Eskalasi Konflik AS-Iran, Rupiah Ditaksir Ambruk Lagi ke Rp17.800
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik serta arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rp17.790
Pasar saat ini kembali mencermati potensi perubahan arah kebijakan suku bunga AS setelah sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pernyataan bernada hawkish.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.760-Rp17.800," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (3/9/2026).
Pada perdagangan Rabu, rupiah ditutup melemah 19 poin ke level Rp17.763 per USD. Mata uang Garuda sebelumnya sempat melemah hingga 35 poin sebelum berakhir pada level tersebut.
Tekanan terhadap rupiah datang ketika pasar global kembali dihadapkan pada eskalasi konflik AS dan Iran.
Militer AS menyatakan telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran.
Serangan tersebut menyasar sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), termasuk situs pertahanan udara, sistem radar, aset dan fasilitas maritim, kemampuan penebaran ranjau, serta situs komunikasi.
Eskalasi tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap prospek harga energi global.
Konflik yang melibatkan negara-negara utama di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi pasokan dan distribusi energi sehingga turut menjadi perhatian pelaku pasar keuangan.
Presiden AS Donald Trump juga kembali mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran. Di sisi lain, Iran membalas serangan AS pada Selasa waktu setempat.
Situasi tersebut membuat ketidakpastian geopolitik kembali menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dalam menentukan posisi di aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Dalam kondisi ketidakpastian meningkat, dolar AS cenderung mendapatkan perhatian investor sebagai aset yang relatif lebih aman. Kondisi ini dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Selain geopolitik, arah kebijakan The Fed menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan pasar.
Retorika hawkish sejumlah pejabat bank sentral AS kembali memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga.
Pasar kini memperhitungkan risiko bahwa The Fed dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama apabila tekanan inflasi AS belum menunjukkan penurunan yang cukup.
Gubernur The Fed, Michael Barr sebelumnya mengatakan, inflasi yang terus berada di atas target menciptakan risiko terhadap perekonomian.
Barr menyatakan dirinya dapat mendukung suku bunga tetap stabil apabila memiliki keyakinan bahwa inflasi sedang melambat.
Namun, dia juga membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak segera bergerak turun.
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi penting bagi pasar valuta asing.
Suku bunga AS yang lebih tinggi atau ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS.
Kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga datang dari perkembangan inflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 0,21% secara bulanan atau month-to-month (MtM). Angka tersebut berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli 2026.
Secara tahunan atau year-on-year (YoY), inflasi Agustus tercatat 3,19%, meningkat dibandingkan 2,88% pada bulan sebelumnya.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi besar terhadap inflasi pada periode tersebut.
Kenaikan harga pangan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi daya beli masyarakat apabila berlangsung secara berkelanjutan.
Dari sisi kebijakan moneter, perkembangan inflasi domestik juga menjadi salah satu indikator yang akan diperhatikan dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Dengan demikian, pasar tidak hanya mencermati perkembangan eksternal seperti konflik geopolitik dan kebijakan The Fed, tetapi juga melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Meski demikian, terdapat sejumlah sentimen positif dari perekonomian domestik yang dapat menjadi penahan tekanan terhadap rupiah.
BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar. Angka tersebut meningkat 6,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja ekspor terutama ditopang oleh sektor nonmigas. Nilai ekspor nonmigas pada Juli 2026 tercatat USD25,45 miliar atau meningkat 6,84% secara tahunan.
Sementara itu, ekspor migas tercatat USD0,79 miliar atau turun 14,58% dibandingkan Juli 2025.
Kinerja ekspor yang tetap tumbuh menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menopang posisi eksternal Indonesia.
Namun, pengaruhnya terhadap rupiah tetap akan bergantung pada perkembangan sentimen global dan arus modal di pasar keuangan.
Dalam jangka lebih panjang, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2027 berada di kisaran Rp17.300-Rp17.800 per USD.
Proyeksi tersebut disampaikan bersamaan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 yang berada di kisaran 5,2%-6%.
Destry juga memperkirakan inflasi tetap berada dalam sasaran Bank Indonesia serta kondisi neraca pembayaran Indonesia tetap sehat.
Cadangan devisa yang memadai dan daya tarik investasi juga menjadi faktor yang diharapkan dapat mendukung stabilitas pasar keuangan.
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tetap akan sangat bergantung pada keseimbangan antara tekanan eksternal dan fundamental ekonomi domestik.
Untuk jangka pendek, eskalasi konflik AS-Iran dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi sentimen yang perlu dicermati investor.
Sementara itu, dari sisi domestik, perkembangan inflasi, kinerja perdagangan, serta prospek pertumbuhan ekonomi akan menjadi faktor penting dalam menentukan daya tahan rupiah.
Dengan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dengan kecenderungan melemah. Ibrahim memperkirakan mata uang Garuda berada dalam rentang Rp17.760-Rp17.800 per USD.