gop-crypto.vip

Hannah Asa Indonesia tekankan pentingnya ketahanan finansial aparatur sipil negara

Hannah Asa Indonesia tekankan pentingnya ketahanan finansial aparatur sipil negara

Kamis, 24 September 2026 21:38 WIB

Image Print

Pendiri Hannah Asa Indonesia Mardiyah menjadi narasumber dalam kegiatan rapat koordinasi dan perencanaan keuangan berbasis syariah di Palu, Kamis (24/9/2026). ANTARA/Nur Amalia Amir

Palu (ANTARA) - Pendiri Hannah Asa Indonesia, Mardiyah menekankan pentingnya membangun ketahanan finansial bagi aparatur sipil negara (ASN) termasuk di Sulawesi Tengah untuk mengelola pendapatan secara bijak dan menghadapi berbagai risiko keuangan.

“Seberapa banyak pun uang yang kita punya, tapi kalau kita tidak mampu mengelolanya, akan sama saja,” kata Mardiyah saat menjadi narasumber dalam kegiatan rapat koordinasi dan perencanaan keuangan berbasis syariah di Palu, Sulteng, Kamis.

Ia mengatakan kesehatan keuangan tidak hanya ditentukan dari jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga kemampuan dalam mengelola sumber daya tersebut.

Ia menjelaskan berdasarkan hasil riset Hannah Asa Indonesia yang bergerak di bidang literasi keuangan, sekitar 70 persen peserta edukasi literasi keuangan yang diberikan mengalami financial stress atau tekanan keuangan.

Karena itu, pengelolaan keuangan perlu dilakukan sejak dini melalui pengaturan arus kas, ketahanan finansial, perlindungan dan perencanaan masa depan.

Ia menjelaskan salah satu bentuk perlindungan keuangan yang perlu disiapkan adalah dana darurat untuk menghadapi kondisi yang tidak terduga.

Menurut dia, kebutuhan dana darurat di Sulawesi Tengah menjadi perhatian karena wilayah tersebut berada di sekitar sesar Patahan Palu-Koro sehingga masyarakat perlu memiliki perlindungan keuangan dalam menghadapi risiko bencana.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengenali pendapatan, mengidentifikasi pengeluaran wajib, membandingkan pendapatan dengan pengeluaran, kemudian menentukan bagian yang dapat disisihkan untuk tabungan.

Ia mengatakan tata kelola keuangan yang baik dan sesuai dengan prinsip syariah juga dapat diterapkan pada tingkat institusi.

Menurut dia, siklus pengelolaan keuangan institusi mencakup perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pencatatan, pengendalian, pelaporan dan evaluasi.

Ia mengatakan tata kelola keuangan yang baik perlu memperhatikan prinsip transparansi, akuntabilitas, pengendalian, kehati-hatian dan efisiensi.

Sementara dalam perspektif syariah, kata dia, pengelolaan keuangan tidak hanya memastikan transaksi dilakukan secara administratif, tetapi juga memperhatikan cara memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan dana sesuai prinsip syariah.

Ia menyebutkan enam nilai yang menjadi landasan dalam pengelolaan keuangan syariah, yakni amanah, keadilan, kemaslahatan, transparansi, akuntabilitas dan kehati-hatian.

“Amanah ini artinya uang yang dikelola itu bukan hanya dimiliki, tapi alurnya itu ada, pertama dananya diterima, direncanakan, kemudian digunakan, dicatat, dikendalikan, dilaporkan, kemudian dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulawesi Tengah Arfan mengatakan literasi dan edukasi berbasis syariah penting dalam membangun tata kelola keuangan sehat dan berkelanjutan bagi ASN.

"Literasi dan edukasi keuangan berbasis syariah sangat dibutuhkan seiring dengan perkembangan kehidupan finansial yang membutuhkan ketelitian dan kecerdasan dalam pengelolaannya," ujarnya.

Karena itu, kata dia, pihaknya menggandeng Hannah Asa Indonesia untuk bekerja sama dalam meningkatkan literasi keuangan berbasis syariah bagi para ASN serta edukasi pengelolaan keuangan.

Pewarta : Nur Amalia Amir
Editor: Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026