Dugaan Keracunan MBG Dialami Ratusan Siswa di Pati
Jakarta, CNN Indonesia --
Dugaan keracunan makan bergizi gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah di Pati, Jawa Tengah; Bantul, Yogyakarta; dan Madiun, Jawa Timur.
Kasus di Pati, ratusan siswa dari SMP Negeri 1 Gembong dan MTS Negeri 3 Pati, Jawa Tengah, dilarikan ke rumah sakit usai menyantap MBG. Puluhan ambulans pun dikerahkan untuk mengangkut para siswa dari sekolahnya.
Pantauan DetikJateng, puluhan ambulans berdatangan ke dua sekolah yang jaraknya sekitar 500 meter itu untuk mengangkut para siswa yang diduga keracunan MBG.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, menyatakan pihaknya mengerahkan 29 ambulans untuk menangani korban keracunan.
"Ambulans sebanyak 29 unit kita kerahkan semua agar cepat teratasi," kata Luky di SMPN 1 Gembong, Rabu (9/9).
Puskesmas Gembong yang menjadi rujukan awal sempat menampung ratusan siswa SMPN 1 Gembong yang mengalami mual, pusing, diare dan lemas. Namun, karena terlalu banyak pasien, puskesmas tak bisa menampung sehingga para siswa dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Pati.
"SMP Negeri 1 Gembong tadi sudah kita evakuasi ke sini, setelah di puskesmas overload kita arahkan ke RSUD Pati sebagian ke RS Mitra Bangsa," jelasnya.
Luky masih mendata jumlah siswa yang dirawat inap di rumah sakit. Menurutnya, para siswa mengalami gejala mual, diare, pusing dan lemas.
"Laporan dari sekolah bergejala lebih dari 100. Kalau dirawat di rumah sakit masih didata. Kondisi, bergejala mual, diare, pusing, lemes dan itu," terang dia.
Dikutip detik, ada sekitar 103 siswa dan 13 guru SMP Negeri 1 Gembong yang mengalami mual dan diare. Kemudian di MTs Negeri 3 Pati ada 127 siswa dan 30 guru yang mengalami mual dan diare setelah menyantap MBG.
"Kami mendapatkan laporan sekira jam 09.00 WIB, informasi kami dapat awal merupakan dugaan keracunan MBG yang disajikan kemarin. Ini masih dugaan," kata Luky.
Kasus di Bantul
Dugaan keracunan MBG juga terjadi di Bantul, Yogyakarta. Kasus ini menimpa siswa dari SDN 1 Sumberagung, Jetis, Bantul; SD Patalan; SD Sawahan; dan SD Kembangsongo.
"Setelah ditindaklanjuti, yang awalnya itu hanya di SDN 1 Sumberagung ternyata melebar ke tiga SD di Jetis," kata Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bantul, Pramu Diananto Indratriatmo, kepada wartawan di SDN 1 Sumberagung, Jetis, Bantul, Rabu.
Pramu bilang empat SD tersebut menerima MBG dari SPPG yang sama. Namun, korban paling banyak di SDN 1 Sumberagung.
"Paling banyak tetap di SDN 1 Sumberagung. Selain itu, SPPG penyalur MBG ke beberapa SD itu sama dengan yang menyalurkan MBG ke SDN 1 Sumberagung," ujarnya.
Pramu meminta SPPG di Bantul agar meningkatkan pelayanan kepada murid-murid penerima MBG. Salah satunya pengolahan makanan harus betul-betul sesuai dengan SOP.
"Jadi layanilah anak-anak kami di Bantul ini dengan baik. Tidak hanya mencari untung, tapi juga layani mereka, menu makanannya, cara mengolahnya harus sesuai SOP sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi kedepannya," ucapnya.
Sebelumnya, Kepala SDN 1 Sumberagung, Parjiyatmi mengungkap sekitar 50 siswa dan 1 guru di sekolahnya mengalami keracunan makanan usai menyantap MBG pada Jumat (4/9). Hingga Selasa (9/9) ada 32 siswa yang masih absen yang mana 2 di antaranya masih opname.
Sedangkan untuk hari ini, tercatat belasan siswa tidak masuk sekolah, satu di antaranya masih dirawat inap.
"Untuk yang tidak berangkat hari ini ada 11 murid," kata Parjiyatmi kepada wartawan di Jetis, Bantul, Rabu.
"Yang opname kan dua murid, tapi hari ini ada yang satu sudah keluar, sudah pulang. Jadi tinggal satu lagi (yang rawat inap)," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto membenarkan adanya tiga SD lain di Jetis yang murid-muridnya keracunan MBG. Para siswa di tiga SD itu juga mengalami keracunan makanan usai menyantap menu MBG pada Jumat (4/9).
"Betul, untuk di SD Patalan Baru ada 5 murid, SD Sawahan 2 murid dan SD Kembangsongo ada 3 murid yang mengalami gejala keracunan setelah mengkonsumsi itu (MBG)," katanya.
Namun, Samsu mengatakan bahwa murid-murid yang keracunan MBG di tiga SD itu sudah terkondisi semua. Bahkan beberapa tidak sampai tidak perlu mendapat penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes).
"Gejala mereka juga sama seperti yang di sana (SDN 1 Sumberagung), diare, pusing. Tapi tidak ada yang sampai rawat inap, wong tidak sampai faskes juga hanya rawat di rumah dan sudah membaik," ujarnya.
Di sisi lain, Samsu menyebut bahwa Dinkes telah melakukan penyelidikan epidemiologi (PE). Di mana hasilnya ternyata murid-murid yang mengalami keracunan menyantap MBG pada hari Jumat pekan lalu.
"Sama terus hasil PE kami, penyelidikan epidemiologi mengindikasikan mereka mengalami gejala sama setelah mengonsumsi itu (MBG)," ucapnya.
"Menunya yang mana kami belum bisa memastikan. Tapi kami sudah ambil sampel makanannya dan dikirim untuk uji laboratorium hari Senin (7/9/2026), hasilnya biasanya keluar sekitar dua pekan lagi," katanya.
Kasus Madiun
Puluhan siswa SDN 02 Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun dilarikan ke Puskesmas Sukosari karena diduga keracunan setelah mengonsumsi MBG, Rabu (9/9).
Pantauan di Puskesmas Sukosari, para korban langsung mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis darurat. Hingga pukul 14.30 WIB, petugas medis bersama jajaran kepolisian masih fokus memberikan pertolongan pertama kepada para korban.
Di lokasi penanganan, Camat Kartoharjo Yayak Muflihana Hanik serta Kapolsek Kartoharjo Kompol Mujo tampak berada di fasilitas kesehatan untuk memantau situasi dan koordinasi penanganan namun enggan diwawancara.
Kasi Humas Polres Madiun Kota Ipda Aris Yunandi juga membenarkan dugaan keracunan tersebut namun enggan memberikan komentar lebih lanjut terkait jumlah pasti korban maupun penyebab keracunan.
"Soal MBG langsung ke Kapolsek ya," kata Aris saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (9/9).
Salah seorang korban, Muhammad Zidan mengaku mulai merasakan pusing tak lama setelah ia dan teman-temannya menyantap hidangan menu MBG yang disajikan. Ia menyebut menu yang diduga menjadi penyebab keracunan adalah udang.
"Udangnya pahit sama asam, setelah itu pusing," tutur Zidan.
Belum ada pernyataan dari BGN terkait kasus keracunan di 3 wilayah ini.
Baca selengkapnya di sini.
(tim/wis)