Eksklusif Float: Ingin Float2Nature Bisa Menghidupi Orang-Orang di Baliknya - Pophariini
Biasanya saya hanya menatap poster acara tahunan satu ini dari layar handphone, sambil berandai kapan ya bisa merasakan keseruannya. Float2Nature 2026 akhirnya menjadi kesempatan pertama saya untuk mengikuti langsung rangkaian acara yang digelar Float.
Perjalanan dimulai dari Floatlab, Gunung Putri, pada 3 September 2026 sekitar pukul 02.41 WIB, sesuai keterangan waktu pada foto yang saya tangkap beberapa saat sebelum mikrobus tancap gas.
Satu mikrobus saya tumpangi bersama manajer Float, rekan media nasional, dan tim dokumentasi. Tak langsung menuju penginapan Los Londos, Batukaras, perjalanan yang seharusnya kurang dari 8 jam itu memakan waktu lebih lama karena singgah beberapa kali untuk istirahat dan makan.
Bukan karena saya menganggap mereka sebagai idola atau lantaran saya pecinta film 3 Hari untuk Selamanya, namun lagu “Sementara” dan beberapa trek lainnya punya kesan tersendiri di hidup ini.
Wangi udara pantai mulai tercium. Rombongan akhirnya tiba sore di penginapan. Matahari masih menyinari berbagai sudut, pertanda cuaca cukup bersahabat menyambut kedatangan kami. Malam harinya, rombongan melakukan briefing di pendopo Los Londos untuk mengecek ulang tugas masing-masing.
Rangkaian acara Float2Nature, Jumat, 4 September 2026, dibuka dengan Beach Clean Up. Sampah dan sedotan menjadi item yang paling banyak ditemukan pagi itu, membuat kampanye antiplastik di berbagai kafe atau tempat makan dan minum terasa kurang efektif jika di daerah tersebut masih banyak ditemukan sampahnya.

Beach Clean Up Float2Nature / Dok. Pohan
Keesokan harinya, 5 September 2026 sekitar pukul 09.40 WIB, saya mendapat kesempatan menemui para personel Float, yaitu Meng, Binsar, David, dan Timur, untuk sesi wawancara eksklusif ini. Simak langsung.
‘Constant Changes’ terdengar seperti pernyataan yang cukup besar untuk band yang sudah berjalan hampir 22 tahun. Apa perubahan paling besar yang kalian rasakan dalam diri Float, bukan sebagai musisi, tetapi sebagai manusia selama mengerjakan EP ini?
Meng: Yang pasti gue tambah tua, dalam ya sepanjang perjalanan gue selama 52 tahun, banyak banget pasti yang berubah lah. Apalagi dipertegas sama perubahan-perubahan gede yang skalanya dunia gitu, kayak pandemi kemarin. Itu gue rasa bukan cuma gue doang kali yang berubah, semua juga berubah.
Binsar: Kalau gue, lebih bijak aja menyikapi banyak hal. Kalau pintar mah, udah pada pintar teman-teman gue. Cuma menyikapi hal-hal itu kayaknya lebih bijak, lebih bukan tentang benar atau salah lagi. Tapi lebih kayak bagus atau baik atau enggak.
David: Ya, hampir sama, sama Meng sama Binsar. Perubahan sebagai manusia dan pas udah. Apalagi kalau dilihat dari pas gabung sama Float. Jadi perjalanan dari awal-awal Float, terus-terus, ada Covid ya, dan juga dari filosofinya Binsar, ya itu, bukan tambah pintar sih, tambah bijak, jadi lebih menilainya ini baik atau tidak, bukan bagus atau buruk lagi, baik atau tidak.
Timur: Sama sih, tapi tambah bandel gara-gara anak-anak SoundOn [tertawa].
Meng: Tapi bandelnya bijak.
Binsar: Bandelnya bijak.
Meng: Vodka pagi-pagi tapi bijak.
Kalian sempat ingin segera menyelesaikan album setelah F2N sebelumnya, tetapi prosesnya justru berjalan sampai empat tahun. Apa yang sebenarnya terjadi selama empat tahun itu? Dan pernahkah ada titik ketika kalian merasa EP ini mungkin tidak akan selesai?
Meng: Tapi yang jelas kalau gue bikin lirik itu karena selama ini yang bikin lirik gue doang. Sebelum akhirnya ada “Mirror Song” yang gue punya, akhirnya gue punya partner nulis lirik nih, Binsar. Gue inget banget gue sempat komplain ke lo pada kan, gue makin susah nih bikin lirik. Rasanya gue makin lama bikin lirik lagu, terus lu bilang, lu gak usah terlalu banyak mikir, Meng. Inget gak lo. Ya, semuanya masing-masing punya sarannya sendiri. Tapi yang jelas, gue emang ngelewatin masa-masa di mana gue rasanya lebih susah untuk nulis lirik dibanding bikin musik ya. Maksudnya, musik tuh kayaknya lebih gampang dibanding bikin lirik. Gue rasanya kehabisan cerita, atau bukan cuma kehabisan cerita. Giliran mau cerita, ceritanya kegedean untuk dimasukkin ke dalam satu lagu. Tapi akhirnya, ya gue akhirnya denger mereka semua lah, yang penting udahlah, emang harus di-push. Kalau enggak, gak jalan-jalan nih. Nah, akhirnya gue lakuin itulah. Selama empat tahun itu, ya gue belajar lah untuk ngalahin diri gue sendiri.
Dari trek-trek yang ada di album, mana yang pertama dan yang terakhir rampung?
Meng: Yang pertama duluan malah yang baru rilis, “Yang Kembali Pulih”, “Emily”, “Dimabuk Cahaya”, baru “The Mirror Song (Constant Change)”.
Kenapa sampai lo kesulitan menulis lirik?
Meng: Tapi macem-macem sih. Maksudnya, alasan gue bisa banyak nih. Kadang-kadang gue ngerasa kayak, gue gak punya pendapat tapi disuruh tunjuk tangan kalo di kelas. Eh, tunjuk tangan kamu. Karena gue gak punya pertanyaan, gue gak punya pendapat. Tapi gue kok harus nulis sesuatu. Itu pertama. Kedua, gue pengen cerita tapi ceritanya terlalu banyak. Gue gak bisa gue sempitin nih jadi satu cerita. Ketiga, gue bikin batasan sendiri. Gue ngerasa gue gak mau bikin lagu kayak “Sementara” lagi. Gue mau bikin sesuatu, gue ngerasa gue harus bikin sesuatu yang baru. Terus akhirnya gue capek sendiri. Kayaknya terlalu banyak harus-harusnya gitu. Sementara gue bikin lagu “Sementara”, “Pulang” di zaman yang belum ada Float, yang di mana gue bikin lagu itu bener-bener cuma gue pengen bikin aja. Gue ngerasa gue harus balik lagi tuh ke momen kayak gitu. Di mana gue gak banyak mikir. Dan itu sinkron sama sarannya temen-temen gue semua. Udah lu bikin aja yang lu doyan. Gak usah mikir. Entah itu repetisilah temanya, atau itu chordnya mulai dari chord yang sama, progresinya apa, teknisnya gimana, udah bodo amat. Yang penting, lu suka sama apa yang lu bikin. Sampai waktu “Almost Near” aja kan, gue gak mau tuh. Kita rilis kan.
Timur: Gara-gara kita bertiga. Tadinya dia gak mau.
Meng: Ngerilis lagu “Almost Near” 2022.
Binsar: Karena lagu yang lu udah tulis tahun?
Meng: Itu 27 tahun yang lalu lah, di zaman itu.
Binsar: Jadi lo kebayang kan, bahasanya dia di 27 tahun yang lalu terus sekarang. Anjing, ini bukan gue banget nih. Cheesy kayak gitu. Cuman kan kita ngedengernya fresh gitu kan.
Timur: Buat kita nggak gitu padahal, terutama gue ya. Gue tuh kalo denger lagu jarang denger lirik gitu. Denger bunyinya aja tuh buat gue udah amaze. Apalagi pas denger liriknya, makin gak ngerti gue [tertawa]. Masa kayak gini culun sih?
Dari segi aransemen musik, di album ini ada eksplorasi ataupun sesuatu yang berbeda enggak?
Meng: Kita nggak pernah patokin sih ya. Jadi bener-bener kita lepasin aja sih. Jadi, gue punya ide begini, Timur reaksinya begini, berdasarkan referensi yang dia punya. David reaksinya begini, Binsar reaksinya begini. Dan selama kita sama-sama nyaman, ya itulah yang jadi aransemen lagunya.
Timur: Cuma ada, take and give dari masing-masing. Mur, coba lo gini. Nah, itu. Ada kayak gitu-gitu.
Meng: Berarti gak terlalu bebas ya?
Timur: Bebas. Yang lain mikirin kesukaannya dia juga (tunjuk Meng).
Sempat ada keraguan rilis EP ini enggak?
Meng: Kalau EP selesai.
Timur: EP selesai, album enggak.
Meng: Enggak, sebenernya sih, kita putusin EP karena album gak bakal nyampe sih.
Binsar: Belum nyampe, belum nyampe, nyampe lah pasti.
Meng: Kita tuh udah ngerekam 6 lagu. Yang udah ada liriknya baru 4. Dan secara definisinya si digital streaming platform. Dari syarat-syaratnya mereka, yang paling masuk itu mini album, 4 lagu. Ya udah, itu aja dulu yang keluar.
Apakah era streaming sekarang dengan pertimbangan merilis satu per satu singel lebih dulu itu menguntungkan untuk memperkenalkan karya kalian?
Meng: Gue gak terlalu, maksudnya, sejujurnya gue, gue juga pendengar digital streaming platform, yang menikmati bikin playlist sendiri. Kalau gue sih lebih, kalau emang arena mainnya udah begini, ya udahlah gue gak ngerasa, yang penting masih ada media buat kita ngenalin karya-karya yang baru aja.
Berarti deadline enggak mengganggu proses berkarya kalian?
Meng: Soalnya satu album aja kita belum kelar [tertawa].
Binsar: Ini bener-bener menguntungkan. Anjing, buying time ya.
David: Ya kalo gue pribadi sebagai pelaku, justru itu menguntungkan ya. Kayak, wah asik nih ternyata nih. Terus lebih mudah untuk mempublishnya atau kita memperkenalkannya tuh jadi lebih gampang. Gak harus kayak dulu, mungkin harus lewat institusi tertentu, yang mempunyai modal baru bisa. Nah kalau sekarang lebih enak justru. Dengan gini kita bersyukur banget.
Binsar: Asal jangan seminggu sekali aja.
“Yang Kembali Pulih” bicara tentang luka dan keberanian untuk bangkit. Seberapa jauh lagu ini merepresentasikan perjalanan Float sendiri selama 22 tahun?
Meng: Banget sih. Merepresentasikan perjalanan Float banget yang dari awal sampe sekarang, ganti formasinya gue aja gak sempet ngitung berapa kali. Maksud gue itu gak gampang loh, untuk kehilangan partner. Maksud gue, gue pernah ngerasain formasi Float yang bertiga. Gue sendiri pernah, gue sendirian pernah. Berlima pernah. Sampe akhirnya kita berempat jalan udah 10 tahun, dan menurut gue ini yang paling pencapaian gue paling tinggi sih untuk bisa bareng berempat selama 10 tahun dan gue berharap kita bisa terus.
Binsar: Amin.
Meng: Dan yang berubah tuh bukan cuma di spirit gue untuk jagain Float, tapi yang berubah juga di musiknya Float. Yang tadinya kita cuma di studio doang. Gue pasrah, gue punya lagu. Bontel ngaransemen. Raymond disuruh Bontel main bassnya begini. Sampai akhirnya Float jadi bener-bener band yang sesungguhnya yang gue pengen. Maksud gue inilah band. Kita main, kita tumbuh bareng. Selama ini kita kerjain bareng lagu-lagu bareng. Gak pasrah ke satu orang gitu. Inilah band yang gue impiin selama ini gitu.
Timur: Si Meng sih. Emang ya dari awal kalo gak ada dia emang gak ada Float.
Binsar: Ini lagu pertama kali kita kerjain. Kita hidup di zaman yang normal setelah pandeminya selesai. Jadi semua bekas yang kita alami selama dua tahun yang hilang itu pandemi, nah ini kita hidupin sekarang, nah ini dirangkum dalam satu lagu ini. Kerobot-kerobot gue. Itu gambaran hidup yang sekarang.
Timur: Ini yang datanya hilang, bukan sih?
Binsar: Itu Emily.
Pas ngerjain “Yang Kembali Pulih” ini secara lirik apa yang lagi dipikirin?
Meng: Awalnya gue ngeliat anak gue. Anak gue naik sepeda, jatuh. Waktu itu dia masih belajar, apa-apa jatuh, luka, segala macam. Jatuh, luka. Lu jangan takut, gak apa-apa. Tapi setelah lu jatuh, lu jadi hati-hati, kan? Lu gak berhenti. Tapi ternyata relevan sama pandemi. Gue pikir, oh iya ya kita sebagai manusia juga gitu kali sampai tua. Pasti ada aja masalah, pasti ada aja perubahan yang harus kita ya udah embrace aja.
Binsar: Enggak nyaman.
Meng: Kalau kita bisa lewatin itu, kita makin kuat, kita pasti sembuh gitu.
Formasi Meng, Binsar, Timur, dan David merupakan formasi Float yang paling lama bertahan. Setelah selama itu saling mengenal, apa yang sekarang justru lebih sulit, membuat musik bersama atau menjaga hubungan sebagai empat orang yang terus berjalan bersama?
Meng: Buat gue, dua-duanya gak susah. Jaga hubungan, kita tuh udah, gue gak tau ya, mungkin kita udah masing-masing udah ngelewatin masa-masa yang udah gak terlalu mikirin. Gue maunya gini, gue maunya gini.
Timur: Malah gak ada kepikiran.
Meng: Gak ada kepikiran sama sekali. Jadi kayaknya itu bisa gue coret secepatnya tuh soal hubungan kita berempat. Kalo bikin musik, gila. Apalagi bikin musik. Kita udah tau. Apa ya? Gimana ya? Kita mainnya tuh udah lama banget nih. Untuk mainin lagu yang baru aja, kita hanya perlu nyoba dua kali untuk bikin enak. Untuk bikin nyaman. Oh, kita mainnya begini. Udah gak mikir. Ini berapa ketuk ya abis ini? Nggak. Kita udah gak mikir begitu.
Timur: Salah jadi bener.
Meng: Dan kita udah saling nutupin satu sama lain gitu. Udah gak salah-salahan lagi. Dulu mah awal-awal Float buset. Gue ngeliat dokumentasinya aja. Gila gue nyebelin banget dulu ya. Kesian Bontel sama Raymond ketemunya di masa-masa itu [tertawa].
Setelah 22 tahun, apakah masih ada sisi dari personel lain yang bisa mengejutkan kalian ketika berada di studio atau di atas panggung? Dan siapa yang menurut kalian paling banyak berubah?
Timur: Kalo gue, terutama Meng lagi sih. Lebih, kalo dulu Meng lebih cuek, gak mau ngomong. Dikit banget, dikit. Kalo sekarang mah udah orasi. Tapi sejauh ini sih sebenernya atmosfernya yang gue rasain pribadi tetep sama sih sebenernya. Mungkin karena gak tau kenapa, kita selalu dapet energi positif dari yang dateng nonton juga positifnya banyak, gitu.
Binsar: Sampai banyak kejutan kalo, kalo energinya tuh lagi tinggi banget tuh ya. Ini berdua nih yang gue paling perhatiin. Dia pernah jatuh, inget gak yang dia lompat? Tiba-tiba kru datang. Dia lompat, dia mau, jadi drum tuh ada panggung, dia mau lompat, mau balik gini, begitu dak jet jatoh gini. Kru langsung lari, semua barang ditendang. Nah dia juga nih, lagu terakhir tuh suka, yang terakhir deh, simbal dibuang ke atas gitu. Terus gue langsung, anjing, itu kan kita gak latihan ya.
Kita kerja latihan gitu. Kemaren microphone jatoh, kita maju ke depan. Jadi lirik lagu verse pertama, kedua itu penonton yang ngambil. Lo bayangin kan. Anjing gue main, vokalis gue mic-nya gimana nih. Lagi di setting gitu. Tapi itu bagian dari show kita.
Meng: Tapi yang jelas menurut gue sih, mungkin yang pasti menurut gue nih. Yang bikin kita awet, kita respect satu sama lain sih.
Binsar: Iya itu, gitu sih. The mutual respect.
Timur: Basic kemanusiaan.
Float punya hubungan yang unik dengan Floatmates dan crew, sampai batas antara band dan orang-orang di sekelilingnya terasa semakin cair. Kalau suatu hari Float berhenti bermusik, menurut kalian apakah Float2Nature masih bisa tetap hidup?
Binsar: Kita bikin tour & travel.
Meng: Soalnya kita doyan jalan-jalan.
Binsar: Doyan nongkrong.
F2N pertama digelar pada 2012 dan tahun ini kembali setelah empat tahun. Kalau melihat F2N pertama dan F2N 2026, apa yang paling berubah dari cara Float memandang acara ini? Dan apa yang sengaja kalian pertahankan?
Meng: Yang paling jelas berubah mah lokasinya kali ya sama culture-nya.
Timur: Sama ini, kebiasaan yang kita ladenin apa. Siapin transportasi dan segala macem, sekarang udah enggak.
Meng: Sebenernya di 2022 udah enggak, tapi dari 2017 kita bikin acara yang namanya bukan Float2Nature di Situ Gunung, kita udah mulai ngenalin kultur yang baru lah. Bahwa kita langsung ketemu di lokasi, lo bawa kebutuhan lo sendiri, lo datang ke sana sendiri, semuanya lo provide sendiri, kita seneng-seneng di sana. Selama itu, bertahun-tahun kita bikin kebiasaan itu, terus 2022 kita labelin acara itu, untuk pertama kalinya kita labelin Float2Nature. Dan mereka karena udah biasa, gak ada masalah. Di 2026 kita terapin hal yang sama, ternyata mereka juga, lebih jauh lagi di Batu Karas. Dan ternyata animonya tetap nggak turun. Paling nggak jumlah pesertanya tuh mirip-mirip kayak yang selama ini kita bikin di Situ Gunung yang relatif lebih dekat ke Jakarta. Itu gila sih menurut gue sih. Orang susah-susah datang ke Batu Karas, nggak di-provide apa-apa. Bayar tiket bener-bener patungan ongkos produksi.
F2N bukan festival yang hanya meminta orang datang, menonton musik, lalu pulang. Ada perjalanan, beach clean up, nongkrong, sampai farewell. Apa yang sebenarnya ingin kalian tunjukkan kepada orang yang datang ke F2N tanpa pernah mengenal Float sebelumnya?
David: Ya memang gak kepikiran yang kita pengen tunjukin tapi secara pengalaman yang udah-udah. Karena energi kita seperti ini, mungkin lu juga sendiri ngalamin sesantai ini kita. Bukan kita ingin, tapi memang akhirnya kita bisa. Dan ternyata yang memang ikut Float2Nature ada kayak si. Kayak gitu-gitu akhirnya kebawa juga. Inilah Float2Nature sesantai ini.
Kenapa Constant Changes harus diperkenalkan di Float2Nature? Kalau EP ini dirilis di Jakarta, di venue indoor, apakah maknanya akan berbeda bagi kalian?
David: Tapi emang gak sengaja. Emang akhirnya kalau bisa dibilangnya dipas-pasin aja udah. Ya udah sekalian.
Meng: Ya kebetulan lagunya udah empat. Udah lama enggak Float2Nature.
David: Emang senatural itu kita.
Binsar: Akal-akalan ben om-om.
Setelah 22 tahun dan terus mengalami perubahan, apa yang ingin kalian tinggalkan dari Float yang sekarang untuk perjalanan berikutnya dan apa yang justru tidak ingin kalian bawa lagi?
David: Yang pengen dipertahankan yang pasti sesantai ininya ini.
Meng: Spiritnya sih.
David: Spirit yang energi slow tapi tetap terlaksana. Kayak gitu-gitu. Sesimpel kita lagi nongkrong tiba-tiba lagi ngomongin, eh tempat makan di sini yuk berangkat. Nah kayak gitu.
Meng: Yang pertama, bukan mau tinggalin sih, tapi gue pengen yang berikutnya Float2Nature itu lebih bisa kasih feedback yang lebih sepadan buat orang-orang produksi. Soalnya emang selama ini secara bisnis mah, gak ada bisnisnya. Kita malah nombok malah tahun ini. Gue gak tau positif apa negatif. Tapi mungkin dari peserta, positifnya kita gak pernah berhenti selama 14 tahun ini, walaupun kita gak profit, kita tetep bikin karena emang kita doyan. Emang kita ibaratnya tuh kayak, makanya yang kita kedepanin tuh lebih ke, eh ini gathering loh. Lo patungan ya. Karena kita emang bener-bener gak ada sponsor, gak ada apa-apa nih. Ini kayak liburan keluarga gitu. Kita pengen orang-orang kayak Aldi, Ucok, yang support ini, yang kerja pol-pol an gitu untuk ini dapet reward yang proper lah.
Binsar: Yang decent.
Meng: Supaya maksud gue kita gak cuma mimpi seneng-seneng nih. Kita pengennya semuanya kalau bisa hidup dari sini kenapa enggak. Kita bikin orang senang, inspire orang. Kalau buat Float-nya, pasti kita yang paling untung, karena namanya labelnya paling gede Float. Walaupun untungnya bukan sesuatu yang materi gitu. Tapi yang penting, yang pasti nama Float2Nature dan Float itu akan selalu ada. Cuma kan untuk mereka-mereka yang gak di depan gitu. Kita belum bisa kasih reward yang rasanya pantes buat kita kasih itu sayang banget hanya karena gak ada yang develop bisnis ini. Sayang banget gitu, dan itu yang, itu mimpi kita berempat lah untuk berikutnya.
Binsar: Dan udah gitu juga, supaya kita ini bisa lebih fokus di musiknya aja. Sebenernya begitu juga, jadi kita supaya, gak terlalu hands on banget gitu, karena udah ada bagiannya masing-masing semuanya.
Berarti saat ini memikirkan bisnis ke depannya?
Meng: Iya lah. Dan makin ke sini tuh kita makin ngerasa ini kita urgent nih. Butuh urgent nih. Kayak untuk yang berikutnya, kita udah mikirin nih, untuk yang berikutnya gak bisa nih, gak ada ampun nih.
David: Kita mesti mulai rapi.
Meng: Yang paling menyedihkan sih ya, yang menurut gue paling gak fair, kita yang paling untung. Gak fair banget buat orang-orang yang udah support, yang mereka cuma dapet. Ya elah ya, itu mah cuma reward thank you kali. Gila, gak sepadan banget gitu. Gue pengen mereka tuh dapetin yang emang secara profesional mereka pantes lah gitu. Ya kita gak ngomongin angka ya, tapi bukan cuma thank you gitu. Dan menurut gue, secara gak langsung kita aware lah reward kita ke mereka tuh harusnya gak segitu gitu.
Binsar: Nah kita pengen itu supaya improve aja jadi tahun depan itu bisa lebih baik daripada sekarang. Bukan masalah di acaranya tapi in terms of people yang involve sama kita juga gitu.
Bagaimana menurut kalian tentang era berpromos karya dengan membuat konten di media sosial?
Timur: Kalau menurut gue pribadi ya. Nggak tau lah yang lain, rekan-rekan yang lain sama apa nggak. Cuman itu dia, balik lagi. Kita mungkin nggak pernah mikirin kayak gitu kali ya. Cuman kita selalu mikirin untuk terutama internalnya kita tuh biar bisa sepadan. Internal sepadan, pasti yang lain juga pasti akan dapet sesuatu yang positif sama sepadan juga gitu. Mungkin, mungkin kayak gitu.
Binsar: Sama kita milih untuk jadi diri kita sendiri aja sih. Untuk menjadi orang lain itu kayaknya susah, maksudnya banyak kasih masukan itu, oh mesti gini, mesti tampil di sosmed dan segala macem.
Meng: Sejujurnya nih, waktu Andrey masuk 2023 akhir, sebagai manajernya Float, Andrey itu punya ide-ide yang maksud gue, gue ngerti. Andrey tuh yang dia tau Float itu yang harus di kedepanin tuh image senjanya. Terus kita harus bikin podcast kayak yang lain-lain. Tapi untungnya kita cukup ngotot sama apa yang kita percaya gitu. Kita gak kayak gitu. Untungnya kita bisa adjust nih. Sampai sekarang kita adjust, Andrey ngerti sudut pandang kita. Kita ngerti sudut pandangnya Andrey. Dan itu menurut gue yang bikin itu mungkin hanya karena umur. Kalau gue di umur 20-an gue lebih lebih ngotot lagi karena kita kita bukan anak baru aja jadi kita bisa lebih adjust kalau buat gue sih.
Binsar: Itu bener.
Meng: Thanks to umur, kalau gue sih kalau gue sih rasanya begitu. Jadi nggak ada yang bener, nggak ada yang salah. Kita juga makin rajin kalo nge-post.
David: Tapi senatural mungkin dan emang perlu dikontenin.
Band dan manajer harus satu energi enggak sih?
Binsar: Dan insight-insight baru gitu ya, yang cocok nih buat kita nih, oh kalian gak bisa gitu, yaudah kalian kayaknya begini nih yang cocok.
Meng: Dan kebetulan menurut gue nih, bukan kebetulan sih, lagi-lagi pertemuan kita sama Andrey juga magical. Andrey itu bukan orang baru. Andrey itu kebetulan temen SMP-nya Binsar, adik kelas gue waktu SMP, teman SMA Timur sama David.
Terakhir, kalian pernah enggak sih manggung di kawinan?
David: Akhirnya kita main 2025.
Binsar: Kita main di Ritz-Carlton, anaknya pejabat. Bapaknya maunya anak kawin manggil bandnya Dewa. Wah manggilnya Float. Dia nyanyi “Sementara” sama suaminya.
Meng: Tadinya tuh kita ngerasa kayak itu sesuatu yang gimana gitu. Masak kita main di wedding sih. Cuma akhirnya gue pikir, emang apa bedanya sih kita main di wedding atau main di festival. Selama emang mereka pengen presence kita tuh berarti buat mereka ya.
Binsar: Cuma tetep kita bisa bedain mana yang tamu, mana yang bener-bener temen anaknya. Kalo temen anaknya kita nonton. Kalo yang tamu mah, sambil makan gitu.
Andrey: Tapi sebelumnya kan gue juga screening juga kan. Gue tanya kenapa lu mau ngambil Float. Ternyata memang mereka berdua ini tinggal di Jogja dan waktu itu mereka dalam keadaan yang. Ya ibaratnya susah dan senang yang mereka berdua itu dengerin “Sementara”. Nggak melulu, ya bukannya kita mau jadi pajangan doang. Malah suruh bawain lagu orang juga, kayak lagu sessionnya orang. Enggak. Mereka hadir ya sebagai Float yang memang lagu-lagunya menggerakkan si pasangan ini saat mereka dalam situasi sebelum mereka menikah lah.
Lagu bisa mewakili cerita pengalaman hidup. Pendengar, penggemar, dan penonton selalu punya alasan ya?
Binsar: Bagian dari take and give-nya juga. Kalau buat gue pribadi sih, itu lebih banyak untungnya di gue. Gue lebih nerima cerita-ceritanya mereka sebagai sesuatu yang inspiratif banget buat gue. Anjing ya gila, gue gak pernah bayangin gitu. Dan itu makanya, kalau di Float2Nature tuh indahnya buat gue itu. Gue ketemu orang dengan ceritanya yang baru atau orang yang lama dengan cerita yang baru. Dan akhirnya itu bisa jadi bagian dari sudut pandang gue yang baru juga.
Meng: Jadi itu kayak ngisi kita juga. Kita ngisi juga. Jadi kita tuh kayak bejana yang dihubungin sama pipa, gak pernah kosong. Ini ngisi, nanti muter terus.
Binsar: At the end itu udah gak pernah tentang pembahasan musik lagi. Udah tentang pembahasan hidup. Musik itu juga cuma sebagai jembatannya doang. Begitu kita kenal sama mereka, udah gak tentang musik lagi, tentang hidup aja.
Pertanyaan bener-bener terakhir. Jadi musisi hari ini?
Meng: Gue ngerasa sih sejauh ini sih aturan yang berlaku, undang-undang dan sebagainya, intinya tuh yang gue dapet dari musik secara materi tuh ya belum bisa dibilang cukup lah buat, gue masih deg-degan gitu untuk mikirin anak gue sekarang kebetulan kelas 4. Dia mau masuk SMP. Gue sampe gak berani untuk ngayal, gue pengen sekolahin dia di sekolah favorit gue waktu dulu. Untuk gue sih belum bisa, gue ngerasa kayaknya gue masih harus puter otak nih. Kita mesti ngapain nih untuk mencapai situ. Dan gue liat temen-temen gue juga, kita belum bisa bener-bener ngandelin musik sebagai mata pencarian utama lah ya. Iya, gue rasa sih gitu sih. Walaupun ada perbaikan-perbaikan lah. Kayak dulu kan mungkin di zaman dulu tuh royalti bener-bener lebih brutal kali dibanding sekarang ya. Tapi kalau kita baca-baca informasi dari negara-negara lain tuh ada aja, bisa gitu loh. Yang lu one hit wonder, lu cukup. Dan kayaknya kalau di negara kita sih boro-boro musik. Ngomongin kesehatan aja gitu, kita masih ngaco.
Binsar: Pendidikan.
Meng: Apalagi yang sifatnya hiburan.
Binsar: Kita ngadepinnya gak sendiri sih, maksudnya apa pun itu yang ada sekarang ini. Dari tahun-tahun sebelumnya menjadi lebih baik, ya kan. Tapi kalau kita ngadepinnya bareng-bareng, menurut gue sih itu akan lebih, bisa inilah kita bisa brainstorm, bisa cari caranya.
David: Gue gak kepikiran yang negatif atau apanya. Gue gak kepikiran ke sana sebenernya ya. Tapi kalau pas udah Meng ngomongin anak, gue juga akhirnya kepikiran juga. Tapi Float ini, mungkin gue agak beda jawabannya. Jadi dulu gue itu mulai main musik, main gitar. Gue kuliah di Atmajaya. Dan gue suka nih sama musik, terus gue minta sama orang tua, orang tua zaman dulu kan cara berpikirnya beda ya. Itu gue gak dikasih dan jujur gue bersedih hati banget, gue sampai berdoa di kamar itu gue minta untuk gue mau main musik di skala yang lebih besar, gue mau ngerasain panggung dan sebagainya, dan ini Float yang kasih. Tuhan kasih Float, di sinilah gue bisa ngerasain itu semua. Yang jalan ke luar kota itu gue gak sama orang tua. Naik kereta, naik pesawat, gue gak sama orang tua. Orang tua saking sibuknya, gak pernah ngajak. Gue ngerasain sama Float. Gue naik pesawat pertama kali itu ke Makassar. Yang geng ceria itu.
Meng: 2011 ye.
David: Jadi apa yang gue rasain, yang pengen gue rasakan, semua itu yang Tuhan kasih. Ini wadahnya, Float ini. Gimana gue mau kepikiran yang susah gini, udah. Pokoknya gue jalanin aja, udah. Pokoknya yang ini gue, Float amin bertahan. Tuhan kasih, Tuhan kasih energinya biar kita terikat terus. Itu aja yang kupikirin, itu doang udah.
Timur: Kalo gue sama, kurang lebih. Tapi paling gue tambahin gini sih. Gue pernah dapet cerita dari ada salah satu pemain saksofon kalo gak salah namanya Terry Janow. Dia di luar negeri itu untuk jadi musisi gak segampang kayak di Indonesia. Mereka dari skill sama kebudayaan mereka itu gila banget. Kalau lo sekali salah atau gak bisa, yang gantiin gampang banget. Tapi itu pun ada union-nya, ada serikatnya gitu. Yang jujur ya gak mungkin kalau dibandingin di sini, organisasinya mungkin agak-agak beda. Mudah-mudahan sih kita bisa kayak gitu ya. Jadi kalau menurut gue untuk jadi musisi di sini, kalau lo misalnya kenal sama si ini yang kebetulan MD-nya ini, lo bisa main di mana-mana. Padahal kalau misalnya dibandingin sama yang lain mungkin belum tentu. Tapi kalau yang di sana, di luar, yang gue dapet info dari si Terry Janow ini, wah itu tersaring banget, lo walaupun kenal sama dia belum tentu lo bisa diganti, gak bisa. Bahkan main di kafe aja sebagai band reguler, belum tentu segampang itu loh. Emang dipertanggungjawabkan, value-nya tuh ada banget.
Apa pendapat kalian tentang media hari ini?
Meng: Media menurut gue sih, tetep harus ada lah. Maksud gue, paling gak untuk ngindarin, untuk keep objektivitas sih. Maksud gue, semua band bisa ngomong tentang dirinya sendiri, tapi belum tentu itu objektif. Kita gak bisa lah ngomong tentang diri kita sendiri. Harus ada perspektif lain, dan itu selalu akan dibutuhin dan sehat buat ekosistemnya menurut gue sih. Di dunia, gak ada lah satu planet berdiri sendiri. Kayaknya gak ada satupun hal di dunia yang bisa sendirian doang. Kita butuh satu sama lain. Dan menurut gue sih media, walaupun Rolling Stone Indonesia, nama-nama gede itu gak ada. Tapi menurut gue sih tetep harus ada dan akan selalu ada menurut gue.

Suasana pertunjukan musik Float2Nature / Dok. Pohan
Di puncak rangkaian acara Float2Nature, band memainkan lebih dari 20 lagu. Ya, “Sementara” yang menjadi favorit orang-orang sampai dibawakan dua kali. Keesokan harinya, 6 September 2026, rombongan bertolak dari Batukaras sekitar pukul 11.15 WIB menuju titik kumpul Floatlab.
Perjalanan ini membawa saya kembali pulang dan tiba di rumah pada 7 September 2026 pukul 03.18 WIB dengan kesan yang mengesankan. Sehat selalu, Om-om Float!