gop-crypto.vip

BYD akan perbaiki “cacat” pada Shark 6 usai mobil berhasil diretas

Australia (ANTARA) - BYD mengakui adanya “cacat” pada perangkat lunak pada pikap double cabin-nya, Shark 6, yang memungkinkan seorang peneliti dalam program Four Corners milik ABC melacak kendaraan dari jarak jauh dan mengakses mikrofon pada salah satu pikap tersebut saat digunakan di jalan umum.

Laman Drive, Kamis (1/9) waktu setempat melaporkan, temuan tersebut akan ditindaklanjuti dengan pembaruan perangkat lunak untuk Shark 6 setelah proses “validasi yang ketat” selesai. BYD juga sedang menentukan apakah pembaruan serupa diperlukan untuk kendaraan BYD lainnya.

Namun, BYD mengatakan rekaman yang menunjukkan peretas menonaktifkan lampu depan dan mengaktifkan wiper membutuhkan “akses langsung ke kabel kendaraan”. Tindakan tersebut tidak dapat dilakukan dari jarak jauh tanpa akses fisik sebelumnya ke kendaraan.

Salah satu episode program televisi ABC, Four Corners, yang tayang awal bulan ini membahas kendaraan China yang terhubung ke internet. Dalam program tersebut, sebuah BYD Shark 6 digunakan oleh Dan Hreszczuk, salah satu pendiri perusahaan keamanan siber Fortify Labs, selama dua minggu.

Baca juga: Pikap mewah BYD Shark diperkenalkan di Meksiko

Baca juga: Debut di Asia, BYD luncurkan pikap listrik Shark di Kamboja

Hreszczuk awalnya diperlihatkan berhasil mengakses sistem infotainment Shark 6 yang menurutnya tidak dilindungi kata sandi untuk mendengarkan percakapan telepon dan mencari informasi pribadi yang bersifat sensitif.

Peneliti tersebut kemudian diperlihatkan menonaktifkan lampu depan, mengaktifkan wiper kaca depan, dan mengunci pintu dalam demonstrasi di jalan ketika kendaraan sedang dikemudikan.

Meski pedal akselerator, rem, dan kemudi tidak dapat diakses, BYD melakukan penyelidikan terhadap “klaim” yang disampaikan program tersebut dengan melibatkan tim teknis di Australia dan China.

Dalam pernyataan, BYD mengonfirmasi bahwa akses ke sistem infotainment dilakukan melalui Android Debug Bridge (ADB), yaitu alat yang terdapat dalam perangkat lunak Android yang digunakan oleh sistem multimedia Shark 6.

ADB biasanya digunakan untuk memasang aplikasi selama proses pengembangan atau melakukan debugging untuk mengatasi masalah. Fitur tersebut secara default dinonaktifkan ketika kendaraan meninggalkan pabrik.

BYD mengatakan ADB “hanya dapat diakses oleh pihak yang berwenang menggunakan alat khusus”. Menurut BYD, Hreszczuk “memanfaatkan celah perangkat lunak untuk mengaktifkan ADB dan kemudian memasang aplikasi pihak ketiga yang tidak tepercaya”.

“Insinyur BYD dalam penyelidikannya berhasil mereproduksi celah perangkat lunak yang digunakan untuk mengaktifkan ADB serta proses pemasangan aplikasi pihak ketiga yang tidak tepercaya tersebut,” kata BYD.

“Ketika aplikasi meminta akses terhadap informasi atau fungsi tertentu, seperti lokasi kendaraan atau mikrofon, sistem infotainment menampilkan permintaan izin. Izin yang diminta hanya dapat diberikan setelah pengguna menyetujui permintaan tersebut secara manual melalui antarmuka infotainment," BYD menambahkan.

Baca juga: BYD memperkenalkan truk pikap Shark 6 PHEV di Thailand

Perusahaan asal Tiongkok tersebut telah mengonfirmasi adanya “perbaikan perangkat lunak” untuk “mengatasi masalah perangkat lunak terkait ADB yang ditemukan dan menghilangkan jalur yang tidak semestinya yang memungkinkan ADB diaktifkan melalui antarmuka pengguna sistem infotainment”.

“Perangkat lunak yang diperbarui akan diterapkan sebagai bagian dari pembaruan perangkat lunak sistem infotainment Shark 6 melalui Over the Air (OTA) pada masa mendatang, dan hanya setelah perangkat lunak yang diperbarui tersebut menjalani validasi yang ketat. BYD juga sedang menyelidiki apakah pembaruan perangkat lunak tersebut diperlukan untuk kendaraan BYD lainnya yang dijual di Australia," ujar perusahaan.

Selain celah pada sistem infotainment, BYD menemukan bahwa akses terhadap lampu depan dan wiper “memerlukan akses fisik langsung ke CAN bus internal kendaraan dengan menyambungkannya ke kabel kendaraan”.

BYD memastikan tindakan tersebut hanya dapat dilakukan dengan akses fisik ke kendaraan, seperti pada Shark 6 yang ditampilkan dalam program ABC dan digunakan oleh peneliti keamanan siber tersebut selama dua minggu.

Artinya, peretasan yang ditampilkan dalam program tersebut “terbatas pada kendaraan yang secara fisik telah diakses”. Kendaraan BYD Shark 6 lainnya yang berada di jalan tidak dapat dikendalikan dari jarak jauh menggunakan alat yang sama tanpa adanya kontak fisik.

BYD mengatakan jika kendaraan tidak dapat diakses secara fisik melalui penyambungan kabel, satu-satunya cara untuk mengakses “jaringan kendaraan yang relevan” adalah melalui antarmuka On-Board Diagnostics (OBD).

Perusahaan telah menerapkan sejumlah langkah keamanan, seperti “autentikasi perangkat dan isolasi fisik”, yang didukung oleh “pengamanan” sesuai dengan peraturan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melindungi antarmuka OBD.

BYD juga telah memulai “penilaian risiko” lebih lanjut untuk mengkaji “kebutuhan dan kelayakan teknis dari langkah-langkah tambahan”.

Baca juga: BYD Australia tarik ribuan Shark 6 akibat masalah sistem ban cadangan

Baca juga: Pengiriman BYD Shark 6 Performance terkendala pasokan suku cadang

Baca juga: Spesifikasi BYD Shark 6 2.0 liter tahun 2026 terungkap di Australia

Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

  • Tags
  • byd shark 6
  • keamanan mobil china
  • byd