gop-crypto.vip

Fenomena Orang Berutang Lebih Galak Saat Ditagih, Begini Penjelasan Psikologisnya

Daftar Isi

Jakarta -

Pernah mendengar anggapan bahwa orang yang berutang justru menjadi lebih galak saat ditagih? Fenomena ini kerap dianggap sebagai bentuk sikap yang tidak bertanggung jawab.

Dari sudut pandang psikologi, respons tersebut tidak selalu muncul karena niat buruk atau kepribadian seseorang. Tekanan akibat masalah keuangan dapat memicu stres yang memengaruhi cara otak mengelola emosi.

Saat seseorang merasa terpojok, malu, atau harga dirinya terancam karena ditagih utang, respons yang muncul bisa berupa kemarahan. Lantas, mengapa kondisi ini bisa terjadi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alasan Psikologis Orang Berutang Lebih Galak Saat Ditagih

Berikut alasan mengapa orang berutang merespons dengan sikap galak ketika ditagih.

1. Stres Finansial

Dikutip dari laman Healthline, utang bisa menyebabkan kecemasan finansial. Saat masalah keuangan menyebabkan stres berkepanjangan dalam hidup, seseorang mulai mengalami perasaan cemas. Hal ini pada gilirannya memberikan dampak negatif pada kualitas hidup.

Sebuah survei tahun 2021 oleh Student Loan Planner meneliti tren kesehatan mental pada 2.300 peminjam pinjaman mahasiswa dengan tingkat utang yang tinggi. Satu dari 14 responden mengatakan bahwa mereka pernah mempertimbangkan bunuh diri pada suatu titik selama perjalanan dalam mengembalikan pinjaman mereka.

Psikiater sekaligus dokter Fakultas Kedokteran dan Gizi Universitas IPB, dr Riati Sri Hartini, Sp.KJ., M.Sc., mengatakan bahwa respons orang yang berutang lebih galak saat ditagih memang berkaitan dengan stres finansial serta perasaan terancam pada harga diri.

"Dari sisi psikologis dan neurosains, penagihan utang dapat memicu tekanan berat yang mengikis kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Stres finansial dan rasa terancam pada harga diri membuat kemampuan koping dan kontrol emosi menurun," ujarnya, dikutip dari laman IPB.

2. Tekanan Memengaruhi Respons Otak

Secara biologis, tekanan yang dirasakan mengaktifkan amigdala, bagian otak yang berperan sebagai pusat deteksi ancaman. Di saat yang sama, fungsi prefrontal cortex, yang bertanggung jawab atas penilaian rasional dan regulasi emosi, menjadi melemah.

"Kondisi ini membuat otak masuk ke mode fight or flight, sehingga respons yang muncul cenderung defensif dan agresif, bukan reflektif," ucap dr Riati.

Untuk itu, perilaku galak saat ditagih bukan semata-mata persoalan sikap. Hal tersebut merupakan respons psikologis dan biologis terhadap stres, rasa malu, serta ancaman terhadap identitas diri dalam kondisi finansial yang tertekan.

Lebih Galak Saat Ditagih Utang Bukan Gangguan Kejiwaan

dr Riati menegaskan bahwa reaksi galak saat ditagih utang tidak serta-merta menandakan gangguan kejiwaan. Hal tersebut dalam banyak kasus merupakan reaksi wajar saat seseorang merasa tertekan.

"Masalah keuangan membuat tubuh dan pikiran berada dalam kondisi stres. Ketika ditagih, perasaan malu, takut, dan terpojok bisa muncul bersamaan, sehingga orang bereaksi dengan emosi tinggi. Ini lebih mirip refleks orang yang kaget, bukan karena sakit jiwa," katanya.

Jika kemarahan hanya muncul pada situasi tertentu dan tidak terus-menerus, hal tersebut masih termasuk reaksi stres yang normal. Namun, dr. Riati mengingatkan, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai, seperti kemarahan sering muncul di berbagai situasi, sulit dikendalikan hingga menyakiti orang lain, serta disertai keluhan lain, seperti gangguan tidur berat, rasa putus asa berkepanjangan, atau perilaku berisiko.

Cara Menyikapi Orang yang Galak saat Ditagih Utang

Untuk menyikapi kondisi tersebut, dr Riati menyarankan untuk tidak langsung melawan atau menekan orang yang galak saat ditagih utang.

"Biasanya mereka bukan ingin mencari keributan, tetapi sedang tertekan dan kewalahan. Pendekatan yang lebih baik adalah menenangkan situasi, berbicara dengan nada pelan, tidak menyudutkan, dan mengajak mencari solusi bersama," ujarnya.

Menurut dr Riati, pendekatan yang tenang bisa membantu menurunkan emosi sehingga pembicaraan menjadi lebih rasional.

"Intinya, orang yang galak saat ditagih utang bukan perlu dimarahi, tetapi ditenangkan dan diajak mencari jalan keluar agar masalah tidak semakin besar," tutupnya.

Pada April 2024, viral di media sosial seorang wanita bernama Riska dari Sidowungu, Menganti, Gresik melempar panci hingga mangkuk ke wanita bernama Arum saat ditagih utang.

Dalam video yang beredar, terdengar teriakan provokasi tetangga saat Rizka melempar mangkuk. Keduanya sempa terlibat saling pukul hingga suasana menjadi ricuh.

Kapolsek Menganti AKP Roni Ismullah menjelaskan, Riska memiliki utang di Koperasi Mekar sebanyak Rp 4,5 juta dengan angsuran sebesar Rp 100 ribu.

"Utangnya Rp 4,5 juta. Bayarnya tiap Minggu sebesar 100 ribu selama 50 kali," kata Roni kepada detikJatim, Kamis (4/4/2024).

Namun, karena kondisi ekonomi yang sulit, Rizka tidak bsia membayar angsuran. Dia hanya menyuruh Arum bersabar untuk menunggu dirinya memiliki uang.

"Yang berutang ini menunggak 4 kali angsuran. Jadi belum bayar 4 Minggu sebesar Rp 400 ribu," tambahnya.

Namun, akhirnya kasus ini diselesaikan dengan damai. Rizka mengakui kesalahannya dan memina maaf karena sudah melempar mangkuk. Dia juga sudah mengganti rugi biaya pengobatan Arum dan membuat pernyataan tidak akan mengulang perbuatannya.

"Sudah membuat surat pernyataan damai dan mengganti biaya pengobatan korban, karena keduanya tidak melanjutkan perkara itu dan memilih untuk berdamai di selesaikan secara kekeluargaan," pungkasnya.

(elk/tgm)