gop-crypto.vip

Eksklusif, Pakar HI UIN Jakarta, Teguh Santosa Meneropong Perdamaian AS dan Iran

Bagikan:

Konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran 28 Februaei 2026, masih panas. Belum tahu kapan perang akan berakhir. Namun pakar Hubungan Internasional Universitas Negeri Jakarta (UIN) Dr. Teguh Santosa tetap optimis akan ada perdamaian.

***

Ambisi AS untuk menundukkan Iran masih belum pupus. Meskipun dengan sekuat tenaga Iran bertahan dan menyerang balik ketika Donald Trump memerintahkan pasukan untuk menyerang. Termasuk di masa berkabung, saat pemakaman pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Mojtabah Khamenei, anak dari Ayatollah Ali Khamenei yang melanjutkan estafet kepemimpinan memilih tidak berkompromi berhadapan dengan Donald Trump. Saat Amerika Serikat menyerang karena menggap Iran mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, reataliasi lagsung dilakukan Iran dengan menyerang sejumlah fasilitas militer AS di negara-negara Teluk. “Ibarat pemain bola skornya 1-1, serangan dibalas serangan,” katanya.

Menurut Teguh Santosa, perdamaian itu sejatinya adalah masa jeda antara perang yang satu dengan perang berikutnya. “Dan perdamaian itu bisa panjang atau bisa pendek tergantung pada apakah kekuatan-kekuatan yang sedang bertika itu memiliki kekuatan seimbang atau tidak. Kalau kekuatannya seimbang Insya Allah panjang damainya. Tetapi kalau kekuatannyatidak seimbang, kelihatannya yang powerful akan menimpa yang powerless,” uranya.

Meski jalan damai masih sulit ditemukan. Optimis untuk menuju ke sana tetap ada. “Intinya kita tetap optimisakan adanya perdamaiandi Timur Tengah. Dan Indonesia bisa menjadi salah satu pemain kunci,” ujar Teguh Santosa kepada Edy Suherli dan Bambang ErosdanMoch Prayoga Adi Pradana dari VOIyang menemuinya di bilangan Kebayoran Baru Jakarta Selatan, 10 Juli 2026.

Dr. Teguh Santosa, Pakar Hubungan Internasional UIN Jakarta. (Foto 2: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Dr. Teguh Santosa, Pakar Hubungan Internasional UIN Jakarta. (Foto 2: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)

Dunia dikejutkan dengan serangan Amerika Serikat ke Iran saat Iran sedang dalam masa berkabung dan bersiap memakamkan Pemimpin Tertinggi mereka, mendiang Ali Khamenei. Bagaimana Anda melihat urgensi dan momentum serangan ini?

Gencatan senjata sementara yang disepakati oleh Iran dan Amerika Serikat selama 60 hari itu, salah satu poin pentingnya adalah Iran tidak melakukan pungutan atau tidak menghalangi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Nah, tetapi karena beberapa waktu sebelum itu terlihat ada upaya dari Iran untuk mengganggu kelancaran pelayaran di sana, maka AS menganggap itu sebagai pelanggaran dari MoU. Itu sebabnya kemudian serangan dilancarkan ke Bandar Abbas. Dan seperti biasa, Iran kemudian menganggap bahwa mereka akhirnya punya hak juga untuk melakukan serangan balasan ke beberapa pangkalan militer AS di negara-negara Teluk. Itulah penyebab saling serang.

Tetapi Donald Trump menyampaikan hal itu ketika dia berada di Inggris untuk konferensi tingkat tinggi NATO. Dalam perjalanan di atas pesawat kembali ke Washington DC, kepada wartawan dia mengatakan bahwa sudah ada komunikasi terbaru antara Iran dan AS. Kalau dari air mukanya, tapi memang Trump ini juga pemain watak. Cuma kalau dari air mukanya kemudian dia mengatakan bahwa dia tidak tahu apakah insiden itu akan membuat perang ini menjadi terbuka dan berskala penuh lagi atau tidak. Namun, kira-kira dia tidak mengatakan demikian, dia pun menyesalkan.

Sebelum konflik lewat Selat Hormuz itu memanas, sekarang persoalannya mengapa jadi pelik seperti ini?

Memang ada persoalan yang cukup pelik dari sudut pandang hukum internasional di perairan Hormuz. Menurut UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) 1982, Selat Hormuz itu adalah laut internasional. Sehingga yang berlaku di situ adalah yang disebut sebagai transit passage atau wilayah yang boleh dilewati oleh kapal militer, kapal dagang, maupun kapal sipil apa pun. Yang berlaku di situ adalah 12 mil laut dari garis pantai sebagai wilayah milik Iran. Tetapi di luar 12 mil laut itu, merupakan laut internasional.

Sementara Iran tidak meratifikasi UNCLOS 1982. Iran berpegangan pada naskah UNCLOS 1958 yang tidak mengatur tentang teritori laut maupun zona ekonomi eksklusif. Sehingga bagi Iran, ini adalah wilayahnya. Dan memang Iran selalu melihat bahwa di wilayah sempit ini terdapat banyak pangkalan militer AS. Sehingga mereka merasa tidak perlu meratifikasi UNCLOS 1982. Sebelum serangan AS dan Israel atas Iran pada 28 Februari, Iran tidak menutup Selat Hormuz. Tetapi konsepsi mereka tentang Selat Hormuz itu seperti yang saya sampaikan tadi.

AS juga bukan negara yang meratifikasi UNCLOS 1982. AS menganut paham yang mereka sebut sebagai FONOPS (Freedom of Navigation Operations). Jadi dalam konteks FONOPS ini, mereka tidak menerima hambatan terhadap lalu lintas di laut internasional. Kadang-kadang AS juga menguji wilayah teritorial laut kita. Laut Nusantara kita juga merupakan salah satu poin yang diatur dalam UNCLOS 1982.

Misalnya?

Karena Laut Nusantara adalah teritori kita, tetapi kita juga tidak greedy. Kita memberikan akses kepada pelintasan kapal internasional dan penerbangan militer internasional melalui yang kita sebut sebagai Alur Laut Kepulauan Indonesia. Dalam konteks Alur Laut Kepulauan Indonesia atau ALKI 1, 2, dan 3, maka Laut Jawa misalnya, itu bukan laut internasional. Jadi kalau ada kapal AS, baik sipil maupun militer, hendak melintas, tinggal memilih lewat ALKI 1, ALKI 2, atau ALKI 3. Beberapa kali AS mencoba menguji hal tersebut. Pada tahun 2003, misalnya, yang melibatkan F-16 Angkatan Udara kita yang harus terbang untuk mencegat F-18 AS. Itu kisah yang sangat seru di utara Pulau Bawean, Jawa Timur. Jadi karena FONOPS ini, mereka tidak mau mengakui pembatasan yang menurut mereka berada di laut internasional.

Nah, kembali ke Selat Hormuz. Jadi inilah dilema yang kita hadapi. Bagi Iran, Selat Hormuz itu adalah laut teritorial mereka. Inilah yang kemudian membuat Iran memiliki alasan untuk melakukan pengetatan dan tetap melakukannya setelah MoU 60 hari itu. Sementara bagi AS, hal tersebut dianggap sebagai pelanggaran.

Sebelumnya Donald Trump sempat mengatakan akan memberikan waktu sepekan untuk berkabung bagi Iran, tetapi kenyataannya diserang juga?

Ya, karena tadi itu. AS menganggap Iran melanggar poin penting dalam MoU perdamaian sementara selama 60 hari tersebut. Itu sebabnya. Kemudian sudah diretaliasi, kalau dalam istilah sepak bola skornya sudah imbang. Donald Trump mengatakan dia tidak tahu apakah setelah ini akan terjadi perang terbuka seperti sebelumnya atau tidak. Banyak negara kemudian meminta kedua belah pihak untuk menahan diri. Jalan menuju perdamaian ini memang tidak mudah.

Dan perdamaian sendiri dalam studi konflik ada dua jenis. Pertama disebut sebagai negative peace, yaitu keadaan ketika tidak ada kekerasan, seperti ceasefire atau gencatan senjata. Orang ingin bergerak ke arah yang kedua, yaitu positive peace. Kalau positive peace itu adalah hubungan yang normal layaknya dua sahabat, jadi lebih bersifat struktural. Untuk mencapai positive peace memang tidak mudah. Pertama tentu harus melewati negative peace. Dan sekarang sedang menuju ke positive peace.

Dr. Teguh Santosa, Pakar Hubungan Internasional UIN Jakarta. (Foto 3: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Dr. Teguh Santosa, Pakar Hubungan Internasional UIN Jakarta. (Foto 3: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)

Sekarang ini Iran masih dalam masa berkabung dan menjalani prosesi pemakaman. Bagaimana melihat Iran mengoptimalkan momentum ini untuk kepentingan geopolitiknya?

Iran memperlihatkan jutaan orang yang hadir dalam pemakaman. Itu merupakan ekspresi dukungan yang begitu besar terhadap Revolusi Islam Iran. Karena yang dimakamkan adalah pemimpin tertinggi Republik Islam Iran. Jadi inilah yang diperlihatkan Iran kepada dunia internasional. Kalau misalnya pada bulan Januari lalu ada upaya dari AS dan Israel untuk memengaruhi opini publik di Iran agar mereka menggulingkan pemerintahan, sekarang diperlihatkan bahwa inilah para pendukung yang akan mereka hadapi jika ingin melakukan hal tersebut.

Kehadiran delegasi dari berbagai negara juga digunakan untuk memperlihatkan dukungan yang cukup luas dari negara-negara lain. Misalnya ada Arab Saudi. Arab Saudi yang selama ini dikesankan sebagai teman AS, misalnya, mereka hadir. Walaupun sebetulnya sejak 2023 sudah terjadi pembicaraan yang cukup intens antara Arab Saudi dan Iran yang ditengahi oleh China. Hubungan baik itu sudah mulai terlihat antara Iran dan Arab Saudi. Pakistan dan Turki juga hadir. Kemudian hadir juga Hamas, Houthi, dan Hezbollah.

Yang menarik, ketika delegasi Arab dan Turki hadir, dibacakan ayat yang berbeda. Bagaimana Anda melihatnya?

Iran memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan pesan diplomatik lewat ayat suci Al-Qur'an tersebut. Untuk Arab Saudi dibacakan ayat tentang Perang Badar karena Arab Saudi dianggap berada di pihak sana. Untuk Turki, misalnya, terkait sikap diamnya. Kemudian untuk teman-teman seperti China dan Rusia, dibacakan ayat yang berbicara tentang syahid dan kehidupan kekal. Barangkali bisa ditafsirkan seperti itu. Sah saja Iran melakukan hal tersebut.

Namun setiap negara pasti memiliki hitungan dan kepentingannya masing-masing. Dan setiap negara tidak boleh menukar kepentingan nasionalnya dengan kepentingan nasional negara lain.

Saat pemakaman Ali Khamenei, Indonesia awalnya diwakili oleh Duta Besar. Kemudian muncul kritik kepada pemerintah, lalu yang diutus adalah Menteri Luar Negeri, Ketua MPR, serta rombongan. Bagaimana melihat perubahan ini?

Saya juga dikirimi undangan oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta untuk menghadiri pemakaman di Iran. Prosesi pemakaman itu tidak singkat, tetapi berlangsung panjang, hingga puncaknya pada pemakaman di Mashhad pada 9 Juli 2026. Saya tidak bisa ke sana karena ada acara lain yang sudah terjadwal sejak lama.

Kalau kita bicara soal Indonesia, pada saat yang bersamaan kita juga kedatangan banyak tamu negara. Presiden Belarusia datang berkunjung, begitu juga Perdana Menteri Singapura, Perdana Menteri India, dan Tony Blair. Ini adalah hari-hari yang berimpitan dengan prosesi pemakaman yang panjang tersebut. Maka pada awalnya ditugaskan Duta Besar Indonesia di Iran. Berikutnya hadir Menteri Luar Negeri, Ketua MPR, serta perwakilan dari NU dan Muhammadiyah pada pemakaman 9 Juli 2026. Jadi mengapa ini menjadi persoalan? Kritik boleh saja, tetapi tolong diperhatikan juga rangkaian peristiwanya secara utuh.

Kalau dikomparasikan, Indonesia dan Malaysia dalam soal Iran, Malaysia lebih pro, sedangkan Indonesia relatif netral. Bagaimana Anda melihat hal ini?

Kalau kita mau bicara Iran dan Malaysia, lalu mengaitkannya dengan hubungan Malaysia dan negara lain, dalam hal ini Amerika Serikat, Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohamad pada tahun 1997 memiliki pandangan yang berbeda. Mahathir bersikap anti-IMF, sedangkan Anwar Ibrahim yang saat itu menjadi wakilnya justru pro-IMF. Jadi maksud saya, jangan terlalu menyederhanakan persoalan.

Iran misalnya dianggap lebih bersahabat dengan Malaysia. Tetap saja bagi Malaysia, apa pun yang mereka lakukan, pertimbangan utamanya adalah national interest mereka. Jadi kita juga jangan menganggap bahwa national interest Malaysia harus sama dengan national interest Indonesia. Itu sama kelirunya. Jadi tidak apa-apa jika mereka memiliki pertimbangan yang berbeda.

Misalnya soal Venezuela. Ketika Maduro ditangkap pada 3 Januari, Anwar Ibrahim langsung menyampaikan protes. Kemudian publik Indonesia menganggap bahwa sikap Anwar Ibrahim itulah sikap yang benar. Sehingga ketika pemerintah Indonesia tidak melakukan protes dengan cara yang sama seperti Anwar Ibrahim, pemerintah dianggap salah.

BACA JUGA:


Jadi hubungan Malaysia dan Venezuela sebelum Maduro jatuh memang sedang baik?

Hubungan antara Venezuela dengan Malaysia pada hari-hari atau beberapa bulan terakhir pemerintahan Maduro memang sedang bagus, terutama untuk urusan minyak. Nah, tiba-tiba Maduro ditangkap. Sehingga akhirnya muncul protes dari pemerintah Malaysia dengan kalimat-kalimat seperti itu.

Sementara sikap Indonesia adalah menyayangkan dan menyesalkan. Itu kan urusan antara Amerika Serikat dengan Venezuela. Biar mereka menyelesaikannya sendiri.

Kita harus melihatnya dari helicopter view. Masa sikap Prabowo harus disamakan dengan sikap negara lain? Menurut saya, itu tidak pantas. Kita tergantung pada Amerika Serikat, itu salah. Kita tergantung pada China, itu juga salah. Kita harus bergantung pada negara kita sendiri.

Ini era yang saya sering sebut sebagai inclusive security. Bahwa nasib setiap negara ditentukan oleh negara itu sendiri. Kita tidak boleh bersandar pada sistem internasional. Saya melihat Presiden Prabowo dan jajarannya sedang berusaha melakukan perubahan yang sifatnya paradigmatik. Barangkali hal itu menciptakan situasi yang tidak nyaman, baik bagi beberapa kelompok yang selama ini nyaman di dalam negeri maupun bagi beberapa negara tetangga atau sahabat kita yang selama ini nyaman dengan sikap kita.

Ke depan seperti apa prediksi untuk perdamaian di Timur Tengah?

Bagi AS, mungkin mereka sedang buying time. Mereka berharap perdamaian dengan Iran hanya bisa terjadi manakala terjadi perubahan cara pandang rezim di Iran terhadap Amerika Serikat dan dunia internasional.

Bagi Iran, barangkali juga harus terjadi perubahan cara pandang rezim di AS dan Israel terhadap Iran. Baru bisa terjadi perdamaian itu. Tetapi kalau point of view mereka terhadap satu sama lain tidak berubah, maka tidak akan terjadi upaya untuk memperbaiki hubungan.

Apakah mungkin ke depan AS dan Iran bersahabat?

Sebelum Revolusi Islam Iran pada 1979, kedua negara ini bersahabat. Atau kita lihat Venezuela dengan Amerika Serikat. Sebelum revolusi Hugo Chávez melalui pemilu pada 1999, hubungan keduanya juga baik. Kita lihat Kuba. Sebelum revolusi Fidel Castro dan Che Guevara, hubungan Kuba dan Amerika Serikat juga baik. Ada banyak hal yang bisa membuat hubungan satu negara dengan negara lain menjadi baik atau buruk. Selalu ada kemungkinan untuk perdamaian.

Sebenarnya Ali Khamenei sudah memfatwakan larangan senjata nuklir di Iran. Fatwa itu sudah disampaikan berkali-kali oleh Ali Khamenei.

Mengapa senjata nuklir diharamkan?

Karena senjata nuklir bertentangan dengan prinsip perang dalam Islam. Perang dalam Islam dimungkinkan dalam konteks pembelaan atau balasan. Dan yang kedua, targetnya harus diskriminatif. Yang boleh diserang dalam perang menurut Islam adalah pihak-pihak kombatan. Tumbuhan tidak boleh diserang, hewan tidak boleh diserang. Sementara senjata nuklir, sekali meledak, tidak bersifat diskriminatif. Semua akan hancur. Karena itulah senjata nuklir dianggap bertentangan dengan prinsip perang dalam Islam dan kemudian diharamkan.

Perdamaian itu adalah masa di antara dua perang. Dan perdamaian itu bisa panjang atau bisa pendek tergantung pada apakah kekuatan-kekuatan yang sedang bertikai memiliki kekuatan yang seimbang atau tidak. Kalau kekuatannya seimbang, Insya Allah damainya akan panjang. Tetapi kalau kekuatannya tidak seimbang, kelihatannya yang powerful akan menimpa yang powerless.

Intinya, kita tetap optimistis akan adanya perdamaian di Timur Tengah. Dan Indonesia bisa menjadi salah satu pemain kunci.

Teguh Santosa, Belajar dari Ketangguhan Iran Menghadapi Kesulitan

Dr. Teguh Santosa, Pakar Hubungan Internasional UIN Jakarta. (Foto 4: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Dr. Teguh Santosa, Pakar Hubungan Internasional UIN Jakarta. (Foto 4: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)

Teguh Santosa sudah beberapa kali berkunjung ke Iran. Dari kunjungan itu ia menyimpulkan bahwa Iran adalah bangsa yang tangguh. Meski mendapat tekanan ekonomi dari negara-negara Barat, mereka mampu bertahan.

“Pertama kali berkunjung ke Iran pada November 2011. Waktu itu momennya adalah pameran pers internasional di Teheran. Dan saya sangat terkesan karena media tumbuh subur di sana. Tahun itu stan media yang ikut banyak, stan buku juga banyak,” ungkap Teguh sembari menambahkan bahwa pers di Iran sangat terbuka.

Pemerintah Iran, lanjut Teguh, sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Teknologi yang mereka gunakan untuk kamera dan segala macam itu hebat sekali. Tahun 2011 saya belum melihat kamera seperti itu digunakan di Indonesia, sementara mereka sudah lebih dulu memilikinya. Hebat Iran, padahal saat itu mereka sudah dikenai sanksi dunia,” ujar Teguh yang kala itu membuka stan pameran dari media tempatnya berkarya, Rakyat Merdeka.

Pada momen itu hadir pula mendiang Margiono yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua PWI.

“Karena Pak Margiono akan memberikan sambutan, beliau meminta saya menyusun naskah pidatonya,” kenangnya.

Usai pameran, ia dan rombongan melanjutkan kunjungan ke Kota Qom.

“Di Kota Qom kami diajak ke tempat Imam Khomeini. Rumah saat beliau masih kecil. Dan ke tempat-tempat suci lainnya,” katanya.

Yang menarik, lanjut Teguh, ia juga bertemu dengan seorang poliglot (orang yang menguasai banyak bahasa).

“Ketika itu dia menguasai 19 bahasa asing, namanya Ali Pirhani. Dia kaget saat mengetahui Bahasa Indonesia sangat mirip dengan Bahasa Malaysia. Saya jelaskan soal itu kepadanya. Saya juga bilang dia harus ke Indonesia agar semakin banyak bahasa yang dikuasai,” lanjutnya.

Meski dikenai sanksi, teknologi Iran tidak kalah dengan teknologi negara-negara Barat.

“Saat kunjungan itu kami juga dibawa ke pusat-pusat teknologi milik Iran. Termasuk teknologi kloning hewan. Kalau di Barat ada domba hasil kloning bernama Dolly, mereka juga sudah mengenal teknologi kloning dan stem cell yang maju. Jadi teknologi Iran ini sangat maju,” ujarnya.

Wanita Iran Modis

Dr. Teguh Santosa, Pakar Hubungan Internasional UIN Jakarta. (Foto 5: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Dr. Teguh Santosa, Pakar Hubungan Internasional UIN Jakarta. (Foto 5: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)

Kunjungan berikutnya dilakukan Teguh pada Maret 2023. “Saya melakukan kunjungan ke Teheran, Qom, dan Isfahan. Itu terjadi tidak lama setelah meletus demonstrasi besar di sejumlah kota di Iran,” katanya.

Demo besar itu, lanjut dia, dipicu oleh seorang perempuan yang disebut dipukuli polisi karena tidak mengenakan jilbab.

“Waktu itu saya melihat banyak perempuan yang tidak lagi memakai hijab atau jilbab. Meski demikian, sebagian besar tetap mengenakan hijab,” ujarnya.

Pemerintah Iran, kata Teguh, memiliki penjelasan tersendiri mengenai tindakan mereka meredam aksi demonstrasi tersebut. Namun kelompok masyarakat sipil juga memiliki penjelasan yang berbeda. Begitu pula negara-negara Barat yang memanfaatkan situasi tersebut memiliki narasi mereka sendiri.

“Karena setiap pihak punya kepentingan. Jadi sulit menyimpulkan siapa yang benar dalam urusan ini,” lanjutnya.

Soal busana, Teguh teringat pada kunjungan pertamanya ke Iran.

“Saat itu saya melakukan eksperimen kecil. Saya berkunjung ke pasar tradisional di Teheran. Meski perempuan Iran berhijab, mereka tetap modis. Itu terlihat dari sepatu yang mereka kenakan, sangat fashionable. Jadi mereka tidak tertinggal meski sebagian besar berhijab,” katanya.

The Beauty of Sanction

Dr. Teguh Santosa, Pakar Hubungan Internasional UIN Jakarta. (Foto 6: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Dr. Teguh Santosa, Pakar Hubungan Internasional UIN Jakarta. (Foto 6: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)

Isfahan merupakan salah satu kota terindah di Iran. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa setengah dunia ada di Isfahan. “Kota Isfahan memang indah sekali,” katanya.

Selain itu, Isfahan juga merupakan kota yang majemuk. “Di Isfahan ada komunitas Armenia. Mereka, seperti namanya, berasal dari Armenia,” katanya.

Meski dikenai sanksi Barat, kehidupan di kota-kota yang ia kunjungi di Iran terlihat normal. Terkait sanksi ini, ada hal menarik yang diungkapkan oleh Duta Besar Iran pada 2016.

“Saat makan malam di Kedutaan Besar Korea Utara, yang hadir antara lain Duta Besar Korea Utara sebagai tuan rumah, Duta Besar Rusia Ludmila Vorobieva, Duta Besar Iran Mahmoudi, Ibu Rachmawati Soekarnoputri, dan saya sendiri,” katanya.

Saat itu, lanjut Teguh, Duta Besar Iran mengungkapkan istilah the beauty of sanction.

“Jadi dengan mendapat sanksi, orang Iran dipaksa menjadi mandiri dan kreatif. Dan yang terlihat sekarang, mereka bisa bertahan serta menghadapi gempuran AS. Ini pelajaran yang bisa dipetik dari Iran. Meski dikenai sanksi, mereka tetap bisa bertahan. Ada hikmah di balik sanksi yang ada. Makanya muncul istilah the beauty of sanction,” kata Teguh Santosa.

"Ini pelajaran yang bisa dipetik dari Iran. Meski dikenai sanksi, mereka tetap bisa bertahan. Ada hikmah di balik sanksi yang ada. Makanya muncul istilah the beauty of sanction,"

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+