gop-crypto.vip

Ditemukan Makam Kuno Mesir Berisi Puisi Ratapan & Mantra Perlindungan

Jakarta, CNBC Indonesia - Para arkeolog di Mesir menemukan makam batu kapur berusia sekitar 1.700 tahun yang menyimpan temuan langka berupa inskripsi puisi dalam bahasa Yunani kuno. Puisi tersebut diduga merupakan ungkapan duka seorang anak atas kematian ayahnya.

Melansir Live Science, makam dengan atap berbentuk piramida itu diperkirakan berasal dari abad keempat Masehi, ketika Mesir masih berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Makam ditemukan di Oasis Dakhla, dekat kota kuno Mothis yang kini dikenal sebagai Mut.

Menurut pernyataan perwakilan Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, makam tersebut dibangun untuk sepasang suami istri. Di dalamnya ditemukan sebuah plakat batu yang memuat puisi sepanjang 19 baris dalam bahasa Yunani kuno.

Pria yang dimakamkan di kuburan tersebut diketahui bernama Pisechtes dan kemungkinan merupakan seorang hakim. Namun, pernyataan pemerintah Mesir tidak menyebutkan adanya penemuan sisa-sisa jenazah manusia di lokasi tersebut.

Selain puisi berbahasa Yunani, makam itu juga dihiasi berbagai inskripsi hieroglif yang berisi mantra perlindungan bagi orang yang telah meninggal. Beberapa tulisan tersebut merujuk pada bagian dari "Amduat", teks keagamaan Mesir kuno yang menceritakan perjalanan dewa matahari melewati dunia bawah.

Para arkeolog juga menemukan sejumlah benda lain, termasuk meja persembahan, bejana penyucian, tembikar, serta setidaknya satu koin yang menampilkan gambar Kaisar Romawi Konstantinus Agung. Konstantinus memerintah Kekaisaran Romawi dari 306 hingga 337 Masehi.

Konstantinus dikenal sebagai kaisar yang melegalkan agama Kristen di Kekaisaran Romawi dan kemudian memeluk agama tersebut menjelang akhir hidupnya. Meski demikian, tidak ditemukan hiasan maupun tulisan yang secara jelas menunjukkan unsur Kristen di dalam makam tersebut.

Untuk mencapai pintu masuk makam, terdapat 14 anak tangga yang mengarah ke bawah. Bagian pintunya dihiasi berbagai simbol keagamaan Mesir kuno, termasuk cakram matahari bersayap, sosok dewa Osiris, serta dua ekor ular kobra.

Puisi untuk Sang Ayah

Temuan yang paling menarik perhatian adalah plakat batu yang memuat puisi ratapan dalam bahasa Yunani kuno. Angelos Chaniotis, peneliti di Institute for Advanced Study di New Jersey yang tidak terlibat dalam penggalian, menyebut tulisan tersebut sebagai sebuah epigram yang sangat sastrawi dan orisinal.

Puisi itu menggambarkan Pisechtes sebagai sosok yang baik dan bijaksana. Ia juga disebut sebagai "penasihat dalam hidup".

Pada bagian akhir puisi, nama Sarapion disebut sebagai putra Pisechtes. Menurut Chaniotis, Sarapion menyapa ayahnya dengan seruan, "Dengarlah, Ayah!" dan memintanya untuk menerima persembahan minuman serta sesaji yang diberikan oleh anak-anaknya yang tengah berduka.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]