Hadapi El Nino, Mentan mengandalkan pengalaman dan mitigasi dini
Hadapi El Nino, Mentan mengandalkan pengalaman dan mitigasi dini
Selasa, 28 Juli 2026 19:35 WIB
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7/2026). (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi menghadapi potensi El Nino dengan berkaca pada pengalaman menghadapi fenomena serupa pada tahun-tahun sebelumnya.
Amran mengatakan pemerintah tidak hanya menyiapkan mitigasi untuk tahun ini, tetapi telah memulainya sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Langkah tersebut dilakukan setelah Indonesia pernah mengalami dampak El Nino yang menyebabkan impor beras hingga mencapai 7 juta ton selama periode 2023-2024.
"Kita sudah antisipasi bukan saja tahun ini, tapi kita antisipasi sejak awal pemerintahan," ujar Amran di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan pemerintah telah menjalankan sejumlah program untuk mengurangi dampak musim kering, di antaranya mendistribusikan 100 ribu unit pompa air di seluruh Indonesia, memperbaiki jaringan irigasi seluas 900 ribu hektare bersama Kementerian Pekerjaan Umum, serta menyiapkan benih padi yang tahan terhadap kekeringan.
Selain itu, pemerintah juga mengoptimalkan lahan rawa hingga sekitar 800 ribu hektare yang dinilai akan tetap produktif saat musim kemarau karena kondisi air yang surut.
Pemerintah juga telah mencetak lebih dari 200 ribu hektare sawah baru, serta membangun embung, sumur dangkal, dan sumur dalam untuk menjamin ketersediaan air bagi pertanian.
Menurut Amran, kesiapan tersebut membuat pemerintah optimistis mampu menjaga ketahanan pangan nasional meski El Nino terjadi.
"Yang terpenting hari ini stok kita tetap bertahan di 5,2 juta ton. Jadi insya Allah aman," kata Amran.
Amran menambahkan selain cadangan beras pemerintah, kondisi tanaman yang sedang memasuki fase pertumbuhan (standing crop) saat ini diperkirakan setara 10-11 juta ton, sementara stok di gudang Perum Bulog mencapai sekitar 5 juta ton.
"Kita sudah dengan pengalaman tiga kali selama kami di kabinet, dulu kurang persiapan kita bisa aman, apalagi sekarang," ucapnya.
Ia mengakui dampak El Nino mulai dirasakan di sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan. Namun, kondisi tersebut masih bersifat lokal dan tidak akan mempengaruhi ketersediaan pangan secara nasional.
Terkait potensi gagal panen akibat kemarau panjang, Amran mengatakan bahwa kemungkinan itu tetap ada di beberapa lokasi. Namun, skalanya kecil dan tidak akan mengganggu stok pangan nasional maupun memicu kenaikan harga bahan pokok.
"Mungkin ada kecil-kecil tapi itu tidak akan berpengaruh pada stok nasional," imbuh Amran.
Stok beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog per 22 Juli 2026 sudah mencapai 5,24 juta ton. Artinya stok cadangan beras pemerintah (CBP) saat ini sangat kuat, meningkat hingga 244,74 persen jika dibandingkan dengan momentum sebelum terjadinya puncak El Nino pada 2023 silam.
Stok CBP tersebut berfungsi untuk menjaga stabilitas komoditas beras melalui program strategis pemerintah di antaranya penyaluran beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).
Pewarta : Maria Cicilia Galuh Prayudhia / Genta Tenri Mawang
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026