Hypernet Luncurkan Whooz, Pelaku SME Kini Bisa Gunakan Teknologi Enterprise Tanpa Tim IT
Peluncuran Whooz oleh Hypernet Technologies menjadi sinyal bahwa transformasi digital bisnis di Indonesia telah memasuki fase baru. Jika sebelumnya digitalisasi identik dengan penggunaan QRIS, marketplace, atau media sosial sebagai kanal penjualan, kini perhatian mulai bergeser pada kesiapan infrastruktur yang menopang seluruh aktivitas digital tersebut.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Semakin bergantung sebuah bisnis pada sistem digital, semakin besar pula konsekuensi ketika jaringan internet bermasalah, sistem kasir berhenti beroperasi, atau keamanan data terganggu. Dengan kata lain, investasi teknologi kini tidak lagi sebatas membeli aplikasi, tetapi memastikan seluruh ekosistem digital dapat bekerja secara konsisten setiap hari.
Mengapa Infrastruktur TI Menjadi Kebutuhan Baru bagi Pelaku SME?
Percepatan digitalisasi bisnis di Indonesia terlihat jelas dari meningkatnya penggunaan pembayaran digital. Data Bank Indonesia menunjukkan penetrasi QRIS telah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant, yang mayoritas merupakan pelaku usaha. Angka tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak transaksi bisnis kini bergantung pada koneksi internet dan sistem digital yang berjalan tanpa hambatan.
Namun, pertumbuhan transaksi digital membawa konsekuensi baru. Ketika pembayaran dilakukan secara elektronik dan operasional bisnis mengandalkan sistem Point of Sales (POS), gangguan kecil pada jaringan internet dapat berdampak langsung terhadap aktivitas penjualan.
Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah restoran yang memiliki lima cabang dan seluruh transaksi pelanggan dilakukan melalui sistem POS berbasis internet. Jika koneksi internet terputus saat jam makan siang, proses pembayaran dapat melambat, antrean pelanggan bertambah panjang, hingga pencatatan stok menjadi tidak sinkron. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa internet tidak lagi sekadar fasilitas pendukung, melainkan bagian dari operasional inti sebuah bisnis.
Fenomena tersebut juga terjadi di sektor ritel, layanan kesehatan, hingga perusahaan jasa yang semakin mengandalkan aplikasi berbasis cloud untuk mengelola pekerjaan sehari-hari. Mulai dari komunikasi internal melalui Microsoft Teams, penyimpanan dokumen di cloud, hingga sistem absensi digital, semuanya membutuhkan jaringan yang stabil dan aman.
Di sisi lain, tidak semua pelaku SME memiliki sumber daya untuk membangun divisi TI sendiri. Banyak perusahaan harus mempertimbangkan biaya pembelian perangkat keras, lisensi perangkat lunak, instalasi, hingga pemeliharaan yang dilakukan secara berkala. Kompleksitas inilah yang kemudian mendorong munculnya model layanan TI terkelola atau managed service, di mana seluruh kebutuhan teknologi dapat diakses melalui skema biaya langganan.
Menariknya, perubahan ini mencerminkan pergeseran cara pelaku usaha memandang investasi teknologi. Jika sebelumnya perusahaan membeli perangkat sebagai aset, kini semakin banyak bisnis yang lebih memilih menggunakan teknologi sebagai layanan (Technology as a Service). Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan lebih fokus mengembangkan bisnis tanpa terbebani pengelolaan infrastruktur TI yang semakin kompleks.
Hypernet Perluas Fokus dari Enterprise ke Pasar SME
Melihat perubahan kebutuhan tersebut, Hypernet Technologies meluncurkan Whooz sebagai lini layanan baru yang secara khusus menyasar segmen SME. Langkah ini juga menandai perluasan strategi perusahaan yang selama hampir dua dekade lebih dikenal sebagai penyedia solusi TI untuk korporasi berskala besar.
Menurut VP Brand & Marketing Hypernet Technologies, Oktaviani Handojo, peluncuran Whooz merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menghadirkan teknologi yang lebih mudah diakses oleh pelaku usaha menengah.
"Peluncuran Whooz merupakan komitmen nyata dari strategi pemasaran kami untuk menghadirkan ekosistem teknologi terkelola yang ringkas dan bebas kompleksitas IT, di mana seluruh pemeliharaan hardware dan instalasi dikawal penuh selama 24 jam. Ini adalah perwujudan konkret dari perluasan janji layanan dan tagline korporat utama Hypernet Technologies kepada para pemilik bisnis cabang, yaitu #TerimaBeres," ujar Oktaviani.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Hypernet tidak hanya memperkenalkan produk baru, tetapi juga mengubah pendekatan layanannya. Jika sebelumnya solusi perusahaan lebih banyak dirancang secara khusus (customized) sesuai kebutuhan korporasi besar, Whooz hadir dengan katalog layanan yang telah dikemas siap pakai sehingga lebih mudah diimplementasikan oleh pelaku usaha yang membutuhkan solusi praktis.
Perubahan model bisnis ini juga menjadi indikasi bahwa pasar SME kini dinilai memiliki kebutuhan teknologi yang semakin kompleks. Bertambahnya jumlah gerai, meningkatnya transaksi digital, hingga penggunaan berbagai aplikasi bisnis membuat pelaku usaha membutuhkan sistem yang tidak hanya cepat, tetapi juga mudah dikelola dan tetap aman.
Alih-alih menjual perangkat semata, Hypernet melalui Whooz menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh, yakni menghadirkan layanan teknologi yang dapat langsung digunakan tanpa membebani pelanggan dengan proses instalasi, pemeliharaan, maupun pengelolaan perangkat. Pendekatan inilah yang menjadi salah satu pembeda utama dibandingkan model pengadaan TI konvensional.
Baca Juga: Internet Tercepat di Dunia
Baca Juga: Cloudflare Temukan 'Jalan Rahasia' Internet Berubah Diam-diam, 70 Persen Rute BGP Terdampak
Apa yang Membedakan Whooz dari Solusi TI Konvensional?
Selama ini, banyak pelaku usaha menganggap pengadaan teknologi informasi identik dengan pengeluaran modal yang besar. Ketika sebuah bisnis membuka cabang baru, perusahaan umumnya harus membeli perangkat jaringan, firewall, UPS, memasang koneksi internet, hingga mencari vendor berbeda untuk kebutuhan perangkat lunak seperti Microsoft 365. Belum lagi biaya pemeliharaan yang terus berjalan setelah sistem mulai digunakan.
Model seperti ini memang lazim diterapkan perusahaan besar yang memiliki divisi TI sendiri. Namun bagi pelaku SME, pendekatan tersebut sering kali menjadi tantangan karena membutuhkan investasi awal yang tidak sedikit sekaligus sumber daya manusia yang mampu mengelola seluruh infrastruktur teknologi.
Whooz hadir dengan pendekatan berbeda. Alih-alih menjual perangkat atau proyek instalasi semata, Hypernet Technologies menawarkan layanan berbasis langganan (subscription) dengan biaya tetap bulanan. Dalam model ini, pelanggan memperoleh akses terhadap perangkat, konektivitas, instalasi, hingga layanan pemeliharaan dalam satu paket.
Pendekatan tersebut mencerminkan perubahan tren di industri teknologi informasi. Kini, banyak perusahaan mulai mengadopsi konsep Everything as a Service (XaaS), yaitu memanfaatkan teknologi sebagai layanan dibandingkan memiliki seluruh aset secara mandiri. Perubahan ini memungkinkan perusahaan lebih mudah mengendalikan biaya operasional sekaligus mengikuti perkembangan teknologi tanpa harus terus-menerus mengganti perangkat.
Menggabungkan Peran System Integrator dan ISP dalam Satu Layanan
Salah satu pembeda utama Whooz adalah kemampuannya menggabungkan fungsi System Integrator (SI) dan Internet Service Provider (ISP) dalam satu katalog layanan.
Dalam praktik konvensional, sebuah perusahaan biasanya harus bekerja sama dengan beberapa vendor berbeda. Penyedia internet bertanggung jawab atas koneksi, sementara kebutuhan jaringan internal, keamanan siber, perangkat keras, hingga kolaborasi digital ditangani oleh perusahaan lain.
Model tersebut kerap membuat proses koordinasi menjadi lebih rumit, terutama ketika terjadi gangguan. Tidak jarang masing-masing penyedia layanan saling melempar tanggung jawab sehingga penyelesaian masalah menjadi lebih lama.
Melalui Whooz, berbagai kebutuhan tersebut dikemas menjadi satu solusi yang siap digunakan. Hypernet memfokuskan layanannya pada dua kelompok kebutuhan utama.
Untuk sektor Food & Beverage (F&B) dan Retail, layanan meliputi:
sistem Point of Sales (POS) kasir;
jaringan Wi-Fi bagi pelanggan;
perangkat UPS untuk menjaga pasokan listrik;
firewall guna meningkatkan keamanan jaringan.
Sementara itu, untuk Office dan Service Industry, solusi yang ditawarkan mencakup:
Microsoft 365;
Microsoft Teams;
ruang rapat pintar (Smart Board);
dukungan infrastruktur jaringan.
Dengan pendekatan tersebut, pelanggan tidak perlu lagi menyusun solusi dari berbagai vendor secara terpisah. Seluruh kebutuhan dapat diperoleh melalui satu layanan yang telah dirancang sesuai karakteristik masing-masing sektor usaha.
Hypernet juga menyebut kesiapan layanan tersebut telah digunakan untuk mendukung operasional berbagai merek di segmen SME, seperti Guess, Eiger, Sushi Hiro, Optik Melawai, K3 Mart, Wingstop, Wondermind, hingga Atria Furnishing.
Meski demikian, keberadaan nama-nama tersebut juga menunjukkan bahwa kebutuhan teknologi enterprise kini tidak lagi eksklusif bagi perusahaan berskala raksasa. Bisnis dengan banyak cabang dan operasional yang tersebar mulai menghadapi tantangan teknologi yang serupa, meski dalam skala yang berbeda.
Digitalisasi Tidak Lagi Berhenti di Aplikasi Kasir
Ada satu perubahan penting yang menarik untuk dicermati dari peluncuran Whooz. Selama beberapa tahun terakhir, pembahasan mengenai digitalisasi UMKM maupun SME lebih banyak berfokus pada penggunaan aplikasi kasir, pembayaran digital, atau penjualan melalui marketplace.
Padahal, seluruh aplikasi tersebut hanya berada di lapisan paling depan dari operasional bisnis.
Di balik layar, terdapat jaringan internet, perangkat keamanan, sistem pencadangan listrik, hingga pengaturan lalu lintas data yang menentukan apakah aplikasi-aplikasi tersebut dapat bekerja secara optimal atau tidak.
Dengan kata lain, transformasi digital memasuki fase berikutnya. Jika tahap pertama berfokus pada digitalisasi transaksi, maka tahap selanjutnya adalah memastikan fondasi teknologi yang menopang transaksi tersebut tetap andal setiap hari.
Inilah alasan mengapa kebutuhan terhadap layanan TI terkelola diperkirakan akan terus meningkat seiring semakin banyaknya bisnis yang memperluas operasional melalui sistem digital.
JOKO AI dan Masa Depan Operasional Bisnis Berbasis AI
Selain menghadirkan model layanan baru, Hypernet Technologies juga memperkenalkan JOKO AI, asisten virtual berbasis kecerdasan buatan yang menjadi bagian dari layanan Whooz Dedicated.
Berbeda dengan penggunaan AI yang selama ini identik dengan pembuatan konten atau chatbot layanan pelanggan, JOKO AI dirancang untuk membantu pengelolaan jaringan internet bisnis secara langsung.
Pelanggan dapat mengakses layanan ini melalui platform Telegram dengan dukungan multibahasa. Kehadirannya memungkinkan sejumlah pekerjaan teknis yang sebelumnya membutuhkan administrator jaringan dilakukan secara lebih sederhana.
JOKO AI memiliki tiga fungsi utama, yakni:
Web Filtering Setting, untuk memblokir situs berisiko sekaligus membatasi akses terhadap konten tertentu;
Quality of Service (QoS) atau Priority Connection Setting, untuk mengatur prioritas bandwidth sehingga aplikasi penting memperoleh koneksi yang lebih stabil;
Internet Traffic Report, yang menyajikan laporan penggunaan data dan trafik internet secara instan.
Ketiga fitur tersebut menunjukkan bahwa AI mulai memainkan peran baru dalam operasional bisnis. Jika sebelumnya AI lebih banyak digunakan untuk meningkatkan produktivitas individu, kini teknologi tersebut mulai membantu pengelolaan infrastruktur digital yang menopang aktivitas perusahaan.
Sebagai contoh, sebuah jaringan restoran dapat mengatur agar sistem kasir selalu memperoleh prioritas koneksi dibandingkan akses internet bagi pelanggan. Ketika trafik internet meningkat pada jam makan siang, sistem pembayaran tetap berjalan lancar karena bandwidth telah dialokasikan secara otomatis.
Demikian pula pada perusahaan yang mengandalkan layanan konferensi video. Administrator dapat mengatur prioritas koneksi bagi Microsoft Teams agar rapat daring tidak terganggu oleh aktivitas lain yang mengonsumsi bandwidth dalam jumlah besar.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa AI tidak selalu hadir dalam bentuk teknologi yang terlihat langsung oleh pelanggan. Dalam banyak kasus, perannya justru berada di belakang layar untuk memastikan operasional bisnis berjalan lebih efisien.
Apa Dampaknya bagi Transformasi Digital SME di Indonesia?
Peluncuran Whooz juga memperlihatkan perubahan arah transformasi digital di Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, pembahasan digitalisasi banyak berpusat pada bagaimana pelaku usaha memanfaatkan aplikasi, media sosial, atau pembayaran digital.
Kini, fokus mulai bergeser ke pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apakah seluruh sistem digital tersebut memiliki fondasi infrastruktur yang memadai.
Perubahan perspektif ini penting karena keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh banyaknya aplikasi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan menjaga seluruh sistem tetap beroperasi tanpa gangguan.
Bagi pelaku SME yang memiliki banyak cabang, satu gangguan jaringan saja dapat berdampak pada pelayanan pelanggan, pencatatan transaksi, hingga koordinasi antargerai. Karena itu, kebutuhan terhadap layanan TI yang terintegrasi diperkirakan akan terus meningkat seiring ekspansi bisnis dan bertambahnya ketergantungan terhadap teknologi digital.
Dalam konteks tersebut, langkah Hypernet memperluas layanan ke segmen SME dapat dibaca sebagai respons terhadap perubahan kebutuhan pasar. Perusahaan tidak lagi sekadar menawarkan konektivitas internet, melainkan berupaya menyediakan ekosistem teknologi yang lebih lengkap dan mudah diakses melalui model layanan berlangganan.
Ke depan, pola seperti ini berpotensi menjadi salah satu arah baru industri teknologi informasi di Indonesia. Pelaku usaha tidak lagi harus memiliki seluruh perangkat sendiri untuk menikmati teknologi kelas enterprise. Sebaliknya, mereka dapat mengaksesnya sebagai layanan yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan bisnis.
Pada akhirnya, transformasi digital bukan hanya soal mengadopsi teknologi terbaru, tetapi juga memastikan teknologi tersebut mampu mendukung operasional bisnis secara konsisten. Di tengah meningkatnya transaksi digital dan ekspansi bisnis multigerai, fondasi infrastruktur yang andal akan menjadi salah satu faktor pembeda daya saing perusahaan.
Bagi pelaku SME, perubahan tersebut membuka peluang baru untuk memanfaatkan teknologi yang sebelumnya identik dengan perusahaan besar. Sementara bagi penyedia solusi TI seperti Hypernet Technologies, peluncuran Whooz menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang seiring semakin matangnya ekosistem digital Indonesia.
Baca Juga: BPKN Desak Operator Tindak Lanjuti Putusan MK soal Kuota Internet
Baca Juga: Putusan MK: Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus
FAQ
Apa itu Whooz dari Hypernet Technologies?
Whooz adalah lini layanan baru dari Hypernet Technologies yang menyediakan solusi teknologi informasi (TI) berbasis langganan untuk pelaku SME. Layanan ini menggabungkan konektivitas internet, perangkat jaringan, keamanan siber, hingga dukungan teknis dalam satu paket sehingga pelanggan tidak perlu mengelola berbagai vendor secara terpisah.
Siapa yang menjadi target layanan Whooz?
Whooz ditujukan bagi pelaku usaha menengah (SME), khususnya yang bergerak di sektor F&B, ritel, perkantoran, dan industri jasa. Solusi ini dirancang untuk bisnis yang membutuhkan infrastruktur TI andal tanpa harus membangun tim TI internal atau mengeluarkan investasi perangkat yang besar di awal.
Apa yang membedakan Whooz dengan layanan TI konvensional?
Perbedaan utamanya terletak pada model layanan berbasis langganan dan integrasi berbagai kebutuhan teknologi dalam satu solusi. Whooz menggabungkan fungsi System Integrator dan Internet Service Provider sehingga pelanggan memperoleh perangkat, konektivitas, instalasi, serta pemeliharaan dalam satu layanan yang dikelola secara menyeluruh.
Apa fungsi JOKO AI dalam layanan Whooz?
JOKO AI merupakan asisten virtual berbasis AI yang membantu pelanggan mengelola jaringan internet bisnis. Fitur utamanya meliputi pengaturan pemblokiran situs, prioritas penggunaan bandwidth melalui QoS, serta penyajian laporan trafik internet secara instan melalui Telegram.
Mengapa infrastruktur TI menjadi semakin penting bagi pelaku SME?
Semakin banyak bisnis yang mengandalkan QRIS, POS, aplikasi berbasis cloud, dan layanan kolaborasi digital. Ketika seluruh operasional bergantung pada sistem tersebut, kualitas jaringan, keamanan data, dan stabilitas infrastruktur menjadi faktor penting agar aktivitas bisnis tetap berjalan lancar.
Apakah model layanan TI berlangganan akan semakin berkembang di Indonesia?
Tren ini berpotensi terus tumbuh karena semakin banyak perusahaan yang ingin memperoleh teknologi terbaru tanpa harus membeli seluruh perangkat sendiri. Model berlangganan juga membantu pelaku usaha mengelola biaya operasional secara lebih terukur sekaligus mengurangi kompleksitas pengelolaan infrastruktur TI.