Awas! Dokter Sebut Paparan Berulang BPA Bisa Ganggu Kesuburuan Perempuan
Jakarta -
Paparan bisfenol A (BPA) secara berulang menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi. Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Budi Wiwieko menjelaskan BPA yang masuk ke dalam tubuh akan diproses oleh hati sebelum dikeluarkan melalui urine.
Menurut Prof. Budi, proses tersebut merupakan mekanisme tubuh untuk menonaktifkan BPA. Namun, tidak seluruh zat yang telah diproses bisa dikeluarkan melalui urine.
"BPA atau bisfenol, dia bisa dimetabolisme, ya, di hepar, ya, diinaktivasi. Jadi, kalau ada bisfenol di dalam darah akan diinaktivasi, dideaktivasi oleh enzim yang dilepaskan oleh hati," jelas Prof. Budi kepada detikcom, Jumat (9/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, BPA yang telah dinonaktifkan akan dikeluarkan melalui urine. Meski demikian, masih ada sebagian kecil yang disebut dapat tertinggal dan terakumulasi di dalam tubuh.
"Tetapi kemudian, tidak 100% BPA atau bisfenol yang sudah dideaktivasi itu bisa dikeluarkan melalui urine. Ada sisa-sisa, ya, 5 sampai 10% yang kemudian itu akan terakumulasi di dalam tubuh," sambungnya.
Ia pun mengingatkan potensi paparan berulang dari berbagai sumber, termasuk makanan dan minuman. Jika berlangsung terus-menerus, akumulasi BPA disebut dapat menjadi perhatian bagi kesehatan perempuan.
"Inilah yang kemudian bisa membahayakan kalau seorang perempuan terus-menerus, ya, terekspos dengan bisfenol, ya, apakah itu melalui makanan, melalui minuman, ya, sehingga sedikit demi sedikit ini akan terakumulasi di dalam tubuh," tuturnya.
Selain itu, Prof. Budi menjelaskan, akumulasi BPA dalam jumlah tertentu berpotensi mengganggu fungsi hormon reproduksi. Kondisi tersebut dikaitkan dengan risiko gangguan kesuburan dan masalah kesehatan pada organ reproduksi lainnya.
"Nah, kalau jumlahnya sudah banyak, dia akan mengganggu tadi, ya, fungsi-fungsi hormon reproduksi yang tentunya akan sangat berbahaya, menyebabkan gangguan kesuburan dan penyakit-penyakit organ reproduksi lainnya," katanya.
Selain paparan dari makanan dan minuman, penggunaan kemasan secara berulang juga menjadi hal yang disoroti. Salah satu contohnya adalah galon guna ulang yang melalui proses pencucian berkali-kali dan berpotensi terpapar sinar matahari.
Menurut Prof. Budi, kedua kondisi tersebut perlu diperhatikan karena dinilai dapat meningkatkan kandungan BPA dalam air yang tersimpan di dalam kemasan.
"Dan kita tahu juga risiko-risiko bila menggunakan kemasan yang digunakan berulang, ya salah satu contoh galon, ya, isi (guna) ulang, yaitu salah satu risikonya dengan dia dicuci, pencucian berulang kali, exposure dengan sinar matahari, itu juga justru akan meningkatkan kandungan BPA di dalam air yang ada di dalam kemasan tersebut," ujarnya.
(akn/ega)