gop-crypto.vip

Hindari Tekanan Kerja, Gen Z China Tolak Naik Jabatan

Bagi banyak pekerja muda di China, menolak promosi bukan berarti melepaskan ambisi atau memilih untuk "pasrah." Sebaliknya, ini justru mencerminkan keinginan untuk menghindari tekanan berat yang melekat pada peran manajemen tingkat menengah, yang posisinya berada di antara para eksekutif senior dan karyawan garda depan.

"Setelah menjadi pemimpin tim sementara, saya hanya mendapatkan tambahan 100 yuan (Rp 264 ribu) per bulan. Namun, setiap ada sesuatu yang salah, saya yang diminta pertanggungjawaban," tulis seorang pengguna.

Perubahan ini tidak hanya terjadi di China. Perusahaan perekrutan asal Inggris, Robert Walters, mengidentifikasi tren global ini sebagai "conscious unbossing (keputusan sadar untuk tidak menjadi atasan)."

Survey yang dilakukan perusahaan tersebut di tahun 2024 mengungkapkan bahwa lebih dari setengah responden Gen Z tidak memiliki ambisi untuk menjadi manajer tingkat menengah, sementara 72 persen lebih mengutamakan pengembangan diri dibanding mengurus orang lain.

Direktur di Robert Walters North sebuah divisi regional perusahaan tersebut, Lucy Bisset, mengingatkan bahwa berkurangnya daya tarik posisi manajemen bisa membuat tantangan bagi para pemberi kerja.

Ia mendesak perusahaan untuk menata ulang posisi-posisi tersebut dengan memberikan otonomi yang lebih besar dan jalur pengembangan keterampilan yang lebih jelas.

Sebuah komentar yang banyak dibagikan di China berhasil merangkum dilema yang dihadapi oleh banyak pekerja muda: "Jika terlalu mudah untuk diandalkan, akan kewalahan dengan beban kerja. Tapi jika terlalu sulit diajak bekerja sama, berisiko tersingkirkan. Tantangannya ada pada penentuan di mana batasnya."

"Menolak promosi tidak berarti menyerah pada perkembangan. Perkembangan tidak selalu tentang memanjat lebih tinggi, tapi bisa juga berupa pengembangan diri. Saya ingin memiliki pekerjaan yang stabil dan terkelola dengan baik, yang bisa memberi saya lebih banyak waktu untuk minat dan keluarga saya."