Cerita tentang hidup sehat mulai menemukan jalannya melalui JAPFA For Kids
Cerita tentang hidup sehat mulai menemukan jalannya melalui JAPFA For Kids
Minggu, 2 Agustus 2026 11:29 WIB
Siswa-siswi SDN 1 Budidaya, Sidomulyo mengikuti senam Sehat JAPFA. Sekolah tersebut masuk dalam program JAPFA for Kids 2026 yang menyasar 15 sekolah di Kecamatan Sidomuly, Kabupaten Lampung Selatan. Provinsi Lampung, Minggu (2/8/2026). (ANTARA/Dian Hadiyatna)
Bandarlampung (ANTARA) - Pagi baru saja dimulai di Sekolah Dasar Negeri 1 Budidaya, Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan. Paras penuh semangat dan kegembiraan terpancar dari para siswa-siswi yang sedang berada di hamparan lapangan dan bersiap mengikuti pelajaran.
Di sela tawa gembira anak-anak tersebut ada satu kebiasaan sederhana yang kini menjadi bagian dari rutinitas mereka, yakni menikmati sebutir telur. Mungkin bagi sebagian orang, telur hanya menu sarapan biasa. Namun, bagi ribuan anak, sebutir telur adalah awal dari perubahan.
Di sekolah tersebut terdapat 186 siswa di mana delapan di antaranya mendapat perhatian khusus dari PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) karena berdasarkan data hasil pengukuran mereka dinilai mengalami malanutrisi.
Dalam upaya meningkatkan gizi kedelapan anak tersebut JAPFA mengutus dua fasilitator gizi yakni Tamara dan Debora, melalui program JAPFA for Kids guna memberikan pendampingan, edukasi dan sosialisasi kepada guru, orang tua dan para siswa.
Lampung bukanlah tempat baru bagi JAPFA for Kids. Delapan belas tahun lalu, tepatnya pada 2008, provinsi ini menjadi salah satu titik awal lahirnya JAPFA for Kids.
Program tersebut pertama kali hadir di Lampung Tengah dan Lampung Timur, menjangkau enam sekolah dan 1.632 siswa. Setelah itu, langkahnya terus berlanjut ke Lampung Selatan, Tanggamus, Pringsewu, Pesawaran, hingga kembali lagi ke Lampung Selatan pada 2026.
Kini, jejak itu semakin panjang. Sebanyak 69 sekolah dan lebih dari 13.400 siswa di Lampung telah menjadi bagian dari perjalanan yang sama. Tahun ini saja, 15 sekolah di Lampung Selasa dengan 2.051 siswa dan 165 guru kembali bergabung dalam upaya membangun generasi yang lebih sehat.
Namun, perjalanan ini tidak hanya tentang angka. Di balik setiap data, ada cerita seorang anak yang mulai menikmati sarapan sebelum berangkat sekolah. Ada guru yang setiap bulan mencatat berat dan tinggi badan murid-muridnya. Ada orang tua yang mulai memahami pentingnya protein hewani dalam menu harian keluarga.

Kemudian, ada pula tenaga kesehatan yang sabar memberikan edukasi agar kebiasaan hidup sehat tumbuh sejak dini, serta kegigihan fasilitator JAPFA dalam bersosialisasi dan menjaga komunikasi, kepada para orang tua, siswa dan pihak sekolah dalam menyukseskan program JAPFA for Kids di Lampung Selatan.
Semua pihak harus bergerak dalam irama yang sama yakni memastikan anak-anak memiliki kesempatan untuk tumbuh lebih baik. Bagi Fasilitator Gizi JAPFA, Debora, keberhasilan program peningkatan gizi anak tidak diukur dari banyaknya telur yang dibagikan atau jumlah sekolah yang dikunjungi.
Keberhasilan sesungguhnya ketika anak-anak mulai memilih makanan yang lebih bergizi tanpa harus diingatkan, ketika orang tua memahami pentingnya menyajikan menu yang seimbang, dan saat kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan atau membersihkan kuku menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Gadis muda yang berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, tersebut meyakini perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Namun perubahan besar memang selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara rutin dan menjadi kebiasaan sehari-hari.
Di Lampung, hanya ada dua fasilitator yang mengemban tanggung jawab mendampingi pelaksanaan program JAPFA for Kids di 15 sekolah. Tugas mereka bukan sekadar memantau kegiatan, tetapi juga membangun komunikasi yang erat dengan sekolah dan keluarga agar perubahan perilaku sehat tetap berlanjut setelah program selesai.
Bersama Tamara, perempuan Jogja yang lembut, Debora tidak datang sebagai orang yang merasa paling tahu tentang persoalan gizi para siswa, melainkan sebagai pendamping yang belajar bersama guru, orang tua, dan murid.
"Eh, kukumu masih kotor. Dicuci dulu, ya." Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi Debora, teguran sederhana tersebut adalah pertanda bahwa sesuatu sedang berubah.
Bukan sekadar anak-anak mulai memahami pentingnya kebersihan, tetapi mereka telah menjadikannya sebagai kebiasaan yang saling diingatkan. Itulah tujuan yang selama ini ingin dicapai melalui pendampingan di sekolah.
Demi mewujudkan tujuan ini kedua perempuan muda tersebut selalu berpindah-pindah guna mendampingi 15 sekolah yang menjadi target program JAPFA. Hal itu untuk memastikan bukan hanya telur yang dimakan anak-anak, tetapi juga perubahan pola pikir tentang makanan bergizi dan perilaku hidup bersih serta sehat (PHBS).
Ketika anak-anak mulai saling mengingatkan untuk mencuci tangan atau memperhatikan kebersihan kuku temannya, itu menjadi tanda bahwa edukasi yang diberikan mulai mereka terapkan.
Di awal pendampingan, kedua gadis itu masih menemukan masih banyak orang tua yang menganggap kebutuhan gizi anak sudah terpenuhi dengan sepiring nasi dan telur. Sayur sering kali tidak hadir di meja makan karena anak menolak memakannya.

Hal itu juga yang menjadi perhatian bagi Tamara Karent selalu Fasilitator Gizi JAPFA. Menurutnya program JAPFA ini memang hadir untuk membiasakan anak-anak makan gizi seimbang selain itu perusahaan juga memberikan contoh aktivitas fisik yang harus dilakukan.
Mengetahui masih banyaknya orang tua yang belum memahami pemenuhan gizi seimbang. Tamara memilih menjadi teman diskusi, baik dengan guru maupun orang tua guna mencari berbagai cara agar menu keluarga menjadi lebih beragam.
Hal tersebut terlihat lebih relevan guna meningkatkan gizi generasi penerus bangsa daripada menyalahkan kebiasaan tersebut. Sejumlah referensi menu pun diberikan kepada orang tua. Tujuannya supaya makanan yang disajikan tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memenuhi prinsip gizi seimbang dengan protein, sayur, buah, dan karbohidrat
Pendekatan dan komunikasi yang terus dibangun dalam sepekan terakhir akhirnya berbuah hasil, para orang tua di sekolah yang menjadi target Program JAPFA for Kids kini mulai mencoba resep-resep baru bagi anak mereka.
Sehingga, terlihat anak-anak pun memiliki beka makanan yang semakin berwarna. Sayur yang sebelumnya selalu tersisa perlahan mulai disantap oleh mereka.
Pendampingan yang dilakukan Tamara dan Debora memang tidak berhenti pada ruang kelas. Program ini juga menjangkau rumah, menjadikan orang tua sebagai bagian penting dalam proses membangun kebiasaan sehat. Sehingga tujuan mendapatkan gizi yang baik untuk anak dapat tercapai.
Dari ruang kelas, halaman sekolah, hingga rumah-rumah sederhana, cerita tentang hidup sehat mulai menemukan jalannya. Benih-benih itu perlahan menemukan tanah tempatnya bertumbuh. Perubahan itu tidak datang dengan gegap gempita, melainkan hadir melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang mulai mengakar.
Sarapan yang tak lagi terlewat, sebutir telur yang menjadi teman di meja makan, serta tangan-tangan mungil yang mulai terbiasa mencuci tangan sebelum menyentuh makanan.
Di depan ruangan salah satu kelas, sejumlah orang tua siswa terlihat berkumpul, sembari mendengarkan edukasi yang diberikan oleh guru, pihak kesehatan serta JAPFA, guna meningkatkan gizi anak menjadi lebih baik.
Permasalahannya kurang gizi bukan hanya menyasar anak-anak dengan ekonomi kurang tetapi juga mereka yang dalam kondisi cukup dan berlebih. Masalahnya yakni ada pada apa yang dimakan dan disajikan di rumah bagi anak-anak.
Rafika, salah satu orang tua siswa di SDN 1 Budidaya menyampaikan bahwa untuk memenuhi gizi seimbang bagi anaknya bukanlah perkara yang sulit. Tetapi ketidaksukaan anaknya mengkonsumsi telur menjadi penyebab kurangnya gizi seimbang bagi buah hatinya yang saat ini duduk di kelas 4 SD.
Sehingga dengan adanya program dari JAPFA ini, dirinya pun merasa terbantu untuk memberikan pengertian kepada anaknya bahwa telur merupakan makanan yang kaya akan protein hewani dan dapat dimasak dengan enak.
Awalnya memang tidak mudah, agar anaknya mau mengkonsumsi telur, namun perlahan terdapat perubahan yang mencolok. Hatam anaknya sedikit-demi sedikit mau memakan telur yang telah disediakan di meja makan.
Dengan adanya kemauan anaknya mengkonsumsi telur, kini Rafika pun terus berkonsultasi ke fasilitator dan para guru, guna menentukan menu mana yang pas untuk disiapkan dan memenuhi gizi seimbang bagi anaknya.
Baginya Program JAPFA for Kids menjadi sebuah anugerah, guna melihat tumbuh kembang anaknya yang lebih baik. Memiliki anak sehat merupakan mimpi dari semua orang tua di dunia ini dan JAPFA telah memberikan langkah itu.
Cerita berbeda disampaikan oleh orang tua lainnya Widi Astuti yang merasa kaget saat sekolah mengabarkan anaknya Ilham menjadi salah satu siswa yang akan mendapat pendampingan melalui program JAPFA for Kids dalam peningkatan gizi.
Bagaimana ibu rumah tangga berusia 36 tahun tersebut tidak terkejut dengan informasi itu, pasalnya Ilham mempunyai nafsu makan yang tinggi dan normal. Terlebih telur merupakan menu yang hampir setiap hari disajikan di rumah.
Bahkan ibu dua anak itu mengungkapkan Ilham tidak pernah kekurangan makan di rumah. Tetapi dirinya mengingat kembali bahwa anaknya memang menyukai telur tetapi tidak seberapa dengan sayur-sayuran.
Akhirnya, penjelasan dari tenaga kesehatan saat peluncuran program JAPFA for Kids membuatnya mulai mengerti dan menerima bahwa pertumbuhan anak tidak hanya dilihat dari seberapa banyak anak makan, tetapi dari kecukupan dan keberagaman gizinya.
Mungkin bagi kebanyakan orang tua memenuhi makanan anak cukup dengan memaksakan hal disukai, tetapi mereka lengah dengan kecukupan gizi seimbangnya. Melalui program JAPFA for Kids, Widi Astuti mulai tercerahkan, dan menjadikan pendampingan tersebut sebagai langkah untuk meningkatkan gizi anak-anaknya.
Hal ini pula membukakan wawasan para orang tua akan pentingnya pengetahuan terkait kecukupan gizi, sehingga tumbuh kembang anak dapat sesuai dan menjadi generasi emas 2045.
Cerita dari fasilitator dan para orang tua itu juga mengingatkan bahwa persoalan gizi belum selesai. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat sekitar 11 persen anak usia sekolah masih mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Temuan pemantauan JAPFA pada 2024 pun menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa di lokasi program masih menghadapi kondisi serupa.

Karena itu, JAPFA for Kids tidak berhenti pada pembagian telur. Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti menyampaikan, program ini mengajarkan empat pilar gizi seimbang, membiasakan aktivitas fisik melalui Hari Sehat JAPFA, memantau pertumbuhan anak secara digital, melatih guru, mendampingi orang tua, dan terus mengevaluasi perkembangan setiap peserta.
Hasilnya mulai terlihat. Pada 2024, lebih dari separuh anak dengan kondisi gizi kurang berhasil mencapai status gizi baik. Setahun kemudian, angka keberhasilannya bahkan meningkat menjadi 62,5 persen. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari anak-anak yang kini lebih sehat, lebih aktif, dan lebih siap belajar.
Delapan belas tahun telah berlalu sejak langkah pertama itu dimulai. perjalanannya masih panjang, tantangannya masih ada, tetapi harapan terus tumbuh. Di Lampung, harapan itu mungkin dimulai dari satu ruang kelas, satu senyum anak, satu guru yang peduli, atau bahkan dari sebutir telur yang setiap pagi hadir di meja makan.
Karena membangun generasi sehat tidak pernah menjadi pekerjaan satu pihak. Ia lahir dari kolaborasi, kepedulian, dan keyakinan bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan menggapai masa depan yang lebih baik.
Bagi Pemerintah Kecamatan Sidomulyo, upaya memperbaiki gizi anak bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan oleh satu pihak. Di balik setiap anak yang tumbuh lebih sehat, selalu ada kolaborasi yang saling menguatkan. Karena itu, ketika PT JAPFA melalui program JAPFA for Kids hadir mendampingi sekolah, orang tua, dan siswa, kehadirannya dipandang sebagai bagian penting dari ikhtiar bersama membangun generasi yang lebih sehat.
Camat Sidomulyo Fran Sinarta Adung melihat kepedulian dunia usaha sebagai energi tambahan yang melengkapi langkah-langkah pemerintah. Selama ini berbagai intervensi telah dijalankan, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu strategi meningkatkan kualitas gizi anak.
Namun, menurutnya, perubahan tidak cukup hanya bergantung pada penyediaan makanan bergizi. Edukasi tentang pola makan sehat, pendampingan kepada keluarga, serta pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah menjadi mata rantai yang tak kalah penting.
Di titik itulah, kolaborasi dengan sektor swasta seperti JAPFA for Kids memberi makna lebih, menghadirkan pendampingan yang membuat upaya pemerintah tidak berjalan sendiri, melainkan bergerak bersama masyarakat menuju tujuan yang sama yakni memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat dan meraih masa depan yang lebih baik.
Di balik setiap perubahan itu, tersimpan kisah tentang harapan yang tumbuh diam-diam. Seorang guru yang tak pernah lelah mengingatkan, orang tua yang belajar menyusun menu sederhana namun bergizi, hingga anak-anak yang mulai memahami bahwa tubuh yang sehat adalah pintu menuju mimpi-mimpi yang lebih besar.
Dari tempat-tempat yang tampak biasa itulah, secercah masa depan sedang dirajut, bukan dengan kata-kata, melainkan melalui langkah-langkah kecil yang, sedikit demi sedikit, mengubah cara sebuah generasi memandang kesehatan dan kehidupan.
Oleh Dian Hadiyatna
Editor:
Citro Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.