gop-crypto.vip

BUMDes Binaan MHU Catat Omzet Rp115 Miliar, Desa Kini Berstatus Maju |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Payang Sejahtera di Desa Sungai Payang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, membukukan omzet kumulatif Rp115,11 miliar sepanjang 2019–2025. Perkembangan usaha desa tersebut turut menghasilkan kontribusi terhadap pendapatan asli desa (PADes) sebesar Rp1,68 miliar dan membuka peluang kerja bagi 195 warga.

Pertumbuhan tersebut didukung program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Multi Harapan Utama (MHU), anak usaha MMS Group Indonesia (MMSGI), sejak 2017. Melalui pendampingan usaha dan penguatan kelembagaan, BUMDes Payang Sejahtera kini mengelola 14 unit usaha di berbagai sektor.

Unit usaha tersebut mencakup jasa boga, transportasi, pengelolaan perkebunan, penyediaan air bersih, perikanan, konstruksi, hingga layanan pendukung operasional perusahaan. BUMDes juga menjalin kemitraan dengan tujuh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Perkembangan bisnis terlihat dari kenaikan omzet tahunan, yakni Rp4,67 miliar pada 2019 menjadi Rp27,67 miliar pada 2023. Selain kontribusi terhadap PADes, BUMDes mencatatkan kontribusi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) desa sebesar Rp589 juta.

Keterlibatan masyarakat juga meningkat seiring bertambahnya kegiatan usaha. Sebanyak 195 warga, terdiri atas 103 laki-laki dan 92 perempuan, terlibat dalam berbagai unit bisnis, sementara penyertaan modal masyarakat mencapai Rp650 juta.

Presiden Direktur MHU Kemal Djamil Siregar mengatakan, pengembangan ekonomi desa perlu berfokus pada kemampuan masyarakat mengelola usaha secara mandiri. Menurut dia, penguatan BUMDes juga diperlukan untuk mempersiapkan perekonomian masyarakat menghadapi masa setelah kegiatan pertambangan berakhir.

“Keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak diukur dari seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk terus berkembang secara mandiri. Melalui BUMDes Payang Sejahtera, kami ingin mendorong masyarakat menjadi pelaku utama pertumbuhan ekonomi di desanya sendiri. Ini juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan ekonomi masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan, termasuk menghadapi masa pascatambang,” ujar Kemal dalam siaran pers, Sabtu (10/10/2026) 

Dalam pelaksanaannya, MHU menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA) untuk mengidentifikasi potensi ekonomi dan kebutuhan masyarakat. Program pendampingan mencakup pelatihan pengelolaan usaha, sertifikasi, bimbingan teknis, pemasaran digital, serta peningkatan kemampuan pengelola BUMDes.

Pada 2026, kegiatan tersebut juga mencakup pelatihan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP). Pengelola BUMDes turut memperoleh pelatihan keamanan pangan, sertifikasi HACCP, dan kesempatan mempelajari praktik pengelolaan usaha dari BUMDes lain melalui program BUMDes Naik Kelas.

Berdasarkan kajian Universitas Kutai Kartanegara, program pemberdayaan tersebut mencatatkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,27. Artinya, setiap Rp1 investasi program menghasilkan nilai manfaat sosial yang diperkirakan sebesar Rp4,27 berdasarkan metodologi kajian tersebut.

Pengembangan ekonomi desa juga disertai peningkatan akses air bersih bagi masyarakat. Fasilitas pengolahan air WTP Kuntap melayani 60 kepala keluarga, sedangkan WTP E-West menjangkau 582 kepala keluarga.

Status Desa Sungai Payang tercatat meningkat dari kategori sangat tertinggal pada 2017 menjadi desa maju sejak 2020 hingga 2025. MHU berencana melanjutkan pendampingan BUMDes agar kegiatan ekonomi masyarakat dapat bertahan setelah masa operasional pertambangan.

Atas program pemberdayaan tersebut, MHU memperoleh penghargaan Best Stewardship in Growing an Economy from Within kategori Economy & Livelihoods pada Mata Lokal Award 2026. Penghargaan diserahkan dalam rangkaian Mata Lokal Fest 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026).