Dampak El Nino Terhadap Produksi Beras RI Memburuk
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, fenomena kekeringan berkepanjangan alias El Nino yang terjadi pada 2026 lebih buruk dibanding periode 2023 terhadap penyusutan pertanaman padi.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) proporsi luas fase amatan kerangka sampel area (KSA) padi pada Agustus 2026 hanya sebesar 28,07%, lebih rendah dibanding periode El Nino pada 2023 yang luasnya 29,79%.
Meski begitu, secara tren dalam periode amatan sejak Agustus 2021, masa El Nino memang terjadi penurunan dibanding dengan masa normal.
Pada Agustus 2021 proporsi luas standing crop atau pertanaman padi 31,16% dan Agustus 2022 31,98%. Sedangkan pada Agustus 2024 sebesar 33,24% dan Agustus 2025 seluas 34,15%.
"Penurunan luas standing crop mengidentifikasikan lebih rendahnya luas pertanaman padi yang berada pada fase sebelum panen, yaitu fase vegetatif awal, vegetatif akhir dan juga generatif," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono di kantornya, Jakarta, dikutip Minggu (4/10/2026).
Berkuranganya luas pertanaman padi berimplikasi langsung terhadap menyusutnya produksi beras. Realisasi luas panen padi pada Agustus 2026 mencapai 1,08 juta hektare, turun 2,83% dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 1,11 juta hektare.
Sejalan dengan penurunan luas panen, produksi padi juga tercatat menurun. Pada Agustus 2026, produksi padi mencapai 5,46 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 2,94% dibandingkan Agustus tahun lalu yang sebesar 5,63 juta ton GKG.
Sementara itu, produksi beras pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,15 juta ton atau turun 2,90% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, secara kumulatif sepanjang Januari-Agustus 2026, kinerja produksi padi masih relatif stabil. Luas panen padi tercatat mencapai 8,32 juta hektare atau naik tipis 0,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, BPS memperingatkan adanya potensi penurunan produksi pada tiga bulan mendatang. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan metode Kerangka Sampel Area (KSA), luas panen padi pada September-November 2026 diperkirakan hanya mencapai 2,23 juta hektare atau turun 12,97% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan luas panen tersebut diperkirakan akan berdampak pada produksi. BPS memperkirakan produksi padi pada September-November 2026 mencapai 12,24 juta ton GKG atau turun 11,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, produksi beras pada periode tiga bulan ke depan diproyeksikan sebesar 7,06 juta ton atau turun 11,95%.
"Dampak El Nino yang tersermin pada potensi luas panen pada Januari sampai dengan November 2026 perlu untuk menjadi perhatian kita bersama," ucap Ateng.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]