FK3I dorong penguatan edukasi konservasi Ekek Keling Sunda - ANTARA News Jawa Barat
Bandung (ANTARA) - Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) mendorong penguatan edukasi dan rehabilitasi sebagai bagian dari upaya menjaga keberadaan burung Ekek Keling Sunda di Jawa Barat.
Koordinator FK3I Pusat Dedi Kurniawan di Bandung, Kamis, mengatakan perhatian terhadap Ekek Keling Sunda dapat berjalan beriringan dengan penguatan langkah konservasi.
"Usulan Burung tersebut menjadi maskot menjadi simbol peringatan, yang terpenting bagaimana pemerintah Jawa Barat dan Pusat bekerjasama membangun pusat Edukasi dan rehabilitasi satwa dimaksud," katanya.
Dedi mengatakan penguatan edukasi perlu menyasar masyarakat di sekitar habitat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kepedulian terhadap satwa liar yang dilindungi dan terancam punah.
FK3I juga mengusulkan sosialisasi mengenai pentingnya perlindungan satwa dilakukan di wilayah habitat Ekek Keling Sunda serta kepada masyarakat perkotaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran mengenai satwa tersebut.
"FK3I mengusulkan edukasi di areal keberadaan habitat dan masyarakat umum terkait pentingnya satwa terancam punah sehingga menjadi kepedulian masyarakat sekitar yang dapat mencegah perburuan liar serta edukasi masyarakat perkotaan dalam upaya mitigasi burung ekek," ujarnya.
Menurut Dedi, kajian mengenai populasi dan keberadaan Ekek Keling Sunda juga diperlukan untuk membantu pemerintah menentukan langkah perlindungan yang sesuai dengan kondisi satwa di habitatnya.
"Jawa Barat memiliki Ekosistem Satwa dan Tumbuhan Liar yg sangat kaya. FK3I mendorong pihak Kementerian Kehutanan secara detail mengkaji populasi dan keberadaan khusus satwa ekek tersebut dan membatasi Intervensi manusia ke dalam habitat nya," katanya.
FK3I menyatakan siap mendukung pemerintah dalam penguatan edukasi dan kampanye konservasi Ekek Keling Sunda agar perhatian masyarakat terhadap keberadaan satwa tersebut semakin luas.
Pewarta: Ilham Nugraha
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.