gop-crypto.vip

BGN Hentikan Sementara SPPG Tanjungsari Imbas Ratusan Siswa Alami Keracunan

Jakarta -

Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanjungsari 1, Tulungagung, Jawa Timur selama 20 hari menyusul dugaan gangguan pencernaan yang dialami 198 siswa dan guru SMKN 1 Boyolangu.

Koordinator Wilayah BGN Tulungagung Habibi di Tulungagung, Sabtu, mengatakan, penghentian sementara dilakukan sebagai langkah evaluasi dan pembinaan untuk memastikan seluruh prosedur operasional layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai standar.

"Saat ini operasional SPPG Tanjungsari 1 sudah dihentikan sementara. Tidak ada lagi aktivitas produksi maupun distribusi MBG selama masa pembinaan," katanya, dikutip Antara, Senin (28/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, keputusan tersebut diambil segera setelah muncul laporan gangguan pencernaan yang dialami penerima manfaat MBG di SMKN 1 Boyolangu.

Selama masa penghentian operasional, BGN akan melakukan pembinaan dan perbaikan standar operasional prosedur (SOP), termasuk evaluasi menyeluruh terhadap proses produksi, pengolahan, hingga distribusi makanan.

BGN juga telah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap dapur SPPG Tanjungsari 1 untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi kualitas layanan makanan.

Salah satu aspek yang dievaluasi adalah komposisi menu yang disajikan kepada siswa pada saat kejadian.

Saat itu, menu MBG yang didistribusikan terdiri atas ayam bakar, sambal, dan buah anggur. Menurut Habibi, kombinasi menu tersebut dapat memicu gangguan pencernaan pada sebagian penerima manfaat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sensitivitas terhadap jenis makanan tertentu.

"Menu seperti itu berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Karena itu kami evaluasi agar penyusunan menu lebih memperhatikan faktor keamanan dan kesesuaian konsumsi," katanya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Tulungagung sebelumnya mencatat jumlah siswa dan guru yang mengalami keluhan gangguan pencernaan mencapai 198 orang berdasarkan hasil surveilans epidemiologi.

Sampel makanan yang dikonsumsi para siswa juga telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya untuk dilakukan pengujian laboratorium guna memastikan penyebab kejadian tersebut.

Hasil uji laboratorium diperkirakan keluar dalam waktu sekitar dua pekan.

(suc/kna)