gop-crypto.vip

Asing Cabut, Investor Lokal Dominasi Pasar Mayoritas Ritel dan Pemula

Senin, 31 Agustus 2026, 17:55 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

CEO Ajaib Group Anderson Sumarli mengatakan pertumbuhan jumlah investor saham di Indonesia menjadi salah satu perkembangan penting dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut terjadi ketika pendanaan asing ke perusahaan teknologi Indonesia justru mengalami penurunan tajam.

"Ketika modal asing keluar, justru masyarakat Indonesia masuk. Dalam 8 bulan terakhir, luar biasa angka investor baru di Indonesia, sehingga investor saham sudah melampaui lebih dari 10 juta orang. Dan hampir seluruhnya adalah investor ritel di tanah air," ujar Anderson dalam konferensi pers Ajaib Group, Senin (31/8/2026).

Menurut Anderson, fenomena tersebut menunjukkan masyarakat Indonesia mulai mengambil peran lebih besar dalam pasar modal. Investor ritel tidak hanya masuk ketika pasar sedang mengalami kenaikan, tetapi juga memanfaatkan momentum ketika harga saham mengalami penurunan.

"Mereka tidak mengejar kenaikan saham, melainkan mereka justru lagi masuk pas saham turun dulu," katanya.

Anderson mengatakan tren tersebut juga tercermin dari profil nasabah Ajaib. Saat ini, hampir 7 juta pengguna berinvestasi melalui platform Ajaib dan mayoritas merupakan investor ritel.

Dia menyebut lebih dari 80% nasabah Ajaib merupakan investor pemula. Mereka didominasi anak muda yang baru mulai mengenal dan melakukan investasi di pasar modal.

"Sebagian besar dari mereka baru pertama kali berinvestasi. Seperti yang disampaikan Pak Andi, lebih dari 80 persen dari nasabah kita adalah pemula. Anak muda, baru mulai berinvestasi," ujar Anderson.

Menurut dia, para investor tersebut juga tidak hanya berasal dari kota-kota besar. Nasabah Ajaib berasal dari berbagai daerah dan lapisan masyarakat di Indonesia.

Mereka dapat membuka rekening investasi melalui telepon genggam dalam hitungan menit tanpa setoran minimal. Kondisi tersebut dinilai semakin mempermudah masyarakat untuk mulai berinvestasi.

Anderson mengatakan sebagian investor ritel memulai investasi dengan menyisihkan sebagian kecil pendapatan setiap bulan. Bahkan, tidak sedikit yang pada awalnya hanya mampu membeli satu lot saham.

"Ini adalah orang yang setiap gajian mereka menyisihkan sedikit. Kadang cuma cukup untuk beli satu lot saham," ujarnya.

Dia menilai kebiasaan tersebut merupakan bagian dari proses masyarakat untuk belajar berinvestasi. Menurutnya, pengalaman membeli saham pertama kali, meski dengan nilai kecil, dapat menjadi proses pembelajaran mengenai investasi dan dinamika pasar.

Anderson juga menyinggung kebijakan yang akan menurunkan batas minimal pembelian saham dari 100 lembar menjadi satu lembar. Dengan kebijakan tersebut, dia memperkirakan nilai minimum untuk membeli saham dapat semakin terjangkau.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.