DLH Nabire siapkan digitalisasi pengelolaan sampah melalui "Smart Waste" - ANTARA News Papua Tengah
Nabire (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire siapkan sistem digital Nabire Smart Waste untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah, mulai dari pemantauan pengangkutan, absensi petugas, penggunaan bahan bakar minyak (BBM), hingga pembayaran retribusi secara nontunai.
Kepala DLH Kabupaten Nabire Arfan Natan Palumpun, di Nabire, Papua Tengah, Senin, mengatakan aplikasi tersebut dirancang untuk memastikan pengangkutan sampah di 12 tempat pembuangan sementara (TPS) dilakukan tepat waktu sehingga tidak terjadi penumpukan.
"Saya berpikir dan merancang sebuah aplikasi yang kami kenal dengan nama Nabire Smart Waste untuk membantu manajemen penanganan sampah secara digital," katanya.
Ia menjelaskan aplikasi tersebut akan menampilkan kondisi setiap TPS secara real time. TPS yang belum diangkut akan ditandai dengan indikator merah, sedangkan setelah sampah diangkut indikator berubah menjadi hijau sehingga memudahkan pemantauan dari kantor.
Selain itu, aplikasi juga akan dilengkapi fitur absensi berbasis kode QR bagi tenaga kontrak. Kehadiran petugas hanya dapat tercatat ketika mereka berada di lokasi kerja sehingga kedisiplinan dapat dipantau melalui dashboard pengawasan.
DLH juga akan memasang perangkat GPS, kamera, dan sensor penggunaan BBM pada setiap armada pengangkut sampah. Teknologi tersebut memungkinkan dinas memantau posisi kendaraan, jalur operasional, dokumentasi kegiatan, hingga konsumsi BBM secara langsung.
"Kami bisa memastikan kendaraan bekerja sesuai rute yang ditentukan dan penggunaan BBM dapat dipantau secara waktu nyata," ujarnya.
Menurut Arfan, digitalisasi juga diterapkan pada layanan retribusi persampahan. Masyarakat nantinya dapat mendaftar sebagai pelanggan melalui aplikasi sekaligus membayar retribusi menggunakan QRIS atau layanan perbankan tanpa transaksi tunai.
Ia mengatakan sistem pembayaran digital diharapkan dapat meminimalkan potensi kebocoran pendapatan asli daerah (PAD) karena seluruh transaksi tercatat otomatis dan langsung masuk ke rekening pemerintah daerah.
Meski demikian, Arfan menilai keberhasilan optimalisasi retribusi tidak hanya bergantung pada sistem digital, tetapi juga ketersediaan armada pengangkut sampah.
Saat ini DLH hanya mengoperasikan 12 kendaraan, sedangkan kebutuhan ideal untuk melayani wilayah perkotaan Nabire mencapai 20 hingga 25 unit.
"Kalau kendaraan mencukupi dan didukung sistem digital, saya yakin target retribusi Rp700 juta per tahun bisa tercapai bahkan melampaui," katanya.
Ia menambahkan, aplikasi Nabire Smart Waste ditargetkan mulai diuji coba pada Agustus atau awal September 2026 setelah seluruh fitur, termasuk GPS, kamera, sensor BBM, dan layanan pengaduan masyarakat, selesai diintegrasikan.
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.