B50 Jadi Penyangga Ketahanan Energi, Airlangga: Harga Pertalite Tak Akan Naik hingga Akhir Tahun
Esha Tri Wahyuni
| 6 Agustus 2026, 12:43 WIB

Ilustrasi antrean pertalite di SPBU Pertamina
AKURAT.CO Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026.
Kepastian tersebut diberikan di tengah ketidakpastian harga minyak mentah dunia yang masih dipengaruhi konflik geopolitik, termasuk situasi di kawasan Selat Hormuz.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah menyiapkan ruang fiskal sehingga harga Pertalite tetap dapat dipertahankan hingga Desember tahun ini.
Baca Juga: Update Harga BBM Pertamina Hari Ini 21 Juli 2026, Cek Tarif Pertalite hingga Pertamax Terbaru!
"Untuk Pertalite, dijamin harga sampai bulan Desember aman. Jadi ini sudah masuk dalam buffer," kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu Malam (5/8/2026).
Menurut Airlangga, kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar harga BBM bersubsidi tetap dijaga demi melindungi daya beli masyarakat di tengah volatilitas harga energi global.
Di sisi lain, pemerintah tetap membuka peluang penyesuaian harga BBM non-subsidi apabila harga Indonesian Crude Price (ICP) mengalami penurunan. Kebijakan tersebut telah mulai diterapkan oleh PT Pertamina (Persero) melalui penyesuaian harga per 1 Agustus 2026.
Harga Pertamax turun dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter. Sementara Pertamax Green 95 turun dari Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter, sedangkan Pertamax Turbo turun dari Rp19.300 menjadi Rp18.300 per liter.
Berbeda dengan BBM non-subsidi, harga BBM bersubsidi tidak berubah. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar dipatok Rp6.800 per liter.
Airlangga menambahkan, ketahanan sektor energi juga diperkuat melalui implementasi biodiesel B50. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar, tetapi juga meningkatkan ketahanan energi nasional saat harga minyak dunia bergejolak sekaligus menekan beban subsidi energi dalam APBN.
"Arahan Bapak Presiden juga di tengah ketidakpastian perang di Selat Hormuz, BBM tetap kita jaga resiliensinya. APBN sebagai shock absorber menjaga agar dengan diterapkannya B50 kita tidak lagi impor solar. Dengan harga sekarang, pemanfaatan subsidi relatif kecil untuk B50," ujar Airlangga.
Airlangga menilai kombinasi kebijakan menjaga harga BBM subsidi dan memperluas penggunaan biodiesel menjadi strategi pemerintah untuk meredam dampak lonjakan harga minyak global terhadap perekonomian domestik, sekaligus menjaga stabilitas harga energi bagi masyarakat hingga akhir tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





