gop-crypto.vip

Dosen Universitas Dharmas Indonesia dampingi Saraso Farm terapkan

Padang (ANTARA) - Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Dharmas Indonesia, Sumatera Barat (Sumbar) mendampingi kelompok peternak bebek "Saraso Firm" yang berlokasi di Dharmasraya untuk mengembangkan produk olahan bebek.

Kegiatan merupakan program

Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP) tahun pendanaan 2026 dengan tajuk; Pendampingan "smart farming" terpadu, pengolahan produk turunan Bebek, dan pemasaran digital pada kelompok Saraso Farm untuk penguatan ekonomi lokal berkelanjutan.

"Kami ingin menguatkan ekonomi masyarakat melalui inovasi teknologi dan pengembangan usaha pada kelompok yang didampingi," kata Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Firman Syahputra M Pdt di Padang, Sabtu.

Ia mengatakan skema yang diterapkan adalah pemberdayaan berbasis masyarakat dan bidang fokus pangan yang akan berlangsung sekitar delapan bulan terhitung Februari hingga Oktober 2026.

Ada enam poin utama yang dilakukan oleh timnya yaitu mendorong efisiensi peternakan melalui Smart Farming, kedua mengembangkan pakan alternatif berbasis sumber daya lokal.

Kemudian meningkatkan nilai tambah melalui produk olahan bebek, penguatan " "Branding" dan pemasaran digital, digitalisasi manajemen usaha, dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

Efisiensi Peternakan melalui Smart Farming

Program dilatarbelakangi oleh berbagai persoalan yang dihadapi oleh Kelompok Saraso Farm, terutama tingginya biaya pakan yang menjadi komponen terbesar dalam operasional peternakan.

Biaya pakan diketahui menyerap sekitar 60–70 persen dari total biaya operasional, sementara harga jual bebek hidup di tingkat peternak masih relatif rendah.

Kondisi tersebut menyebabkan margin usaha menjadi terbatas dan menyulitkan kelompok untuk mengembangkan skala usaha secara berkelanjutan.

"Persoalan ini mendorong kami untuk menghadirkan inovasi melalui penerapan smart farming terpadu dan pengembangan pakan alternatif berbasis sumber daya lokal," jelasnya.

Ia mengatakan pemanfaatan bahan seperti MBG, dedak padi, dan ampas kelapa diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan, mendukung pertumbuhan ternak yang lebih optimal, serta mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial.

Melalui penerapan smart farming peternak juga akan didampingi untuk melakukan pencatatan secara digital terhadap populasi ternak, konsumsi pakan, pertumbuhan, kesehatan, hasil panen, serta biaya produksi.

Sistem pencatatan tersebut bertujuan untum membantu peternak memperoleh data yang lebih akurat sebagai dasar dalam mengambil keputusan usaha.

Kembangkan Pakan Alternatif Berbasis Sumber Daya Lokal

Salah satu fokus utama kegiatan adalah mengembangkan pakan alternatif bernutrisi tinggi dengan memanfaatkan bahan lokal dan limbah organik yang tersedia di sekitar masyarakat.

Tim memberikan pendampingan dalam formulasi pakan, proses pencampuran, pengelolaan bahan baku, serta pemantauan pertumbuhan ternak.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi biaya pakan sekaligus menghasilkan pertumbuhan bebek yang lebih seragam.

Program menargetkan efisiensi biaya pakan hingga 30–40 persen per siklus pemeliharaan melalui pemanfaatan bahan alternatif dan penerapan formulasi pakan yang lebih terukur.

Selain itu penerapan sistem digital memungkinkan mitra melakukan pemantauan terhadap konsumsi pakan, pertumbuhan, kesehatan ternak, dan hasil panen secara lebih sistematis sehingga proses evaluasi produksi dapat dilakukan berdasarkan data.

Tingkatkan Nilai Tambah melalui Produk Olahan Bebek

Selain memperbaiki aspek produksi, program pengabdian juga diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil peternakan.

Selama ini sebagian besar hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk bebek hidup dan bergantung pada pengepul atau pasar lokal. Kondisi tersebut membuat posisi tawar peternak menjadi terbatas dan peluang peningkatan pendapatan belum optimal.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan berbagai produk turunan bebek, antara lain bebek bumbu siap masak, bebek crispy frozen, dan produk olahan lainnya.

Produk olahan dirancang agar lebih praktis, higienis, memiliki daya simpan yang lebih baik, serta memiliki nilai tambah dibandingkan penjualan bebek dalam bentuk hidup.

Melalui pengembangan minimal dua jenis produk olahan, program menargetkan peningkatan output produksi sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi kelompok.

Produk juga diarahkan agar memenuhi standar higienis dan siap dipasarkan kepada konsumen.

Perkuat Branding dan Pemasaran Digital

Tim pengadian juga memberikan pendampingan dalam aspek branding, pengemasan, pelabelan, dan pemasaran digital.

Kelompok Saraso Farm didorong untuk membangun identitas produk melalui penggunaan brand “Saraso Farm” yang didukung oleh desain kemasan menarik dan informasi produk yang lebih jelas.

Dari sisi pemasaran, mitra akan mendapatkan pendampingan dalam pemanfaatan media sosial, marketplace, katalog digital, serta sistem pemesanan daring.

Strategi tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar dari yang sebelumnya berorientasi pada pasar lokal menjadi pasar yang lebih luas, termasuk konsumen rumah tangga dan pelaku UMKM kuliner.

Program menargetkan produk Saraso Farm dapat menjangkau 3–5 kota di sekitar Dharmasraya, sehingga kelompok memiliki akses pasar yang lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada pengepul.

Digitalisasi Manajemen Usaha

Aspek manajemen juga menjadi bagian penting dalam kegiatan pendampingan, dimana mitra akan didorong untuk mulai meninggalkan pola pengelolaan usaha secara konvensional ke manajemen yang lebih terstruktur dan berbasis data.

Digitalisasi diarahkan pada pencatatan produksi, keuangan, stok pakan, konsumsi pakan, serta perencanaan produksi.

Dengan tersedianya data secara rutin maka kelompok dapat melakukan evaluasi usaha dan menyusun perencanaan berdasarkan kondisi aktual.

Perencanaan produksi juga akan disesuaikan dengan kapasitas kandang dan permintaan pasar sehingga jumlah ternak, kebutuhan pakan, dan waktu panen dapat direncanakan secara lebih efektif.

Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis peternak, tetapi juga memperkuat kapasitas manajerial dan literasi digital anggota Kelompok Saraso Farm.

Mendorong kemandirian ekonomi masyarakat

Program pendampingan Saraso Farm dirancang sebagai proses pemberdayaan yang mengintegrasikan aspek produksi, teknologi, manajemen, pengolahan produk, dan pemasaran.

Target program mencakup peningkatan efisiensi biaya pakan, tersedianya sistem pencatatan produksi berbasis digital, berkembangnya produk olahan bebek, meningkatnya kualitas branding dan kemasan, serta meluasnya akses pasar.

Dalam jangka lebih panjang, program diharapkan dapat meningkatkan pendapatan anggota kelompok melalui pergeseran dari ketergantungan pada penjualan bebek hidup menuju usaha berbasis produk olahan bernilai tambah.

Firman mengatakan pengabdian itu adalah bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong penerapan inovasi teknologi yang berdampak langsung terhadap masyarakat.

Khususnya dalam penguatan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah produk, dan pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Program tersebut didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi tahun pendanaan 2026.

Tiim pengabdian terdiri dari Firman Syahputra M Pdt dari Universitas Dharmas Indonesia (Ketua), beranggotakan Fauzi Tri Yuniko (Dharmas Indonesia), dan Eko Joko Guntoro (Universitas Muaro Bungo Jambi).