gop-crypto.vip

Bandung Tuan Rumah ACPID 2026: Perkuat Kolaborasi Asia Hadapi Ancaman Penyakit Infeksi Anak

Bagikan:

BANDUNG – Indonesia kembali menorehkan sejarah dalam dunia kesehatan internasional dengan menjadi tuan rumah 12th Asian Congress of Pediatric Infectious Diseases (ACPID) 2026.

Acara bergengsi ini diselenggarakan bersamaan dengan Annual Scientific Meeting on Pediatric Infectious Diseases (ASMPID) pada 14–16 Agustus 2026 di Trans Hotel & Convention Center, Bandung.

Mengusung tema "Fostering Asian Collaboration in Pediatric Infectious Diseases Control to Strengthen Resilience Against Future Global Threats," kongres dua tahunan ini dihadiri lebih dari 1.000 peserta—terdiri dari dokter spesialis anak, konsultan penyakit infeksi, peneliti, akademisi, hingga pembuat kebijakan—serta lebih dari 100 pembicara nasional dan internasional.

BACA JUGA:


Komitmen IDAI dan Komunitas Kesehatan Asia

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menegaskan bahwa kongres ini merupakan bukti nyata peran aktif Indonesia dalam mendorong ketahanan kesehatan anak di kawasan Asia.

"Kongres ini bukan sekadar pertemuan ilmiah, tetapi sebuah gerakan kolektif untuk membangun ketahanan bersama. Asia memiliki tantangan unik dalam penanganan penyakit infeksi anak. IDAI berkomitmen penuh memfasilitasi pertukaran pengetahuan demi menciptakan strategi yang lebih efektif dan adaptif," ujar Dr. Piprim.

Hal senada disampaikan Ketua Panitia ACPID 2026 sekaligus Ketua IDAI Cabang Jawa Barat, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT(K). Beliau menjelaskan bahwa forum ini merespons isu-isu kesehatan mendesak.

"Kongres ini menyoroti isu-isu seperti penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (VPD), penyakit tropis terabaikan (NTD), penyakit emerging dan re-emerging, serta ancaman resistansi antimikroba (AMR). Kami berharap peserta dapat membawa pulang wawasan dan keterampilan praktis," jelas Prof. Anggraini.

Dukungan juga datang dari Presiden Asian Society for Pediatric Infectious Diseases (ASPID), Dr. Mike Yat-Wah Kwan, yang menilai ACPID 2026 sebagai wadah strategis untuk melahirkan rekomendasi konkret bagi kebijakan kesehatan anak di Asia.

Sinergi Lintas Sektor dan Pendekatan One Health

Keberhasilan acara ini didukung sinergi erat antara IDAI dan Pemerintah Indonesia, baik pusat maupun daerah. Di tingkat regional, IDAI Jawa Barat aktif berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, khususnya dalam menggenjot cakupan imunisasi dasar lengkap.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Prof. DR. dr. Edi Hartoyo, Sp.A, Subsp IPT(K), menambahkan pentingnya integrasi pendekatan mutakhir dalam menghadapi ancaman global.

"Dengan mengintegrasikan pendekatan One Health dan manajemen nutrisi dalam penanganan penyakit infeksi, kita dapat menciptakan sistem kesehatan yang lebih tangguh dan holistik," terang Prof. Edi.

Rangkaian Program Ilmiah dan Sentuhan Budaya Nusantara

Selama tiga hari, ACPID 2026 menyajikan beragam agenda ilmiah bermutu tinggi:

  • Hari Pertama (Workshop Interaktif): Membahas tata laksana Demam Berdarah Dengue (DBD) berat, HIV pada anak, strategi infeksi pasien immunocompromised/kanker, dan Sifilis Kongenital.
  • Hari Kedua & Ketiga: Plenary lecture, simposium paralel, dan sesi poster ilmiah yang membahas tuberkulosis (TB), sepsis, infeksi virus baru, hingga pengembangan vaksin.
  • Pameran & Networking: Pameran inovasi dari institusi pendidikan, organisasi kesehatan, serta industri farmasi dan alat kesehatan.
  • Sentuhan Lokal: Acara puncak Cultural Night yang menampilkan seni dan kuliner khas Nusantara untuk mempererat jejaring antar-delegasi.

"Bandung adalah kota yang sempurna. Dengan suasana akademik yang hidup dan kekayaan budayanya, kami ingin memastikan pengalaman peserta tidak hanya profesional tetapi juga berkesan," tambah Prof. Anggraini Alam.

Peta Jalan Masa Depan Kesehatan Anak di Asia

Penyelenggaraan ACPID 2026 di Bandung diharapkan mampu melahirkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif, mulai dari penguatan sistem surveilans penyakit, percepatan imunisasi, hingga pembentukan jejaring penelitian kolaboratif lintas negara.

"Kami berharap hasil dari kongres ini dapat menjadi peta jalan bagi pengendalian penyakit infeksi anak di Asia, serta mendorong terciptanya generasi anak yang lebih sehat dan tangguh di masa depan," tutup Prof. Anggraini Alam.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+