Ekonom Sebut Serangan AS ke Iran Masih Jadi Sentimen Bagi Harga Minyak & Pergerakan Rupiah
Jumat, 31 Juli 2026 - 10:24 WIB
Jakarta, VIVA – Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menyatakan, rupiah memperoleh sentimen dari serangan militer AS terhadap Iran, yang menyebabkan kenaikan harga minyak.
Baca Juga
“Lonjakan harga minyak dipicu oleh serangan militer AS terhadap Iran yang meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan memicu sentimen risk-off di pasar negara berkembang,” kata Josua sebagaimana dikutip dari Antara, Jumat, 31 Juli 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.078 pada Kamis, 30 Juli 2026. Posisi rupiah itu menguat 9 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 18.087 pada perdagangan Rabu, 29 Juli 2026.
Baca Juga
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede
Photo :
- [Mohammad Yudha Prasetya]
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 31 Juli 2026 hingga pukul 09.05 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 18.055 per dolar AS. Posisi itu menguat 56 poin atau 0,31 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 18.111 per dolar AS.
Baca Juga
Diketahui, AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu malam, 29 Juli 2026, dengan dalih membalas "percobaan serangan Iran" terhadap pasukan AS di Timur Tengah, menurut Komando Pusat AS (CENTCOM).
Serangan tersebut terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, menjanjikan respons "sangat keras" setelah sebuah drone menghantam sebuah tanker LNG milik AS di Mesir.
Melihat sentimen global, rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS tumbuh sebesar 1,5 persen secara kuartalan (qoq) pada kuartal II-2026, melambat 2,1 persen (qoq) dari kuartal I-2026 dan berada di bawah konsesus pasar sebesar 2 persen (qoq).
Sementara itu, Personal Spending hanya meningkat 0,3 persen secara month-to-month (mtm) pada Juni 2026, melambat dari 0,9 persen (mtm) pada bulan sebelumnya dan lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,4 persen (mtm)
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Di sisi inflasi, indikator inflasi pilihan The Fed, yaitu PCE Price Index dan Core PCE Price Index, masing-masing melandai menjadi 3,7 persen secara year-on-year (yoy) dan 3,3 persen (yoy) pada Juni 2026, sejalan dengan ekspektasi pasar," kata Josua.
“Kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp18 ribu–18.125 per dolar AS pada hari ini,” ujarnya. (Ant).
Destry Pastikan BI Tak Kendor Jaga Stabilitas, Ini yang Jadi Prioritas
Pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan, stabilitas menjadi prioritas utama saat ini di tengah gempuran sentimen global yang bergejolak saat ini.
VIVA.co.id
31 Juli 2026