gop-crypto.vip

Diakui Jokowi, Popularitasnya Tak Akan Cukup Bawa Menang PSI

Selasa, 11 Agustus 2026, 05:00 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Popularitas Joko Widodo atau Jokowi dinilai belum menjadi jaminan bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI)di Pemilu 2029. Meski pengalaman dan tingkat pengenalan publik terhadap mantan presiden tersebut dianggap sebagai modal politik besar, kekuatan figur tetap harus diterjemahkan menjadi kerja organisasi yang nyata.

Sekretaris Jenderal Projo, Freddy Alex Damanik menilai kepemimpinan politikus itu nantinya berpotensi memberikan dampak lebih luas daripada sekadar menjadi simbol politik. Namun, Freddy menekankan satu hal yang dianggap krusial: popularitas seorang tokoh tidak otomatis berubah menjadi suara partai.

Baca Juga: Titik Terang Misteri Karumga Febrie Adriansyah: Sutrimo Diduga Menjadi Korban Pembunuhan Berencana

“Pak Jokowi sendiri berkali-kali menekankan bahwa popularitas tidak cukup. Yang menentukan adalah kerja politik, membangun organisasi dari pusat sampai desa, menghadirkan kader terbaik dan memperjuangkan program yang dirasakan masyarakat,” ujar Freddy, dikutip Selasa (11/8/2026).

Jokowi memiliki pengalaman yang tidak dimiliki banyak tokoh politik lain. Selama dua periode memimpin sebagai presiden, ia dinilai telah berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pemilih di perkotaan hingga masyarakat di tingkat desa.

“Pak Jokowi memahami karakter pemilih dari desa hingga kota. Optimisme beliau lahir dari fakta lapangan, bukan sekadar optimisme politik,” kata Freddy.

Menurut Freddy, pemahaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa mantan presiden itu dinilai optimistis terhadap perkembangan dari PSI.

Jokowi menurutnya telah melihat berbagai perkembangan di PSI. Hal itu mulai dari upaya memperkuat struktur organisasi, peningkatan kualitas kader, hingga gagasan partai yang dianggap memiliki keterkaitan dengan sejumlah program pembangunan.

Namun, seluruh modal tersebut tetap membutuhkan pembuktian di lapangan. Popularitas Jokowi harus diterjemahkan menjadi struktur partai yang mampu bekerja hingga tingkat paling bawah. Tanpa organisasi yang solid, ketenaran seorang tokoh berisiko hanya menghasilkan perhatian publik tanpa memberikan tambahan suara yang signifikan bagi partai.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena sistem pemilu tidak hanya mengandalkan popularitas figur nasional. Partai harus mampu menghadirkan kader, membangun jaringan, menyampaikan program, dan mendapatkan kepercayaan masyarakat di berbagai daerah.

Sebelumnya, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) semakin percaya diri menghadapi kontestasi Pemilu 2029. Setelah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) resmi bergabung dengan partai tersebut, target besar mulai dipasang, yakni menembus empat besar perolehan suara nasional.

Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia, Dian Sandi Utama mengatakan target yang belakangan ramai diperbincangkan bukan sekadar slogan politik, melainkan telah menjadi pembahasan serius di internal partai.

Ia menjelaskan, keyakinan tersebut lahir dari proses konsolidasi organisasi yang terus dilakukan secara berjenjang, mulai dari pengurus pusat hingga struktur paling bawah di Dewan Pimpinan Ranting (DPRt).

Menurut Dian, penguatan struktur organisasi menjadi fondasi utama bagi partainya untuk meningkatkan daya saing menghadapi Pemilu 2029. Semakin lengkap jaringan kepengurusan di daerah, semakin besar pula peluang partai memperluas basis dukungan masyarakat.

Baca Juga: Ditanya Soal Hasil Kinerjanya Selama 1 Tahun Lebih Jadi Gubernur Jabar, Begini Respons Dedi Mulyadi

"Bahwa melihat kerja keras pengurus pusat sampai daerah untuk merampungkan struktur sampai tingkat ranting ditambah kehadiran Pak Jokowi di PSI. Tidak mengada-ada jika target 2029; PSI masuk 4 besar," terangnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.