari 30 negara tersebut masih dapat menggunakan cadangan jika situasi memburuk.
“Meski jumlahnya sangat besar, pelepasan itu baru mencakup 20 persen dari stok yang kami miliki. Sebanyak 80 persen masih tersedia,” kata Birol.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+