gop-crypto.vip

Gacha Game Fatigue, Apakah Sudah Terlalu Banyak Game Gacha Saat Ini?

Gacha Game Fatigue – Berkaca dari kondisi industri game mobile saat ini, rasanya hampir tidak ada satu bulan tanpa pengumuman game gacha baru. Menyusul kesuksesan besar yang diraih beberapa judul dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak developer dan publisher yang mencoba nimbrung masuk ke pasar yang sama.

Nama-nama besar seperti HoYoverse masih terus memperluas portofolionya lewat proyek seperti Petit Planet dan Honkai: Nexus Anima. Tak hanya itu, developer lain juga tidak tinggal diam. Ada Azur Promilia, Arknights: Endfield, Neverness to Everness, Ananta, hingga berbagai proyek lain yang masih berada dalam tahap pengembangan.

Kalau mau ditotal, jumlah game gacha yang akan hadir dalam beberapa tahun ke depan bisa mencapai puluhan judul. Hampir semuanya menawarkan openworld yang luas, karakter waifu/husbando menarik, cerita yang terus dikembangkan, event musiman, serta janji update konten selama bertahun-tahun. Teorinya terdengar seperti kabar baik bagi pemain karena pilihan semakin banyak. Tetapi jika melihat respons komunitas belakangan ini, banyak yang mulai merasakan gejala bernama gacha game fatigue.

Ia menggambarkan kondisi ketika pemain mulai merasa lelah mengikuti begitu banyak game gacha sekaligus. Bukan karena kualitas gamenya buruk, justru karena semua game ini meminta komitmen yang hampir sama. Jadi apakah industri ini sudah tersaturasi dan memproduksi terlalu banyak game gacha?

Gacha Game Fatigue, Ketika Jalan Dibuka oleh Genshin Impact

Gacha Game
Gacha game yang bikin jadi fenomena dunia

Sulit rasanya membahas booming-nya game gacha modern tanpa menyinggung kesuksesan Genshin Impact. Game tersebut mengubah cara banyak orang memandang game free to play. Sebelumnya, banyak pemain menganggap game gratis identik dengan kualitas seadanya. Namun Genshin Impact membuktikan bahwa game free to play bisa memiliki desain dunia yang keren, visual berkualitas tinggi, musik kelas dunia, dan bahkan biaya produksi setara game Triple A.

Kesuksesan tersebut tentu menjadi inspirasi bagi banyak studio. Jika satu game mampu menghasilkan pendapatan yang luar biasa besar melalui model gacha, developer lain pasti ingin mencoba formula serupa. Akibatnya, pasar mulai dipenuhi game dengan konsep yang mirip satu sama lain.

Banyak proyek baru menawarkan eksplorasi dunia serba luas, sistem pertarungan real time, karakter yang dikoleksi lewat gacha, event rutin, serta update setiap beberapa minggu. Kemiripan tidak hanya berhenti di tema. Struktur permainannya sering kali terasa familier bagi pemain yang sudah lama mengikuti genre ini.

Hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Setiap industri memang cenderung mengikuti tren yang sedang sukses. Yang jadi problem adalah jumlah game yang muncul sekarang sudah berada pada titik di mana perhatian pemain mulai terbagi terlalu banyak.

Dev Saingan untuk Rebutan Waktu dan Atensi

Berbeda dengan game premium yang bisa diselesaikan dalam puluhan jam lalu ditamatkan, game gacha live service dirancang untuk dimainkan dalam waktu yang sangat lama. Bahkan developer berharap pemain bertahan selama bertahun-tahun.

Masalahnya, game-game ini memiliki aktivitas yang hampir wajib dilakukan setiap hari. Login harian, menyelesaikan daily quest, menghabiskan stamina, farming material, mengerjakan event terbatas, hingga mengikuti update cerita terbaru. Semua aktivitas tersebut mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit hingga satu jam untuk satu game. 

Namun bayangkan jika kamu memainkan empat atau lima game gacha sekaligus. Waktu bermain yang awalnya terasa ringan perlahan menjadi beberapa jam per hari. Belum lagi ketika beberapa game mengadakan event besar secara bersamaan. Pada akhirnya kita harus memilih game mana yang akan diprioritaskan dan mana yang harus dikorbankan. Dalam game gacha, atensi pemain adalah nomor satu, sehingga mereka mau membuat kamu berlama-lama di game mereka dan tidak punya waktu untuk memainkan game dari kompetitor.

Kualitas Naik Namun Bedanya Semakin Tipis

Nte
Gacha game fatigue

Masih ingat beberapa tahun lalu setiap game gacha memiliki identitas yang cukup jelas, sekarang batas antar game mulai terasa semakin kabur. Hampir semuanya memiliki karakter bergaya anime dengan kualitas visual tinggi. Hampir semuanya menawarkan eksplorasi yang luas. Hampir semuanya menghadirkan cerita per chapter yang terus diperbarui. Bahkan sistem perkembangan karakter, farming perlengkapan, dan pola event seringkali didesain mirip satu sama lain.

Tentu masing-masing game tetap memiliki keunikan tersendiri. Ada yang lebih fokus pada eksplorasi, ada yang mengutamakan pertarungan, dan ada pula yang menonjolkan simulasi bangun pabrik, crafting, atau kehidupan sehari-hari. Namun dari sudut pandang pemain biasa seperti kita-kita ini, perbedaan tersebut masih terbilang kecil agar rela menginvestasikan ratusan jam lagi.

Ketika setiap game menawarkan pengalaman yang sama-sama bagus, kita sudah tidak lagi berbicara dari soal kualitas, tetapi seberapa banyak waktu tersisa kita untuk memainkan game-game ini.

Model live service memang dirancang agar pemain terus kembali setiap hari. Hal ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari desain game gacha sejak lama. Tetapi ketika jumlah game terus bertambah, efek sampingnya menjadi kian terasa. Setiap game memiliki banner karakter baru yang hanya tersedia secara limited. Setiap game memiliki event eksklusif dengan hadiah yang tidak ada rerun dalam waktu dekat. Setiap game menghadirkan cerita baru yang mendorong kamu untuk segera menyelesaikannya sebelum periode event berakhir demi hadiah currency gacha.

Akibatnya, banyak pemain seperti penulis misalnya, tidak lagi merasa bermain karena ingin bersenang-senang. Banyak yang justru bermain karena takut tertinggal. Perasaan inilah yang perlahan memicu kelelahan. Ketika membuka game berubah menjadi kewajiban, hiburan yang seharusnya menyenangkan justru mulai terasa seperti pekerjaan tambahan. Mak dari itu, penulis memutuskan untuk berhenti main game gacha seutuhnya. Setidaknya untuk sekarang.

Mengapa Semuanya Harus Live Service?

Ex Astris
Ex-Astris, anomali diantara banyaknya game gacha

Ada satu pertanyaan menarik lainnya yang turut muncul. Apakah semua game benar-benar harus menjadi live service? Beberapa tahun terakhir, semakin banyak developer memilih model free to play dengan update jangka panjang dibanding merilis game premium yang memiliki akhir cerita yang jelas. Secara bisnis, keputusan ini memang masuk akal karena pendapatan bisa terus mengalir selama komunitas tetap aktif.

Namun dari sisi pemain biasa, kondisi tersebut menciptakan pasar yang semakin padat. Setiap game berlomba mendapatkan perhatian melalui update rutin, kolaborasi dengan IP terkenal, karakter baru, dan berbagai kampanye pemasaran. Lama-kelamaan, pemain mulai merasa jenuh dengan genre serupa.

Gamer Jauh Lebih Selektif

Kalau ada satu perubahan yang cukup positif dari situasi ini, pemain sekarang menjadi jauh lebih kritis. Beberapa tahun lalu, game gacha baru biasanya langsung mendapatkan perhatian besar hanya karena memiliki grafis bagus. Sekarang situasinya jelas sudah berbeda. Komunitas mulai mempertanyakan banyak hal sejak awal. Apakah gameplay-nya benar-benar berbeda? Seberapa ramah sistem gacha yang digunakan? Bagaimana kualitas endgame? Apakah balancing game-nya masuk akal? Apakah game ini menghargai waktu pemain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bukti kalau developer tidak bisa lagi menjiplak formula yang ada dan mengubah sedikit saja resepnya. Sudah tidak lagi cukup hanya menghadirkan karakter menarik dan visual memukau. Game juga harus mampu memberikan alasan kuat mengapa judul tersebut layak dimainkan dalam jangka panjang.

Alasan ini jugalah yang membuat game seperti Dragon Sword: Awakening langsung mendapatkan respons positif ketika rilis di Steam. Tidak semata karena game tersebut bagus, tetapi karena developer mengganti fokus game mereka dari yang sebelumnya free to play gacha, disulap menjadi game premium tanpa gacha ketika rilis.

Kasus ini memang terisolasi karena adanya permasalahan internal antara developer dengan publisher. Tetapi, jika game tersebut bisa sukses hanya dengan menghilangkan sistem gacha, bukankah ia sudah jadi bukti kalau tanpa model bisnis seperti itu pun, game tetap bisa sukses asal memang punya kualitas?

Kelelahan yang Baru Permulaan

Hna
Judul baru dengan karakter daur ulang

Melihat kondisi saat ini, rasanya fenomena gacha game fatigue bukan sekadar tren sesaat. Selama developer terus berlomba membuat game live service baru, sementara waktu luang pemain tetap terbatas, kelelahan semacam ini kemungkinan akan semakin luas dirasakan gamer.

Hanya saja bukan berarti industri game gacha akan mengalami penurunan dalam waktu dekat. Genre ini masih sangat populer dan memiliki komunitas yang besar di berbagai negara. Tetapi pertumbuhan jumlah game tampaknya sudah mulai melampaui kemampuan pemain untuk mengikutinya.

Mungkin beberapa tahun ke depan kita akan melihat semakin banyak gamer yang hanya memainkan satu atau dua game favorit, sementara sisanya hanya dicoba sebentar karena penasaran. Jika ada satu hal saja yang kurang berkenan, bukan tidak mungkin kalau game tersebut akan langsung ditinggalkan.

Apakah kelelahan game gacha ini juga turut kamu rasakan? Pada akhirnya menjadi selektif adalah satu-satunya cara tetap memiliki passion untuk memainkan game gacha di tengah gempuran judul baru yang didesain semenarik mungkin untuk mengisi slot jam main yang kian berkurang ini. Gimana menurut kamu?


Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected]