BI Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Rupiah Lewat Triple Intervention
Bagikan:
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Langkah tersebut ditempuh sebagai bagian dari upaya menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir masih berada di bawah tekanan yaitu berdasarkan data Bloomberg, pada hari Rabu, 29 Juli, pada pukul 09.20 wib, kurs rupiah spot melemah 0,09 persen ke level Rp18.100 per dolar AS.
"Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar Rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," ujar Direktur Eksekutif Senior, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas, Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangannya, Rabu, 29 Juli.
Ia mengatakan BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tingginya ketidakpastian global.
Menurut Erwin, penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah tidak hanya dilakukan melalui kebijakan suku bunga acuan, tetapi juga dengan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter.
Ia menjelaskan di antaranya melalui strategi triple intervention di pasar valuta asing yang mencakup pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging.
"Terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing," jelasnya.
BACA JUGA:
Selain itu, Erwin menyampaikan BI juga memperkuat strategi pengelolaan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan.
Ia menambahkan bahwa penerbitan SRBI ke depan akan disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas agar tetap mendukung stabilitas nilai tukar dan meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing.
Di sisi lain, Erwin menyampaikan Bank Indonesia terus mengoptimalkan kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.
Ia menambahkan seperti penguatan implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dilakukan untuk mendorong penyaluran pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas, serta penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif.
"Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi," katanya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+