Harga Bioetanol RI Naik Rp11.814/Liter, Berlaku September 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis bioetanol untuk bulan September 2026 sebesar Rp11.814 per liter. Harga ini terpantau meningkat jika dibandingkan pada Agustus yang mencapai Rp 11.695 per liter.
Adapun, besaran HIP BBN Bioetanol Rp11.814 ini berlaku efektif per 1 September 2026. Penetapan harga menggunakan formula HIP = (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 kg/liter) + 0,25 US$/liter.
"Dalam rangka pelaksanaan ketentuan Diktum kelima Keputusan Menteri ESDM No. 6034K/12/MEM/2016 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (Biofuel) yang Dicampurkan ke Dalam Jenis Bahan Bakar Minyak, terlampir kami sampaikan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) Jenis Bioetanol bulan September 2026 yang efektif berlaku per 1 September 2026," mengutip website Ditjen EBTKE, Rabu (23/9/2026).
RI Mau Kembangkan BBM Campur Bioetanol 50% E50
Kementerian ESDM mengkaji potensi penerapan bahan bakar bioetanol dengan kandungan 50% (E50) untuk menghentikan ketergantungan impor bensin di Indonesia. Rencana itu dibahas dalam Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) sebagai solusi alternatif energi di tengah ketidakpastian kondisi global.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa target penghentian impor bensin dapat terealisasi apabila program E50 berhasil dijalankan. Ia menjelaskan bahwa bahan baku etanol memanfaatkan komoditas dalam negeri seperti tebu, singkong, dan jagung yang dapat menyerap tenaga kerja serta menggerakkan ekonomi daerah.
"Nah, kalau ini mampu kita lakukan ke E50, InsyaAllah, InsyaAllah, target kita kita tidak lagi melakukan impor, impor bensin yang jadi, produk jadi. Nah, kalau ini mampu kita lakukan, itu pasti ketahanan energi kita tidak lagi kita menggantungkan ke luar secara besar, itu kira-kira pikirannya," ujar Bahlil di sela acara Donor Darah Hari Jadi Pertambangan ke 81, di Balai Sudirman Jakarta, Senin (21/9/2026).
Rencana pengembangan E50 tersebut juga berkaca pada keberhasilan Brasil dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat yang telah memproduksi BBM bioetanol 100% atau E100. Selain itu, kajian tersebut juga didasari oleh pencapaian Indonesia dalam mengembangkan biodiesel B50 dari campuran minyak kelapa sawit.
"Kenapa? Karena di Brazil sudah E100. Di Amerika sebagian negara bagian sudah E100. Nah, E50 ini kan bahan bakunya adalah etanol. Etanol itu bahan bakunya dari tebu, singkong, jagung yang diprosesing kemudian bisa melahirkan etanol dan ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dan membangun pertumbuhan kawasan di daerah-daerah," kata Bahlil.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]