Cerita perjuangan Emilia Nova kembali ke saptalomba di Asian Games
Nagoya, Jepang (ANTARA) - Emilia Nova kembali menekuni nomor saptalomba atau heptathlon pada Asian Games setelah sempat meninggalkan nomor tersebut dan memilih fokus pada nomor lari gawang yang menjadi spesialisasinya.
Keputusan Emilia kembali ke nomor yang terdiri dari tujuh disiplin atletik itu tidak datang secara tiba-tiba. Ia memiliki sejarah panjang dengan saptalomba sejak awal karirnya dan pernah mencatatkan prestasi nasional di nomor tersebut.
"Saya dulu mulai saptalomba umur 19 tahun, 2014. Karena lari gawang saya jelek dulu, akhirnya saya coba saptalomba karena motorik saya bagus," kata Emilia ditemui usai menuntaskan saptalomba di Mizuho Sports Park, Nagoya, Jepang, Jumat.
Setelah berlatih sekitar dua tahun, Emilia mampu memecahkan rekor nasional saptalomba yang telah bertahan selama 23 tahun. Ia juga berhasil membawa pulang medali perak pada SEA Games Kuala Lumpur 2017.
Namun, setelah itu ia memilih lebih fokus pada nomor lari gawang dan meninggalkan saptalomba untuk sementara.
Perjalanan di nomor lari gawang juga menghasilkan sejumlah prestasi. Emilia meraih gelar juara PON dan memecahkan rekor nasional pada nomor tersebut. Ia kemudian sempat turun di dua nomor dalam beberapa kejuaraan, tetapi akhirnya harus memilih karena jadwal pertandingan yang berdekatan.
Baca juga: Natasya Beteyob alihkan fokus ke kualifikasi Olimpiade
Pengalaman bertanding di nomor lari gawang bahkan membawanya meraih medali perak pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018. Saat itu, persiapannya didukung dengan sejumlah uji coba internasional, termasuk bertanding di Amerika Serikat dan Korea Selatan.
"Di Asian Games saya dapat perak karena saya sudah siap dan sudah sering bertanding. Jadi enak untuk evaluasi latihan," ujar Emilia.
Namun, setelah kembali mencoba saptalomba, Emilia justru harus menghadapi persoalan cedera. Ia menjalani operasi dan membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi sebelum kembali berkompetisi.
Situasi cedera tersebut membuat Emilia berpikir ulang untuk kembali ke saptalomba.
Namun, menurut dia, nomor saptalomba memberikan peluang untuk kembali berprestasi karena tidak banyak atlet yang memiliki kemampuan motorik dan daya tahan yang dibutuhkan untuk menjalani tujuh nomor dalam satu rangkaian pertandingan.
"Saya akhirnya turun saptalomba karena melihat peluang. Di saptalomba kayaknya lebih mudah karena tidak banyak orang yang mau capek dan tidak banyak yang motoriknya bagus," kata Emilia.
Baca juga: Timnas hoki putri Indonesia petik kemenangan atas Thailand 1-0
Comeback stronger
Keputusan itu kemudian membuahkan hasil. Emilia meraih medali emas saptalomba pada PON Aceh-Sumut 2024 dan kembali menunjukkan kemampuan terbaiknya pada SEA Games Thailand 2025.
Emilia merebut emas SEA Games Thailand 2025 dan memecahkan rekor nasional dengan mengumpulkan total 5.497 poin -- melampaui catatan miliknya sendiri, yaitu 5.386 poin yang bertahan sejak SEA Games 2017.
Turun di nomor saptalomba Asian Games di Aichi-Nagoya, ia menyadari nomor tersebut menguras energi karena seorang atlet harus menjalani tujuh disiplin, sehingga persiapannya tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Menurut Emilia, salah satu hal yang masih perlu ditingkatkan dalam persiapan atlet Indonesia adalah kesempatan mengikuti pertandingan internasional sebagai ajang uji coba.
Ia berharap atlet Indonesia mendapat lebih banyak kesempatan bertanding di luar negeri. Menurut Emilia, kompetisi memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai hasil latihan sekaligus membantu atlet mengetahui aspek yang masih perlu diperbaiki.
"Kalau latihan terus tidak ada pertandingan, jenuh juga. Pertandingan itu diperlukan buat pelatih dan atlet evaluasi hasil latihan," ujarnya.
"Kalau latihan saja, kita kadang cuma mengandalkan motivasi dari diri sendiri. Tapi kalau ada pertandingan, kita tahu salahnya di mana dan apa yang harus dievaluasi."
Baca juga: Round-up: Dua perunggu tambah perolehan medali untuk Indonesia
Kembali ke saptalomba di Asian Games juga menjadi bagian dari upaya Emilia memaksimalkan karirnya. Pada usia 30 tahun, ia masih ingin bersaing dan belum berpikir untuk mengakhiri karir sebagai atlet.
"Selama badan ini masih kuat, hajar terus. Kalau sudah tidak kuat, barulah gantung sepatu," kata atlet kelahiran tahun 1995 tersebut.
Bagi Emilia, usia bukan alasan untuk berhenti. Setelah melewati operasi dan cedera lutut, ia justru mampu kembali mencatatkan prestasi dan memecahkan rekor nasional.
Ia berharap perjalanan tersebut dapat menjadi motivasi bagi atlet lain untuk tidak terburu-buru menyerah hanya karena faktor usia.
"Alhamdulillah, di umur 30 saya malah pecah rekor dan dapat medali terbanyak di atletik. Saya ingin menginspirasi orang-orang yang sudah pasrah sama umur," ujar Emilia.
Di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Emilia menuntaskan rangkaian nomor saptalomba dengan finis di urutan ketujuh dengan mengumpulkan total 5.279 poin setelah menjalani tujuh nomor pertandingan.
Baca juga: Rekap: Amri/Nita ke 8 besar, Fajar/Fikri lolos ke babak kedua
Baca juga: Emilia Nova tuntaskansaptalomba Asian Games dengan finis ketujuh
Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.