Cerita Menperin Sarmuji Sampai Dikejar Orang Mesir Gegara Jamu RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji menilai ketersediaan bahan baku masih menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan industri farmasi nasional. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
"Kita memiliki banyak sumber daya alam yang potensial, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi bahan baku industri farmasi membutuhkan teknologi, riset, dan kemampuan sumber daya manusia," ujar Sarmuji dalam Manufacture Check CNBC Indonesia, dikutip Senin (12/10/26).
Karenanya Indonesia perlu memperkuat kemampuan riset agar sumber daya alam dapat dikembangkan menjadi bahan baku yang memenuhi kebutuhan dan standar industri farmasi. Proses tersebut membutuhkan fasilitas pengujian, penelitian yang berkelanjutan, serta tenaga ahli yang mampu memastikan kualitas dan keamanan bahan yang dihasilkan.
Pengembangan industri berbasis bahan alam juga dapat menjadi peluang untuk memperbesar nilai tambah sumber daya domestik. Namun, pengembangan itu harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah dan dukungan teknologi yang memadai.
"Potensi bahan alam kita besar, tetapi potensi saja tidak cukup. Harus ada teknologi, penelitian, pengujian, dan orang-orang yang memiliki keahlian untuk mengembangkannya," katanya.
Ia berharap penguatan kemampuan pengolahan dan riset dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan baku dari luar negeri sekaligus memperluas kemampuan industri farmasi nasional.
"Kita harus mampu mengubah kekayaan sumber daya alam menjadi produk industri yang memiliki nilai tambah. Kuncinya ada pada penguasaan teknologi dan penguatan riset," sebut Sarmuji.
Ia menceritakan pengalamannya ketika bertemu seseorang asal Mesir yang menunjukkan ketertarikan terhadap jamu Indonesia. Pengalaman itu menjadi gambaran mengenai potensi produk berbasis bahan alam Indonesia, meskipun pengembangannya tetap membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Ada orang dari Mesir yang sampai mengejar saya karena ingin mengetahui jamu Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kita memiliki potensi yang menarik, tetapi potensi itu harus dikembangkan dengan serius agar bisa menjadi kekuatan industri," katanya.
Pengembangan industri berbasis bahan alam tidak boleh berhenti pada penjualan bahan mentah atau produk tradisional. Indonesia perlu memperkuat kemampuan penelitian, pengolahan, dan pengujian agar dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi serta memenuhi standar industri.
"Potensi bahan alam dan jamu kita besar. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan potensi itu dengan teknologi dan riset yang memadai sehingga bisa menjadi produk industri yang berkualitas dan memiliki nilai tambah," tutup Sarmuji.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]