gop-crypto.vip

Cara Hindari Arisan Bodong, Apa Tanda-tandanya?

Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Arisan menjadi salah satu cara yang cukup umum digunakan masyarakat untuk mengumpulkan uang bersama.

Namun, skema yang mengatasnamakan arisan juga dapat dimanfaatkan untuk penipuan dengan menawarkan keuntungan atau hadiah yang tidak masuk akal.

Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan masyarakat perlu mencermati sejumlah tanda sebelum mengikuti arisan, terutama jika keuntungan yang ditawarkan jauh lebih besar dari uang yang disetorkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keuntungan yang akan didapat oleh peserta arisan tidak realistis, bisa dua atau tiga kali lipat dari uang yang disetorkan padahal waktu perputarannya relatif singkat," ujar Andi kepada CNNIndonesia.com, Senin (24/8).

Perencana keuangan Oneshildt Budi Rahardjo mengatakan modus arisan bodong juga dapat menjadi kedok skema ponzi atau investasi bodong.

Menurutnya, salah satu cirinya adalah pengelola yang agresif mencari anggota baru, berbeda dari arisan yang umumnya berlangsung di antara orang-orang yang sudah saling mengenal.

"Mengenalinya cukup mudah, biasanya arisan ini sistemnya mencari anggota di mana saja secara agresif. Padahal biasanya arisan hanya untuk orang-orang terdekat yang saling mengenal," ujar Budi.

Lantas, apa saja tanda-tanda arisan yang patut dicurigai dan bagaimana cara menghindarinya?

1. Menawarkan Keuntungan Tidak Realistis

Andi mengatakan janji keuntungan dua atau tiga kali lipat dalam waktu singkat merupakan salah satu tanda bahaya.

Masyarakat perlu mempertanyakan sumber keuntungan dan apakah skema yang ditawarkan masuk akal.

2. Pengelola Agresif Mencari Anggota

Menurut Budi, calon peserta perlu berhati-hati jika pengelola secara agresif menawarkan arisan kepada banyak orang, terutama apabila pengelolanya tidak dikenal.

3. Mekanisme Tidak Transparan

Arisan patut dicermati jika admin tidak mampu menjelaskan mekanisme dengan jelas, termasuk cara menentukan penerima atau pemenang. Andi juga menyebut admin yang berusaha menutupi identitas anggota lain sebagai salah satu tanda bahaya.

4. Anggota Tidak Saling Mengenal

Andi menyarankan masyarakat sebisa mungkin mengikuti arisan yang pesertanya sudah dikenal.

Jika anggota tidak saling mengenal, calon peserta dapat berkomunikasi dan berkenalan terlebih dahulu dengan peserta lainnya.

5. Admin Sulit Dihubungi

Admin yang sulit diajak berkomunikasi atau tidak mampu memberikan penjelasan mengenai skema arisan juga patut diwaspadai. Begitu pula grup WhatsApp yang dikunci sehingga hanya admin yang dapat mengirim pesan.

6. Pencairan Mulai Ditunda

Tanda yang lebih serius muncul ketika pencairan mulai terlambat. Andi mengatakan admin yang memundurkan atau menunda jadwal pencairan, bahkan menghilang saat jatuh tempo, merupakan salah satu indikator arisan bermasalah.

Budi juga mengatakan pembayaran yang mulai terhambat menunjukkan sistem arisan sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya.

"Ketika pembayaran sudah mulai terhambat, maka itu sudah menunjukkan bahwa sistem arisan sudah gagal," ujar Budi.

Cara Menghindari Arisan Bodong

Andi menyarankan masyarakat tidak mudah tergiur dengan iming-iming hasil besar dalam waktu cepat. Calon peserta juga perlu memperhatikan apakah admin dapat menjelaskan skema arisan secara jelas dan masuk akal.

Selain itu, masyarakat sebaiknya memilih arisan yang pesertanya sudah dikenal dan berusaha berkomunikasi dengan anggota lainnya sebelum bergabung.

Menurut Andi, arisan bodong masih dapat memakan korban karena sebagian masyarakat ingin mendapatkan hasil besar secara instan. Faktor lainnya adalah literasi keuangan yang masih relatif rendah, khususnya dalam pengelolaan uang dan investasi.

Senada, Budi juga mengingatkan masyarakat tidak langsung percaya hanya karena tawaran datang dari orang terdekat.

"Jangan mudah tergiur iming-iming hadiah yang menggiurkan, perhatikan seberapa agresif orang yang menawarkan arisan, apalagi jika pengelolanya adalah orang yang tidak dikenal. Meskipun yang mengajak adalah orang terdekat entah teman, saudara, kerabat atau lainnya," ujar Budi.

Budi menambahkan korban juga dapat berasal dari orang yang memang bersifat spekulatif maupun masyarakat yang belum mampu mengenali skema mencurigakan.

"Korban-korban baru juga akan selalu ada di masa yang akan datang. Inovasi sistem arisannya pun bisa bertransformasi mengikuti perkembangan zaman," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)