gop-crypto.vip

Hari Ini! Revisi Aturan DHE-Insentif BI Berlaku, Inflasi Jadi Sorotan

  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam kemarin, saham menguat sementara rupiah melemah
  • Wall Street ambruk karena perang memanas
  • Rilis data ekonomi dan pengumuman perubahan aturan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir  beragam. Bursa saham menguat sementara rupiah melemah. 

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak mengakhiri perdagangan di zona hijau hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bis dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil berbalik arah dan menutup perdagangan Senin (31/8/2026) di zona hijau. Penguatan tipis terjadi di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi serta aksi penyesuaian portofolio investor menjelang efektifnya rebalancing MSCI.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup naik 7,36 poin atau 0,11% ke level 6.525,48. Sepanjang perdagangan, indeks sempat anjlok ke level 6.476,18, sebelum berbalik menguat dan menyentuh level tertinggi 6.528,10.

Penguatan IHSG terutama ditopang saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor keuangan. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 9,32 poin terhadap indeks.

Saham lain yang turut menopang IHSG yakni PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebesar 3,24 poin, PT Merdeka Gold Resources Tbk (BRMS) sebesar 2,97 poin, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 2,81 poin, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar 2,20 poin.

Dari sisi sektoral, penguatan dipimpin sektor industrial yang naik 0,50%, diikuti konsumer non-primer 0,42% dan konsumer primer 0,22%.

Namun, sejumlah sektor masih tertekan. Sektor kesehatan menjadi yang paling dalam terkoreksi, yakni 2,35%, disusul utilitas 0,88%, teknologi 0,67%, energi 0,27%, dan properti 0,20%.

Di jajaran saham pemberat indeks, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penekan terbesar dengan kontribusi negatif 8,67 poin. Berikutnya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 3,59 poin, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) sebesar 3,52 poin, dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sebesar 3,41 poin.

Aktivitas perdagangan juga terpantau ramai. Total volume transaksi mencapai 51,3 miliar saham, dengan nilai transaksi Rp25 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,39 juta kali.

Sebanyak 392 saham menguat, sementara 233 saham melemah dan 166 saham stagnan.

Di sisi lain, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 434,22 miliar.

Rupiah mengawali perdagangan pekan ini dengan kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pelemahan mata uang Garuda mulai mereda menjelang penutupan.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Senin (31/8/2026) ditutup melemah 0,14% ke level Rp17.710/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga Rp17.755/US$. Namun, menjelang penutupan, rupiah berhasil memangkas pelemahan sebesar 45 poin.

Meski demikian, posisi penutupan tersebut masih lebih lemah 25 poin dibandingkan perdagangan Jumat (28/8/2026), ketika rupiah berada di level Rp17.685/US$.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 6,99% di Senin, dari 6,96% pada Jumat pekan lalu. Imbal hasil yang naik menandai harga SBN tengah menurun karena dijual investor.