gop-crypto.vip

BMKG Catat Ada Ratusan Titik Api, Papua Siaga Hadapi Karhutla

Jayapura -

BMKG Wilayah V Jayapura mengungkap data ratusan titik api yang tersebar di berbagai wilayah Tanah Papua. Semua pihak pun diminta siaga menghadapi karhutla.

Titik api atau hotspot terbanyak berada di Provinsi Papua Selatan yaitu 307 titik. Titik api itu tersebar di Kabupaten Merauke sebanyak 143 titik, Mappi 155 titik, Asmat delapan titik dan Kabupaten Boven Digoel lima titik api.

Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Winona Puspa Betari, mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan hotspot terpantau ada sebanyak 960 titik hotspot di seluruh Tanah Papua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebaran titik api paling banyak terpantau di Kabupaten Mappi sebanyak 155 titik, diikuti Kabupaten Merauke tercatat 143 titik dan Kabupaten Fak Fak sebanyak 108 titik," kata Winona.

Sebaran titik api didominasi tingkat sedang sebanyak 844 titik (87.9%), diikuti tingkat rendah sebanyak 58 titik (6%), dan tinggi sebanyak 58 titik (6%).

Titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi terpantau berada di wilayah Kabupaten Merauke, sehingga wilayah tersebut perlu mendapat perhatian khusus, karena berpotensi mengalami karhutla.

Gubernur Papua, Mathius D. Fakhiri pun meminta seluruh kepala daerah memperkuat koordinasi dan kolaborasi bersama jajaran Forkopimda agar ancaman kebakaran hutan dan lahan serta dampak El Nino di sejumlah wilayah Papua dapat ditekan sejak dini.

Papua diketahui memiliki potensi kebakaran hutan yang cukup besar, terutama menghadapi kondisi cuaca panas dan kering hingga bulan November mendatang. Karena itu, pemerintah tidak boleh menunggu kebakaran terjadi baru mengambil tindakan.

"Saya minta kepala daerah agar koordinasi dan kolaborasi jangan terputus. Papua punya potensi kebakaran yang luar biasa. Koordinasi awal harus tetap dilakukan secara intens, semua kepala daerah berkoordinasi dengan Forkopimda," tegas Fakhiri.

Papua saat ini tengah mendorong pembukaan lahan untuk kegiatan pertanian. Namun kondisi tersebut harus diikuti dengan cara pembukaan lahan yang aman, agar aktivitas pertanian tidak justru menjadi pemicu kebakaran lahan.

"Kita sementara membuka lahan untuk kegiatan pertanian. Jangan sampai kegiatan itu menjadi penyebab kebakaran yang terjadi di Papua," ujarnya.

Ia meminta masyarakat, pemerintah daerah hingga pelaku usaha tidak lagi menggunakan cara membakar dalam membuka lahan. Menurutnya, masih banyak metode lain yang dapat digunakan tanpa menimbulkan risiko kebakaran.

"Dalam pembukaan lahan jangan dengan cara membakar. Kalau bisa dikubur, jangan sampai terjadi kebakaran hutan di Provinsi Papua," katanya.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat, mulai dari rumah tangga hingga pelaku usaha, ikut bertanggung jawab mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Langkah pencegahan menjadi prioritas agar Papua tidak mengalami bencana kebakaran hutan seperti yang terjadi di sejumlah wilayah lain di Indonesia. Pencegahan jauh lebih penting daripada menunggu kebakaran terjadi dan baru mengerahkan seluruh kekuatan untuk memadamkannya.

"Tidak boleh lagi ada pembakaran lahan. Jangan membuka lahan dengan api, jangan menunggu kebakaran membesar, dan jangan bekerja sendiri menghadapi ancaman bencana," pungkasnya.

(wsw/wsw)