gop-crypto.vip

BRIN Ulik Manfaat Rumput Laut Cokelat Jadi Sabun Ramah Lingkungan - Ekonomi Sirkular Katadata.co.id

Rumput laut cokelat atau sargassum sp. yang melimpah di pesisir berpotensi menjadi ‘amunisi’ tersembunyi untuk membantu menjaga kualitas pangan, kesehatan lautan, hingga sumber ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Sargassum biasanya dimanfaatkan sebagai raw material atau bahan baku untuk diekspor. Padahal, sargassum dapat menghasilkan produk turunan bernilai tinggi, sekaligus ramah lingkungan. Air perasannya saja, bisa diolah dan dimanfaatkan.

Peneliti Pusat Riset Elektronika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Athanasia Amanda Septevani mengatakan, sargassum merupakan bahan baku alginat – bahan pengental, pengemulsi, atau stabilizer yang banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, kosmetik, hingga biomaterial.

Namun, belum ada industri di Indonesia yang mengembangkannya. Oleh karena itu, sargassum lebih banyak diekspor atau diolah menjadi produk lain seperti pupuk.

Melalui riset kolaborasi BRIN dan The University of Queensland dengan dukungan KONEKSI, tim peneliti membuka potensi-potensi pengolahan sargassum, yang bisa diterapkan oleh masyarakat secara mandiri hingga dikembangkan di skala industri.

“Air perasannya itu menjadi ekoenzim, ampasnya menjadi material seperti alginat,” kata Amanda kepada Katadata, pada Rabu (30/9).

Ekoenzim atau cairan hasil fermentasi air perasan sargassum ditambah molase dan larutan konsorsium mikroba EM4, dapat dibuat secara mandiri oleh masyarakat dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.

“Untuk membersihkan permukaan meja, mencuci sayuran, buah, dan sebagainya. Karena ini organik basisnya, jadi lebih aman daripada sabun,” ujar dia. 

Berdasarkan hasil pengujian antibakteri, ekoenzim tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen, seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. 

Resep dan cara pembuatan formula ini pun sudah dibagikan kepada masyarakat pesisir di Desa Duwet, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Amanda menegaskan, bahan-bahan yang dibutuhkan sangat mudah didapatkan masyarakat.

“Jadi ada beberapa formulasi yang sudah kami ajarkan di pesisir Gunungkidul, bagaimana membuat sabun antibakteri dari konsentrat ekoenzim tadi,” ucapnya.

Dengan demikian, air perasan yang timbul dari pengolahan rumput laut cokelat, tak lagi dibuang, melainkan berakhir jadi produk turunan yang ramah lingkungan. 

Amanda mengatakan, masyarakat juga memiliki rencana untuk mengomersialisasikan produk turunan ini.

“Di tempat mereka ada Koperasi Merah Putih kalau tidak salah ya, nah mereka juga rencananya mau menjual ke sana. Tapi, seperti apa proses komersialisasinya memang belum ada diskusi ke arah itu,” ujar dia. 

Peluang Dikembangkan Jadi Biomaterial Berkelanjutan

Selain dimanfaatkan dengan mudah oleh masyarakat, sargassum juga bisa dieksplorasi menjadi biomaterial berkelanjutan untuk berbagai kebutuhan, di antaranya untuk kemasan pangan hingga substrat elektronika hijau.

Misalnya, pemanfaatan ekoenzim sebagai zat tambahan dalam produksi kemasan pangan. “Ekoenzim memiliki sifat antibakteri, sehingga bisa menjaga keamanan pangan dimana kemasan itu digunakan,” ucap Amanda.

Alginat dan selulosa dari sargassum juga bisa dimanfaatkan dalam pengembangan sistem deteksi atau sensor berbasis perubahan warna (kolorimetri), untuk mengukur kualitas suatu pangan. Amanda menjelaskan, penurunan kualitas pangan biasanya disebabkan oleh adanya aktivitas bakteri dan menghasilkan gas-gas yang sifatnya basa.

“Perubahan dari pH netral menuju basa, itu akan memberikan indikator pada sensor kolorimetri tadi, untuk berubah warna seiring perubahan pH,” ucap dia.

“Nah, kami menggunakan substratnya itu dari alginat dan campuran dari selulosa, dan kami tambahkan suatu indikator yang memang sensitif terhadap perubahan pH,” ujarnya menambahkan. 

Dia melanjutkan, manfaat selulosa pada rumput laut cokelat juga masih bisa dieksplorasi, antara lain dalam produksi insulasi dan berbagai material di bidang kesehatan.

Dalam konteks menjaga kualitas perairan, alginat dari sargassum dapat dimanfaatkan sebagai polimer ramah lingkungan dalam pengembangan sistem deteksi elektrokimia. Sistem tersebut mampu mengidentifikasi kandungan logam berat di perairan, termasuk di perairan Indonesia yang rentan terkontaminasi logam berat.

"Alginat sebagai salah satu layering atau bahan yang kami implementasikan dalam sensor elektrokimia," kata Amanda. 

Amanda berharap, riset ini bisa memberi gambaran dan alternatif teknologi untuk dimanfaatkan masyarakat hingga level industri. “Sehingga bisa menghasilkan produk multifungsi yang menambah nilai dari sumber daya pesisir Indonesia,” ucap dia.