BKSDA dan YIARI Kalbar evakuasi 3 orangutan terdampak Karhutla
Pontianak (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengevakuasi tiga orangutan dalam dua operasi penyelamatan di Desa Penjalaan dan Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Ketapang.
"Ketiga orangutan tersebut terdiri atas induk dan anak yang ditemukan di kebun sawit warga Desa Penjalaan serta seekor jantan dewasa di Desa Padu Banjar. Induk dan anak itu kemudian diberi nama Mama Penja dan Penja pada Sabtu (12/9) kemarin," kata Direktur Utama YIARI Dr. Karmele Llano Sanchez melalui siaran pers-nya, Senin.
Karmela mengatakan Kebakaran hutan dan lahan memaksa tiga orangutan keluar dari habitatnya di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, hingga masuk ke kebun warga dalam kondisi memprihatinkan.
Mama Penja dan anaknya ditemukan dalam kondisi sangat kurus, lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya meski terdapat aktivitas manusia di sekitar lokasi.
"Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orangutan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas," tuturnya.
Setelah berhasil dibius menggunakan *blow dart*, tim medis memberikan cairan infus dan oksigen sebelum membawa keduanya ke Pusat Rehabilitasi YIARI, untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan menunjukkan Mama Penja mengalami dehidrasi berat, anemia, luka bakar pada kedua kaki hingga kulit terkelupas, serta kerusakan gigi. Tim menduga luka bakar terjadi akibat berjalan di atas tanah gambut yang terbakar, sedangkan kerusakan gigi berkaitan dengan keterbatasan sumber pakan.
Kondisi tersebut menunjukkan dampak kebakaran tidak hanya menghilangkan habitat, tetapi juga membuat satwa kesulitan memperoleh makanan. Karmele bahkan menggambarkan Mama Penja hanya mencari makanan ketika mulai sadar setelah pembiusan.
Di Desa Padu Banjar, tim menyelamatkan orangutan jantan yang kemudian diidentifikasi sebagai Kumbang. Pemeriksaan *microchip* menunjukkan Kumbang sebelumnya pernah dievakuasi dari kawasan yang sama dan dilepasliarkan kembali pada 2022.
Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting mengatakan kebakaran yang meluas diduga mendorong Kumbang meninggalkan habitatnya dan masuk ke kawasan permukiman serta kebun masyarakat. Tim juga menemukan indikasi gangguan pernapasan, luka pada tubuh, bekas jerat, serta benda asing yang diduga peluru pada bagian tangan kanannya.
"Kondisi habitat sebelumnya cukup aman bagi orangutan tersebut, namun karena kebakaran yang meluas, mendorong orangutan ini masuk di wilayah kampung dan di kebun masyarakat," katanya.
Kondisi habitat kedua lokasi juga menjadi perhatian karena Hutan Desa Penjalaan dan Hutan Desa Padu Banjar merupakan habitat orangutan sekaligus kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung yang menjadi salah satu kantong populasi penting orangutan di Kalimantan Barat.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan ketiga orangutan tersebut kini menjalani perawatan di pusat penyelamatan YIARI di Ketapang. Hingga saat ini, BKSDA Kalimantan Barat telah menyelamatkan 18 individu orangutan yang terdampak karhutla.
"Secara keseluruhan, hingga saat ini sudah ada 18 individu orangutan yang kami selamatkan akibat karhutla," katanya.
Murlan meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan satwa terdampak kebakaran agar penyelamatan dapat dilakukan lebih cepat. Laporan dapat disampaikan melalui *call center* BKSDA Kalimantan Barat di 0811-5670-041 atau 0811-5776-767.
Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul mengatakan respons cepat diperlukan karena kebakaran membuat akses orangutan terhadap kawasan hutan semakin terbatas dan mendorong satwa memasuki lanskap yang berisiko bagi keselamatan maupun kesehatannya.