Doa Selamat dari Tengah Laut - Korporasi Katadata.co.id
Kapal tunda bercat jingga-putih bersandar di Pelabuhan III Tanjung Priok siang itu Rabu (29/7). Ban-ban hitam berukuran besar menggantung di lambungnya. Tali tambat menahan kapal sepanjang sekitar 26 meter itu di dermaga, tak jauh dari Central Workshop (CWS) IPC Marine Service
Sudah hampir sepekan kapal bertuliskan KT Pulau Sebesi II 216 itu bersandar di dermaga setelah perjalanan panjang dari Weda, Maluku Utara. Namun, diam bukan berarti tak ada aktivitas di sana.
Di ruang mesin, di antara generator, katup, dan pipa-pipa yang memenuhi ruangan, pemeriksaan masih berlangsung. Bani (42 tahun), awak bagian mesin tengah melakukan pemeriksaan. Sebesi belum boleh kembali berlayar.
“Kami menunggu sampai kapal dinyatakan layak dan aman beroperasi kembali,” ujar Bani kepada Katadata.co.id siang itu.
Saat kami berpindah ke anjungan, ia memandang ke tengah lautan. Kapalnya memang telah bersandar, namun perjalanan terakhir masih meninggalkan cerita.
Pada pertengahan Juli, Sebesi meninggalkan Weda menuju Tanjung Priok. Dalam kondisi normal, perjalanan itu diperkirakan memakan waktu sekitar enam hari. Namun kali itu, Sebesi membutuhkan sekitar sepuluh hari.
Masalah datang pada hari keempat. Salah satu mesinnya mengalami gangguan dan mati. Angin tenggara sedang bertiup dan musim ombak membuat kecepatan kapal melambat.
“Yang utama keselamatan, jadi kami maksimalkan perjalanan dengan kondisi satu mesin,” ujar Bani.
Bani bekerja di kapal sejak 2004. Dua dekade lebih di laut membuatnya memahami keadaan darurat tak selalu datang dengan peringatan. Apalagi, PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), anak usaha PT Pelindo tempat ia bekerja, membekali awak dengan pengetahuan keselamatan kerja
“Yang paling penting adalah jangan panik dan mengenali persoalan sedini mungkin,”ujarnya.
Ketika satu mesin Sebesi bermasalah, awak mengikuti SOP dan memperketat aspek keselamatan. Selain itu ada satu hal lain yang dibawa Bani setiap kali kapal menjauh dari daratan. Keluarga.
Di balik setiap perjalanan ia selalu menyimpan doa dari istri dan keluarga yang menunggu di rumah.
“Kalau ada telepon dari istri biasanya selalu sampaikan doa keselamatan untuk saya,” ujar Bani.

Salah seorang awak Kapal Sebesi II milik PT Jasa Armada Indonesia Tbk (JAI) duduk di anjungan kapal, Rabu (29/7) (Katadata)
Pekerjaan yang Tak Banyak Terlihat
Di pelabuhan, kapal tunda mudah luput dari perhatian. Tubuhnya jauh lebih kecil dibanding kapal kontainer, tanker, atau kapal curah yang dibantu. Ketika sebuah kapal raksasa perlahan merapat ke dermaga, mata lebih mudah tertuju pada lambung besar yang menjulang. Padahal, justru pada ruang sempit itulah pekerjaan berisiko berlangsung.
Kapten Solikhin mengenal pekerjaan tersebut dari dekat. Ia bukan orang baru di laut. Sebelum masuk ke lingkungan kepanduan Pelindo pada 2013, ia bekerja sebagai pelaut di kapal tanker. Ia kemudian menjalani pekerjaan sebagai mualim dan kapten kapal tunda sebelum berpindah ke darat dan menangani dukungan operasional.
“Tugas saya dulu menavigasi kapal secara aman, tidak ada masalah buat kapal kami maupun kapal yang kita pandu,” ujar Solikhin kepada Katadata. Meski begitu, memastikan operasi berjalan tanpa insiden membutuhkan banyak hal yang tidak terlihat.
Setidaknya 20 orang terlibat dalam satu rangkaian pelayanan, mulai dari planner, pandu, awak motor pandu, awak kapal tunda hingga petugas mooring. Jumlah kapal tunda yang digunakan tergantung ukuran kapal. Adapun proses pemanduan dilakukan setelah kapal berjarak 3-3,5 mil dari pelabuhan dengan durasi sekitar 30 menit-1 jam.
Setiap perjalanan dalam pemanduan tak lepas dari risiko. Saat pemasangan tali, terkadang lemparan tali dari kapal besar ke kapal tunda gagal karena angin sehingga harus diulang.
Saat tali sudah terpasang, hal besar lainnya menanti. Kapten harus bisa menyesuaikan kecepatan kapal agar bisa menavigasi dengan aman. Di alur sempit, persoalannya berbeda lagi. Ruang bergerak mengecil dan risiko menyentuh sisi alur atau kandas meningkat.
“Hampir semua tugas penuh tantangan,” ujar Solikhin.
Bagi Solikhin, kapal boleh terlambat tetapi keselamatan tidak boleh dipercepat.
Ketika Laut dan Teknologi Berubah
Teknologi kapal juga berubah. Solikhin pernah mengoperasikan tug boat konvensional yang hanya bergerak maju dan mundur hingga kapal yang bisa bermanuver lebih lincah, termasuk berputar 360 derajat.
“Ilmunya ada di buku, tapi kuncinya ada di guru. Nah, guru yang paling baik pengalaman,” ujarnya.
Di IPCM sistem keselamatan dibangun untuk menjangkau pekerjaan sebelum dan ketika kapal beroperasi. Sekretaris Perusahaan IPCM Eddy Haristiani menjelaskan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja perusahaan terintegrasi dengan ISO 45001.
Pergerakan kapal dipantau melalui Vessel Tracking System berbasis AIS dan Phinnisi, sedangkan perawatan armada dikelola melalui SIGAP. Menurut Eddy, sistem itu didukung standardisasi prosedur, pelatihan dan sertifikasi awak, serta modernisasi armada.
“IPCM tidak hanya fokus pada keselamatan awak dan pengguna jasa, tetapi juga memastikan seluruh armada dan fasilitas operasional tetap berada pada kondisi yang andal,” ujar Eddy dalam penjelasan kepada Katadata.co.id.
Menjaga Laut Tetap Bergerak
Apa yang dilakukan Bani dan Solikhin mungkin berlangsung hanya di atas beberapa puluh meter kapal pandu dan tunda. Dampaknya jauh melampaui lambung kapal tersebut.
Indonesia mengandalkan laut untuk memindahkan barang antarpulau. Wakil Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia Amin Mustafa mengatakan keselamatan pelayaran merupakan bagian penting dari rantai pasok nasional. Mengutip data Badan Pusat Statistik, angkutan laut domestik sepanjang Januari-Desember 2025 membawa sekitar 508,4 juta ton barang.
Menurut Amin, faktor sumber daya manusia menjadi salah satu aspek penting dalam keselamatan layanan tersebut. Satu persoalan di laut dapat menjalar ke darat, mengganggu jadwal sandar hingga memperlambat bongkar muat.
“Dan yang paling utama adalah SDM baik itu pandu, master tug dan operator Vessel Traffic Service,” ujar Amin.
Lebih jauh ia mengatakan keselamatan bukan sekadar mencegah kapal tenggelam, tetapi menjaga laut tetap menjadi jalur yang andal untuk menggerakkan barang.
Bagi IPCM, keandalan layanan menjadi bagian penting dalam menjaga arus barang tetap bergerak. Perusahaan kini memasuki babak baru setelah RUPSLB pada Rabu (23/9) menunjuk Dwi Rahmad Toto sebagai Direktur Utama.
"Ke depan perseroan berkomitmen menjaga pertumbuhan berkelanjutan melalui keandalan layanan, keselamatan operasional, efisiensi, inovasi dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik," tulis manajemen dalam pernyataan setelah RUPSLB digelar.
Sementara itu bagi Bani, Solikhin, dan awak kapal lainnya, semua prosedur, teknologi, dan standar keselamatan itu bermuara pada satu tujuan bahwa mereka yang berangkat ke laut dapat kembali ke darat dengan selamat. Sebab dalam setiap perjalanan, ada doa istri dan keluarga yang ikut berlayar. Doa sederhana agar sejauh apa pun kapal membawa mereka, selalu ada jalan untuk kembali pulang.