HKTI NTB mendorong regenerasi petani demi kedaulatan pangan
Mataram (ANTARA) - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyoroti rendahnya minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi agar ketahanan dan kedaulatan pangan di masa depan tetap terjaga.
Ketua HKTI NTB, H Willgo Zainar mengatakan perubahan pola pikir generasi muda menjadi salah satu penyebab profesi petani semakin kurang diminati. Banyak anak muda lebih memilih pekerjaan yang dianggap mampu memberikan penghasilan dalam waktu singkat dibandingkan berkarier di sektor pertanian.
"Generasi muda sekarang cenderung mencari pekerjaan yang hasilnya instan. Akibatnya, minat menjadi petani maupun menempuh pendidikan di bidang pertanian semakin berkurang," katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut juga berdampak pada menurunnya jumlah peminat sekolah maupun perguruan tinggi yang memiliki program studi pertanian. Jika situasi ini terus berlanjut, sektor pertanian berpotensi mengalami kekurangan sumber daya manusia produktif dalam beberapa tahun mendatang.
Willgo menilai lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam mencetak petani muda yang kompeten.
Untuk itu, ia mendorong perguruan tinggi pertanian memperkuat sistem pembelajaran berbasis praktik sehingga mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami kondisi nyata di lapangan.
"Mahasiswa pertanian perlu menjalani praktik langsung selama beberapa bulan agar memiliki pengalaman menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi petani. Mulai dari proses budidaya hingga pengelolaan usaha tani," ujarnya.
Ia menambahkan, sektor pertanian menawarkan peluang karier yang luas. Kesempatan tersebut tidak hanya berada pada subsektor tanaman pangan, tetapi juga mencakup perikanan, kelautan, agribisnis, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat yang terus dikembangkan pemerintah.
Willgo mengakui anak-anak dari keluarga petani maupun nelayan kini tidak lagi secara otomatis meneruskan profesi orang tuanya. Kondisi itu menunjukkan regenerasi petani tidak bisa lagi mengandalkan tradisi keluarga, tetapi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.
Karena itu, ia mengajak keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah untuk bersama-sama membangun minat generasi muda terhadap dunia pertanian melalui pendidikan, pelatihan, serta pendampingan yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari upaya mencetak petani muda, HKTI NTB telah menjalankan berbagai program pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat. Pelatihan jangka pendek perlu diperluas agar mampu menjangkau generasi muda yang memiliki minat bertani meskipun tidak menempuh pendidikan formal di bidang pertanian.
Selain itu, HKTI NTB berencana memperkuat literasi pertanian melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi), dan organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna. Langkah tersebut diharapkan mampu mengubah pandangan generasi muda bahwa pertanian merupakan sektor modern yang memiliki prospek menjanjikan.
"Pertanian bukan lagi sektor yang harus dipandang sebelah mata. Justru di dalamnya terdapat peluang besar bagi generasi muda jika dikelola dengan pengetahuan, teknologi, dan inovasi," kata Willgo.
Pewarta : Awaludin
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026