Cara tetap istirahat saat pekerjaan menumpuk
Jadwal yang menumpuk sering kali membuat kita melewatkan waktu makan atau istirahat.
Masalahnya, jeda yang ditunda dan pekerjaan yang dianggap ‘tinggal sedikit lagi’ bisa terus bertambah. Akhirnya, tanpa disadari, kita bekerja selama berjam-jam tanpa jeda karena merasa bahwa berhenti sebentar justru akan membuat pekerjaan semakin tertunda.
Oleh karena itu, memasukkan jeda ke dalam ritme kerja tanpa membuat pekerjaan kehilangan arah dapat membuat performa kerja lebih stabil. Berikut penjelasannya lebih lanjut, dilansir oleh Albulescu et al. pada PLOS One tentang ‘break’ (2022).
1. Jangan tunggu pekerjaan selesai
Saat pekerjaan menumpuk, kita cenderung mengatakan ‘nanti’. Padahal, tugas tidak selalu selesai dalam satu blok waktu. Karena itu, waktu istirahat perlu diperlakukan sebagai bagian dari jadwal kerja dan bukan hadiah setelah semua pekerjaan selesai.
Kita bisa mulai mengambil langkah seperti mengambil jeda sesaat setelah satu pekerjaan selesai atau menjauh dari layar setelah beberapa pekerjaan kecil sebelum berpindah ke tugas lainnya.
2. Gunakan jeda singkat di antara pekerjaan
Pekerjaan yang panjang dapat memicu burnout pada diri seseorang. Dengan begitu, kita memerlukan jeda singkat di antara pekerjaan yang kita miliki. Konsep micro-break, jadi salah satu alternatif melakukan istirahat singkat tanpa merasa bersalah mengambil jeda panjang.
Kita bisa meluangkan beberapa menit untuk berdiri, berjalan sebentar, minum, atau melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan pekerjaan sebagai bentuk istirahat. Micro-breaks sendiri memiliki efek kecil tetapi signifikan dalam mengurangi fatigue atau kelelahan. Meskipun efeknya pada performa tidak terlalu signifikan secara keseluruhan.
3. Pilih jenis istirahat sesuai kondisi pekerjaan
Tidak semua jeda harus dilakukan dengan cara yang sama. Jika setelah beberapa jam menatap layar, mata dan kepala terasa penuh, membuka media sosial belum tentu menutup pemulihan. Oleh karenanya, kita bisa mulai memilih jenis jeda atau istirahat yang sesuai dengan kondisi pekerjaan, seperti:
- Ketika sudah terlalu dekat dengan layar, kamu bisa menjauhkan diri dari layar.
- Ketika pikiran penuh, kamu bisa berjalan atau duduk tanpa mengerjakan tugas apa pun.
- Ketika tubuh terasa kaku, kamu bisa melakukan peregangan ringan.
- Ketika ada banyak pekerjaan kecil, kamu bisa mengambil jeda sebelum berpindah ke tugas berikutnya.
- Ketika sulit fokus, kamu bisa berhenti sebelum kembali ke tugas
Memilih dan memilah jenis seperti ini dapat membuat kita mengisi ulang energi sebelum melakukan pekerjaan selanjutnya.
4. Jangan isi waktu istirahat dengan pekerjaan lain
Banyak pekerja sebenarnya beristirahat, namun tetap bekerja. Contohnya, makan sambil membuka email atau membuka laptop lagi karena merasa perlu mengecek satu hal.
Padahal, tujuan jeda adalah memberikan kita jarak dari pekerjaan untuk sementara dan membantu seseorang keluar sebentar dari tuntutan pekerjaan. Lantas, bagaimana kalau pekerjaan benar-benar mendesak? Kita tetap perlu menentukan batas jeda. Tidak semua hari kerja memungkinkan seseorang mengambil jeda dengan pola ideal.
Ada deadline, rapat berturut-turut, atau situasi lain yang memang membutuhkan perhatian penuh. Namun, kita tetap bisa mengambil jeda dengan menentukan batas tertentu, misalnya melihat ritme pekerjaan dan menentukan titik jeda sesuai kondisi tanpa mengorbankan makan atau kebutuhan dasar.
Closing
Pekerjaan yang menumpuk memang membuat istirahat terasa spesial. Namun, menunda semua jeda sampai pekerjaan selesai juga belum tentu menjadi cara terbaik untuk mengelola hari kerja.
Oleh karena itu, mengatur waktu untuk menentukan kapan harus bekerja dan istirahat dapat membantu kita mengelola kembali fatigue dan mengurangi burnout.