gop-crypto.vip

Badai dari Amerika Belum Usai, Awas IHSG-Rupiah Terguncang!

  • Pasar keuangan RI ditutup beragam IHSG dan SBN melemah sementara Rupiah kembali menguat
  • Wall Street ambruk di tengah lonjakan imbal hasil US Treasury
  • Indeks Keyakinan Konsumen dan FOMC minutes menjadi penggerak utama pasar pada hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan terakhir kemarin, Rabu (7/10/2026). Bursa saham dan obligasi pemerintah melemah sementara  rupiah kembali menguat.

Sentimen pasar kemarin masih dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah serta rilis data perekonomian dalam maupun luar negeri yang masih sulit diprediksi arahnya.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (7/10/2026) di zona merah. IHSG parkir di level 6.146,72, turun 46,20 poin atau 0,75%.

Sebelumnya, IHSG dibuka menguat di level 6.210,42 dan sempat menyentuh titik tertinggi di 6.214,76 tidak lama setelah pembukaan. Namun, tekanan jual segera muncul dan indeks berbalik arah hingga turun ke kisaran 6.170-an sebelum pukul 10.00 WIB.

Indeks sempat rebound ke area 6.200 pada awal sesi, tetapi kembali tertekan dan bergerak turun ke kisaran 6.160-an menjelang pukul 11.00 WIB.

Memasuki sesi siang hingga penutupan, IHSG bergerak sideways di rentang sempit sekitar 6.140 hingga 6.160. Level terendah kemarin tercatat di 6.136,19.

Pelemahan iHSG sepanjang perdagangan kemarin disebabkan oleh 378 saham yang melemah, 157 saham tak bergerak, dan hanya 258 saham yang menguat.

Dari segi perdagangan foreign, terpantau di all market bursa mengalami net foreign outflow sebesar Rp 871,36 miliar sementara di pasar reguler tercatat juga mengalami net foreign outflow sebesar Rp 828,65 miliar.

Sehingga apabila dijumlah dalam kurun waktu year to date atau sejak awal tahun 2026, all market terpantau mengalami net foreign outflow sebesar Rp 83,60 triliun sementara di reguler juga terpantau net outflow sebesar Rp 110,28 triliun.

Mengutip data Refinitiv, pelemahan IHSG sepanjang kemarin berasal dari sektor energi yang anjlok 2,6%, disusul oleh sektor infrastruktur yang turun 1,8%, dan sektor material dasar yang - 0.8%.

Adapun saham-saham yang membebani IHSG antara lain, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN),PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Sementara saham-saham penopang koreksi IHSG antara lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi mencapai 48,4 miliar saham dengan nilai transaksi Rp36,19 triliun dengan frekuensi sekitar 1,53 juta kali.

Lanjut ke mata uang Rupiah, Nilai tukar rupiah berakhir menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Penguatan ini memperpanjang tren positif rupiah setelah sehari sebelumnya juga terapresiasi.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.875/US$, menguat 0,08% dibandingkan penutupan Selasa (6/10/2026) di Rp17.890/US$.

Rupiah sebelumnya membuka perdagangan lebih kuat di level Rp17.820/US$. Namun, mata uang Garuda kemudian kehilangan sebagian penguatannya hingga berakhir di Rp17.875/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada sekitar pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,35% ke posisi 102,186.

Pergerakan rupiah kemarin turut dibayangi sejumlah sentimen domestik dan global.

Dari domestik, Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 sebesar US$146,3 miliar, turun tipis US$200 juta dibandingkan posisi akhir Agustus sebesar US$146,5 miliar.

Perkembangan cadangan devisa tersebut dipengaruhi terutama oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.

Pada saat yang sama, BI juga memenuhi pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Lanjut ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau mengalami sedikit perubahan pada perdagangan kemarin ke level 7.168% dari hari sebelumnya di level 7.167%.

Hal ini mengindikasikan bahwa pasar obligasi tersebut lebih didominasi oleh aksi penjualan ketimbang dengan pembelian pada pasar sekunder.