Distankan: 3.600 hektare sawah di Rejang Lebong terancam kekeringan - ANTARA News Bengkulu
Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, mencatat sekitar 3.600 hektare areal persawahan di wilayah itu terancam kekeringan akibat dampak musim kemarau.
Kepala Distankan Rejang Lebong Suradi Ripai di Rejang Lebong, Selasa, mengatakan musim kemarau mulai berdampak pada penurunan ketersediaan air irigasi, terutama di wilayah Kecamatan Curup Utara dan Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT).
"Saat ini ada dua kecamatan yang lahan pertaniannya mulai terancam kekeringan. Irigasi yang biasanya mengaliri sawah warga mulai mengering. Total luas persawahan di dua kecamatan ini mencapai lebih dari 3.600 hektare," kata Suradi.
Dia menjelaskan, luas lahan sawah di Kecamatan Curup Utara mencapai sekitar 2.707 hektare, sedangkan di Kecamatan PUT seluas lebih dari 900 hektare.
Untuk wilayah Kecamatan Curup Utara, kata dia, persawahan yang mulai terdampak kekeringan berada di Desa Dusun Sawah, Lubuk Kembang, dan Batu Panco. Sementara di Kecamatan PUT, ketersediaan air berkurang di kawasan persawahan Desa Air Kati dan Tanjung Sanai.
Sejauh ini pihaknya, tambah dia, belum menerima laporan kasus gagal panen dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), meskipun penurunan pasokan air mulai mempengaruhi hasil produksi pertanian.
Untuk mengantisipasi kekeringan ini Distankan Rejang Lebong telah mengusulkan bantuan 64 unit mesin pompa air kepada Kementerian Pertanian dan saat ini masih menunggu proses realisasi.
Menurut dia, selain pasokan air yang menyusut, musim kemarau juga memicu potensi peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman. Petani yang membutuhkan penanganan diimbau mengajukan bantuan pestisida melalui PPL di wilayah masing-masing.
Distankan Rejang Lebong mengimbau para petani agar menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air. Bagi petani yang belum memasuki masa tanam padi, disarankan menunda penanaman atau beralih sementara ke komoditas palawija yang lebih hemat air.
Upaya penyesuaian tersebut diharapkan mampu menekan risiko tanaman kekurangan air sekaligus mencegah potensi gagal panen apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Pewarta: Nur Muhamad
Uploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.