gop-crypto.vip

BI Ungkap Kunci Bawa Ekonomi Syariah Indonesia Naik Kelas |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M Juhro mengatakan ekonomi syariah harus dibangun sebagai konsep yang holistik, melibatkan partisipasi lebih luas, serta memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan. Solikin mengatakan penguatan ekosistem ekonomi syariah penting dalamm membangun kemandirian ekonomi.

"Jadi kita memang bisa berdiri secara kokoh untuk mendukung kesejahteraan masyarakat Indonesia," ujar Solikin dalam seminar nasional bertajuk "Membangun Masa Depan Ekonomi Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan" di Jakarta, Senin (5/10/2026).

Solikin mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki modal dasar yang kuat untuk mengembangkan ekonomi syariah. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report (SGIE), Indonesia masuk dalam kelompok lima besar dengan sejumlah sektor juga memiliki daya saing kuat seperti pariwisata hingga halal food.

"Di dalam negeri, halal value chain mencatat pertumbuhan yang tinggi, mencapai 6,2 persen dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 27 persen," lanjut Solikin.

Namun, Solikin mengingatkan besarnya potensi tersebut belum otomatis menjadikannya kekuatan ekonomi yang besar. Solikin menyebut tantangan utama adalah mengarahkan dan mengonversi potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang mampu membaw2a Indonesia naik kelas.

"Namun pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah potensi yang besar itu sudah benar-benar kita ubah menjadi kekuatan ekonomi yang besar juga?" tanya Solikin.

Solikin menilai populasi Muslim yang sangat besar serta struktur demografi dengan penduduk usia muda merupakan potensi yang dapat menjadi modal bagi pertumbuhan ekonomi. Solikin menyebut perlunya integrasi dengan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat serta kemajuan teknologi.

"Produktivitas harus menjadi jangkar dari penguatan ekosistem," ucap Solikin.

Menurut Solikin, penguatan produktivitas juga tidak terlepas dari kemampuan mendorong inovasi. Namun, inovasi, terutama inovasi struktural, membutuhkan biaya besar dan memiliki risiko tinggi karena hasilnya belum tentu berhasil.

Dalam kondisi tersebut, Solikin menilai ekonomi dan keuangan Islam memiliki ruang untuk berperan. Prinsip-prinsip maqasid syariah dapat menjadi landasan untuk mendukung aktivitas inovasi yang pada akhirnya mendorong produktivitas ekonomi.

Selain produktivitas dan inovasi, Solikin menyoroti pentingnya membangun kesejahteraan yang bersifat inklusif. Ia mengatakan peningkatan kesejahteraan suatu kelompok tidak semestinya dilakukan dengan mengorbankan kelompok lainnya.

"Welfare (kesejahteraan) harus nonpareto karena kita bicara dalam prinsip Islam, nggak ada pihak yang tertinggal," kata Solikin.

Solikin mengatakan prinsip tersebut terwujud melalui peran ekonomi sosial Islam, termasuk zakat, wakaf, infak, dan sedekah. Bagi dia, instrumen tersebut dapat mengisi ruang dalam sistem ekonomi untuk memastikan kesejahteraan dapat tumbuh bersama tanpa meninggalkan kelompok tertentu.