gop-crypto.vip

Bupati Kotim dukung pengenalan budaya sejak dini lewat buku

Bupati Kotim dukung pengenalan budaya sejak dini lewat buku

Jumat, 21 Agustus 2026 15:25 WIB

Image Print

Bupati Kotim Halikinnor pimpin peluncuran buku berjudul Aku Cinta Budaya Dayak, Kamis (20/8/2026). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor mengapresiasi peluncuran buku Aku Cinta Budaya Dayak sebagai langkah mengenalkan adat, bahasa dan kearifan lokal kepada anak usia dini sekaligus memperkuat kecintaan generasi muda terhadap identitas budaya daerah.

“Anak-anak kita saat ini banyak yang tidak mengenal budaya Dayak. Bahkan dengan perkembangan zaman dan digitalisasi, bahasa daerah sebagai bahasa ibu juga semakin banyak yang tidak diketahui,” kata Halikinnor di Sampit, Kamis.

Halikinnor menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengenalan budaya daerah dilakukan sejak usia dini melalui media yang menarik dan mudah dipahami anak.

Buku Aku Cinta Budaya Dayak dinilai dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan budaya Dayak secara sederhana kepada generasi penerus.

Ia bahkan mencontohkan kondisi di lingkungan keluarganya sendiri, ketika anak yang lahir dari orang tua bersuku Dayak justru tidak dapat berbahasa Dayak karena tumbuh dalam lingkungan yang lebih banyak menggunakan bahasa Banjar.

“Dengan adanya buku ini minimal generasi muda kita tahu bagaimana baju orang Dayak perempuan atau laki-laki, memakai sumping dan lawan, begitu juga adat istiadatnya. Apa itu Singer, apa itu Jipen,” ujarnya.

Ia juga menyebut buku tersebut memiliki nilai lebih karena tidak hanya mengenalkan budaya lokal, tetapi juga disusun dalam tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa Dayak dan bahasa Inggris.

Buku itu juga dilengkapi QR Code yang dapat mengakses video, gerak, dan suara sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif. Materinya dibuat dekat dengan kehidupan sehari-hari anak agar pengenalan budaya tidak berlangsung secara kaku, melainkan melalui proses belajar yang menyenangkan.

Dengan penyajian tersebut diharapkan membantu anak mengenal bahasa daerah sekaligus mendapatkan pengenalan bahasa asing sejak dini.

Ia juga berharap buku tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan dan sumber pembelajaran bagi anak usia dini maupun para pendidik di Kotim.

“Pengenalan budaya sejak dini juga dapat membentuk karakter anak melalui nilai gotong royong, toleransi, saling menghargai dan menghormati keberagaman,” pungkasnya.

Baca juga: Kotim siapkan shalat Istisqa berharap turun hujan padamkan karhutla

Buku Aku Cinta Budaya Dayak tersebut merupakan hasil karya kolaborasi dari Bunda PAUD Kotim Khairiah Halikinnor dan Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kotim Ros Ermawati.

Khairiah mengatakan gagasan penyusunan buku tersebut berawal dari hasil kunjungan ke sejumlah taman kanak-kanak (TK) yang menunjukkan masih minimnya pengetahuan anak tentang budaya Dayak.

“Awalnya kami beberapa kali meninjau sekolah, khususnya TK-TK, dan melihat mereka belum begitu mengenal budaya Dayak. Dari situ kami berinisiatif menciptakan buku ‘Aku Cinta Budaya Dayak’,” beber Khairiah.

Ia menerangkan, materi dalam buku tersebut mencakup berbagai aspek budaya yang dianggap penting untuk dikenalkan kepada anak, mulai dari salam khas Dayak, pakaian daerah, makanan khas hingga berbagai unsur adat dan budaya lainnya.

Khairiah menyebut buku itu nantinya menjadi salah satu referensi pembelajaran bagi anak-anak TK di seluruh Kabupaten Kotim.

Buku tersebut juga akan dibagikan agar pengenalan budaya Dayak dapat dilakukan secara lebih luas dan tidak hanya terpusat pada kegiatan tertentu.

“Harapan saya, generasi ke depan sudah mengenal adat budaya Dayak. Kalau ditanya apa budaya Dayak, mereka bisa menjelaskan mulai dari makanan, pakaian dan berbagai hal lainnya,” ucapnya.

Disisi lain, Ros Ermawati menambahkan penyusunan buku tersebut merupakan upaya memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperkuat pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, digitalisasi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman terhadap budaya, tetapi dapat dijadikan sarana untuk membuat budaya lokal tetap hidup, terdokumentasi, dan lebih mudah dikenal masyarakat, terutama generasi muda.

“Budaya kita nanti akan tersimpan dengan sangat baik, lebih hidup, dan bisa tersebar sehingga orang-orang mengenal. Utamanya adalah anak-anak mencintai budaya kita, budaya Dayak,” katanya.

Baca juga: Gebyar PAUD Kotim tanamkan nasionalisme dan karakter anak sejak dini

Ros mengungkapkan, proses penyusunan hingga pencetakan buku membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan.

Tahapan tersebut dimulai dengan menentukan ide pokok dan materi yang diperlukan untuk pengenalan budaya, kemudian dikembangkan dengan menyesuaikan karakter serta kebutuhan anak usia dini.

Ia mengapresiasi dukungan Bunda PAUD dan Dinas Pendidikan Kotim yang turut memfasilitasi proses penyusunan buku tersebut sehingga dapat direalisasikan dan digunakan dalam pembelajaran.

Kehadiran buku Aku Cinta Budaya Dayak ini juga mendapat dukungan penuh dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur

Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Disdik Kotim, Legendaria Okta Bellary Nusaku menyebut peluncuran buku tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian Gebyar PAUD memperingati Hari Ulang Tahun ke 81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia menilai momentum kemerdekaan bukan hanya menjadi milik orang dewasa, tetapi juga perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini melalui pembentukan rasa nasionalisme, jiwa merdeka, dan kepercayaan diri.

“Nasionalisme yang kuat tidak akan lengkap tanpa akar budaya yang kokoh. Karena itu, Dinas Pendidikan sangat bangga dan mengapresiasi diluncurkannya buku Aku Cinta Budaya Dayak,” ujarnya.

Menurut Legendaria, buku tersebut merupakan langkah nyata dalam mengenalkan kearifan lokal, adat istiadat, serta nilai luhur budaya Dayak kepada anak-anak.

Pendidikan anak usia dini diharapkan tidak hanya membuat anak mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tetap santun, menghargai sesama, mencintai alam, dan bangga terhadap identitas budayanya.

Ia mengajak para pendidik dan orang tua menjadikan buku tersebut sebagai media pembelajaran yang menyenangkan. Dengan begitu, pengenalan budaya dapat berlangsung dalam keseharian anak dan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter sejak usia dini.

“Ajarkan anak-anak kita untuk mencintai sesama, menghargai alam, dan bangga menjadi anak Dayak, bangga menjadi anak Indonesia,” demikian Legendaria.

Baca juga: Seluruh OPD Pemkab Kotim dikerahkan pasok air percepat pemadaman karhutla

Baca juga: Prioritaskan kesehatan siswa, DPRD Kotim desak hentikan pembelajaran tatap muka

Baca juga: BTT Kotim ditambah Rp2 miliar optimalkan penanganan karhutla

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.