Harga Minyak Dunia Anteng di Atas US$100 Hari Ini, Rekor dalam 4 Bulan
Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak dunia kembali menembus level US$100 per barel dan diproyeksikan mengakhiri pekan di atas level tersebut untuk pertama kalinya dalam hampir empat bulan. Kenaikan harga dipicu kekhawatiran gangguan pasokan berkepanjangan akibat meningkatnya serangan di jalur pelayaran strategis Timur Tengah.
Mengutip Reuters, Jumat (11/9), harga minyak Brent naik US$1,05 atau 1 persen menjadi US$108,68 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 95 sen atau 1 persen menjadi US$103,45 per barel.
Kedua acuan harga minyak tersebut sebelumnya melonjak lebih dari 6 persen pada perdagangan Kamis (10/9). Secara mingguan, Brent dan WTI masing-masing telah menguat hampir 13 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak pekan yang berakhir pada 17 Juli lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lonjakan harga terjadi di tengah meningkatnya risiko terhadap jalur pelayaran dan distribusi minyak di kawasan Timur Tengah. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis, sehingga menambah ancaman terhadap lalu lintas kapal di Laut Merah.
Sementara itu, lalu lintas pelayaran di kawasan Teluk masih terbatas akibat gangguan di Selat Hormuz. Serangan terhadap kapal tanker di kawasan tersebut juga meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi turut memperluas eskalasi konflik yang sebelumnya berpusat di Iran dan Selat Hormuz. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan minyak dapat berlangsung lebih lama dan meluas ke kawasan lain.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memperingatkan bahwa AS dapat menyerang Pickaxe Mountain di Iran, yang berada dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang mengalami kerusakan berat. Trump juga mengatakan perang akan berakhir setelah pemilu sela AS pada November.
Analis IG Tony Sycamore menilai harga minyak berpotensi kembali menguji level tertinggi sebelumnya jika konflik terus meluas.
"Dengan situasi yang terus memburuk dan Iran menunjukkan kesediaannya untuk memperluas serta memperpanjang konflik ini selama dan seluas mungkin, semakin besar kemungkinan minyak mentah WTI kembali menguji level tertinggi US$119,48 yang dicapai pada awal Maret," kata Sycamore.
Di sisi lain, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi 380 ribu barel per hari (bph). Pemangkasan tersebut menjadi revisi turun kelima secara berturut-turut.
(ldy/ins)