gop-crypto.vip

Di Balik Sengketa Felda dan Anwar Ibrahim, Begini Peta Kepemilikan Saham BWPT

Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) masih menjadi sorotan setelah Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim meminta bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaikan persoalan investasi Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority (Felda) di perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut.

Anwar mengungkapkan telah mengirim surat kepada Prabowo agar pemerintah Indonesia memberikan perhatian terhadap persoalan investasi Felda di Eagle High Plantations yang kini masih berproses di pengadilan Indonesia.

Menurut Anwar, persoalan tersebut berpotensi menimbulkan kerugian hingga RM2,5 miliar bagi Felda atau sekitar Rp11 triliun. Dari nilai investasi yang dipersoalkan, dana yang diperkirakan dapat dipulihkan hanya sekitar RM200 juta.

Kasus tersebut kembali membuka perhatian terhadap Eagle High Plantations, termasuk peta kepemilikan saham perusahaan yang masih memperlihatkan keterkaitan dengan kelompok usaha Rajawali milik pengusaha Peter Sondakh.

Rajawali dan Felda Kuasai Hampir 75% BWPT

Berdasarkan rangkuman Warta Ekonomi, Jumat (28/8/2026), Eagle High Plantations (BWPT) merupakan perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit. Perseroan didirikan pada 2000 dengan nama PT Bumi Perdana Prima International, sebelum berganti nama menjadi PT BW Plantation pada 2007.

Saham perusahaan kemudian resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 27 Oktober 2009 dengan kode saham BWPT.

Dalam menjalankan bisnisnya, Eagle High Plantations mengelola perkebunan kelapa sawit, pengolahan hasil perkebunan, serta produksi dan perdagangan produk sawit seperti crude palm oil (CPO) dan palm kernel (PK).

Area operasional perusahaan tersebar di Sumatra, Kalimantan, hingga Papua. Eagle HighPlantations tercatat memiliki sekitar 87.000 hektare area perkebunan dengan kapasitas pengolahan sekitar 2,2 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun.

Di balik bisnis tersebut, struktur pemegang saham BWPT menunjukkan konsentrasi kepemilikan pada dua investor utama.

PT Rajawali Capital International tercatat menguasai sekitar 37,70% saham BWPT. Sedangkan FIC Properties Sdn Bhd yang merupakan anak usaha Felda memiliki sekitar 37% saham perseroan.

Dengan demikian, kedua pemegang saham tersebut secara bersama-sama menguasai sekitar 74,70% saham BWPT. Adapun sisanya terdiri dari saham yang dimiliki publik sekitar 23,98% dan saham treasuri sekitar 1,28%.

Jejak Peter Sondakh Masih Terlihat

Besarnya kepemilikan Rajawali Capital International membuat nama Peter Sondakh masih memiliki keterkaitan dengan Eagle High Plantations.

Peter Sondakh dikenal sebagai pengusaha di balik kelompok Rajawali Corpora. Melalui PT Rajawali Capital International, kelompok usaha tersebut menjadi salah satu pemegang saham terbesar BWPT dengan porsi sekitar 37,70%.

Di sisi lain, posisi FIC Properties Sdn Bhd tidak kalah penting. Entitas tersebut berkaitan dengan Felda, lembaga pemerintah Malaysia yang memiliki mandat dalam pengembangan dan pengelolaan sektor perkebunan.

Baca Juga: Disorot PM Malaysia Anwar Ibrahim soal Kerugian Investasi Felda Rp11 Triliun, Ini Respons BWPT

Baca Juga: Disorot Anwar Ibrahim, Ini Profil BWPT dan Jejak Peter Sondakh di Eagle High Plantations (BWPT)

Baca Juga: PM Malaysia Minta Bantuan Prabowo Selesaikan Investasi Felda di BWPT Senilai Rp11 Triliun

Artinya, struktur kepemilikan BWPT saat ini mempertemukan dua kepentingan besar: kelompok Rajawali Corpora yang terkait dengan Peter Sondakh dan investor yang berkaitan dengan Felda.

Felda Masuk BWPT Lewat Akuisisi Saham

Keterlibatan Felda di Eagle High Plantations bermula ketika FIC Properties mengakuisisi sekitar 37% saham BWPT yang sebelumnya dimiliki kelompok Rajawali.

Nilai transaksi tersebut dilaporkan mencapai sekitar US$505,4 juta, atau sekitar Rp6,7 triliun.

Akuisisi ini menjadikan Felda salah satu pemegang saham strategis Eagle High Plantations sekaligus menempatkan entitas asal Malaysia tersebut berdampingan dengan Rajawali Corpora dalam struktur pemegang saham perusahaan.

Namun, investasi tersebut kemudian menghadapi persoalan hukum yang berlangsung cukup panjang.

Kini, persoalan tersebut kembali mencuat setelah Anwar Ibrahim meminta bantuan Prabowo untuk membantu penyelesaiannya. Menurut Anwar, perkara investasi Felda di BWPT masih berjalan di pengadilan Indonesia.

Jika persoalan tersebut tidak terselesaikan, Felda berpotensi menghadapi kerugian hingga RM2,5 miliar, dengan nilai yang diperkirakan dapat dipulihkan hanya sekitar RM200 juta.