Denny JA Terima AMA Appreciation Award 2026, Soroti Makna Kepemimpinan Korporasi
AMA menilai, Denny berkontribusi dalam memperluas wawasan strategis PHE, mendorong pengambilan keputusan yang profesional dan bertanggung jawab, serta memperkuat pembelajaran dan kepemimpinan di lingkungan perusahaan.
Dalam pidatonya, Denny mengatakan penghargaan bukan merupakan puncak perjalanan kepemimpinan.
Menurutnya, penghargaan justru menjadi momentum untuk kembali mempertanyakan makna kepemimpinan korporasi di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Salah satu hal yang disorot Denny adalah konsep wealth creation. Ia mengambil contoh perkembangan SpaceX dan Elon Musk dalam membangun nilai ekonomi melalui inovasi teknologi.
Menurut Denny, keberhasilan SpaceX mengembangkan roket yang dapat digunakan kembali mengubah cara industri antariksa memandang biaya peluncuran.
Inovasi tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa penciptaan kekayaan tidak selalu berasal dari perebutan pangsa pasar yang sudah ada, tetapi juga dari penciptaan nilai dan kemungkinan baru.
Denny kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan perkembangan Starlink yang memanfaatkan jaringan satelit orbit rendah untuk menyediakan akses internet di berbagai wilayah.
“Wealth creation bukan pertama-tama soal kekayaan. Ia dimulai ketika seseorang melihat kebutuhan yang belum terjawab, lalu mengubahnya menjadi nilai,” ujar Denny dalam pidatonya.
Denny juga memperkenalkan konsep defining question sebagai pertanyaan mendasar yang perlu dimiliki seorang pemimpin dalam menentukan arah organisasi.
Menurutnya, pemimpin perlu mempertanyakan kebutuhan utama zaman, manusia, dan lingkungan di sekitarnya serta kontribusi yang dapat diberikan organisasi yang dipimpinnya.
Konsep tersebut, kata Denny, juga menjadi pertanyaan ketika dirinya dipercaya sebagai Komisaris Utama PHE.
Ia mengaku membawa perspektif dari berbagai bidang usaha yang pernah digelutinya, meski tidak berasal dari latar belakang profesional industri energi.
“Pertanyaan pertama yang dibawanya ke PHE bukanlah sebuah pertanyaan yang bersifat teknis. Ia kembali kepada defining question: Apa yang paling dibutuhkan Indonesia dari PHE pada zaman ini, dan perubahan apa yang dapat kita lakukan?” kata Denny.
Menurutnya, terdapat dua hal yang perlu berjalan beriringan, yakni peningkatan produksi energi dan penguatan institusi untuk mendukung pengambilan keputusan yang profesional.
Di sisi produksi, PHE mencanangkan aspirasi 1M29 atau target produksi satu juta barel minyak per hari pada 2029.
Target tersebut akan didukung melalui eksplorasi, pemanfaatan teknologi, optimalisasi lapangan eksisting, serta upaya mencari sumber pertumbuhan produksi baru.
Selain penguatan produksi domestik, Denny juga menyoroti strategi PHE Goes Global melalui peluang merger dan akuisisi secara selektif di luar negeri.
Menurutnya, pencarian sumber energi tidak harus terbatas pada wilayah Indonesia ketika kebutuhan energi nasional melampaui kemampuan sumber daya domestik.
Baca Juga: Pratikno: Wantimpres Akan Semaksimal Mungkin Beri Masukan Berkualitas untuk Presiden