DLH Bantul optimalkan pengelolaan sampah di pasar tradisional
Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong pengelolaan sampah khususnya di pasar tradisional, dilakukan sejak dari sumber untuk mengurangi beban pengolahan sampah di tingkat akhir.
Kepala DLH Bantul Bambang Purwadi Nugroho di Bantul, Sabtu, mengatakan potensi timbulan sampah di Bantul mencapai sekitar 400 ton per hari, tetapi belum seluruhnya dapat tertangani.
"Untuk saat ini di masa transisi kami hanya bisa menangani sekitar 100-an ton per hari," katanya.
DLH Bantul saat ini mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), yang dapat berjalan optimal apabila pemilahan sampah di tingkat paling bawah dilakukan dengan baik.
"Pemilahan dan pengurangan sampah dapat mengurangi beban pengolahan di tingkat akhir," ujarnya.
Ia mendorong masyarakat melakukan pemilahan dan pengolahan sampah organik secara mandiri, khususnya di sejumlah pasar tradisional yang tersebar di Kabupaten Bantul.
"Pengelolaan sampah organik skala terbatas di kawasan pasar juga bisa mengurangi sampah yang harus dibawa ke TPS3R," katanya.
Baca juga: Pemkab Bantul siapkan 50 truk untuk pasok 250 ton sampah ke PSEL
Baca juga: Pertamina bangun ekosistem pengelolaan sampah di Guwosari Bantul
Salah satu upaya DLH Bantul dalam menangani masalah sampah di pasar tradisional dilakukan melalui kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026 untuk memperkuat pembenahan tata kelola sampah dari hulu hingga hilir di Pasar Imogiri pada Jumat.
"Kegiatan bersih-bersih WCD diikuti sekitar 250 orang dari perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), TNI, Polri, serta stakeholder Pasar Imogiri," ujarnya.
Sementara itu, Lurah Pasar Imogiri Sariyono mengatakan volume timbulan sampah di pasar tersebut rata-rata hanya satu hingga dua gerobak sampah setiap hari.
Namun, lanjut dia, timbulan sampah bertambah karena masyarakat dari luar pasar ikut membuang sampah ke tempat penampungan sementara (TPS) yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi warga pasar.
"Kita yang sering banyak itu kecolongan dari luar, dari masyarakat," katanya.
Menurut dia, pengelola Pasar Imogiri telah melakukan pemilahan sampah dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik secara terpisah.
Namun, lanjut dia, sebagian pedagang memang belum sepenuhnya melakukan pemilahan sesuai tempat sampah yang telah disediakan.
"Kadang asal, yang penting masuk tong gitu saja," ujarnya.
Baca juga: Ubah sampah jadi BBM, masyarakat berdaya di Bukit Imogiri Bantul
Baca juga: Pemkab Bantul-BRIN hadirkan mesin pengolah sampah plastik jadi solar
Pewarta: Agung Dwi Prakoso
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.